Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Survei Oslo University, Jokowi Tokoh Populis

Penelitian UGM bekerja sama dengan Oslo University Norwegia mengungkap kondisi demokrasi Indonesia 2013 yang salah satu temuannya adalah politik Indonesia mengarah pada populisme.
Akhirul Anwar
Akhirul Anwar - Bisnis.com 25 Februari 2014  |  18:30 WIB
Survei Oslo University, Jokowi Tokoh Populis
Ilustrasi - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Penelitian UGM bekerja sama dengan Oslo University Norwegia mengungkap kondisi demokrasi Indonesia 2013 yang salah satu temuannya adalah politik Indonesia mengarah pada populisme.

Strategi politik populisme adalah memperluas basis dukungan pro rakyat dengan cara membuat koneksi langsung antara pemimpin dengan rakyat. Politik seperti ini memunculkan memanjakan kalangan bawah dengan memunculkan apa yang disukai rakyat. Selain itu aktornya berupaya menyederhanakan kebijakan.

Menurut Rektor UGM Pratikno, strategi populis sangat efektif untuk mobilisasi pemilih karena harus mendekat langsung kepada kalangan grassroot tanpa perantara atau tanpa patron. Tapi cara seperti ini perlu dikritisi karena setelah menang belum tentu populis lagi.

Sebenarnya cara berpolitik seperti ini dekat dengan tipe kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Tokoh terpopuler dalam seabrek survei capres tersebut memang unggul dalam hal interaksi langsung dengan kalangan bawah.

Pratikno menilai Jokowi yang juga sebagai alumni UGM menjadi orang yang populer karena dinamika demokrasi yang menuntutnya seperti itu. "Itu kan mekanisme demokrasi," katanya disela-sela pemaparan hasil survei demokrasi Indonesia di Gedung Nusantara V DPR RI Jakarta, Selasa (25/1/2014).

Yang terpenting, lanjut Pratikno, populisme seharusnya menjadi ideologi populis yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat, bukan hanya sekedar cuma memobilisasi pemilih untuk memenangkan pemilu saja. Oleh karena itu populisme juga perlu kehadiran negara.

Pengamat Politik UGM Ari Dwipayana menanggapi hasil survei tersebut mengatakan populisme memungkinan politisi menjangkau ke bawah untuk berinteraksi langsung dengan kalangan grassroot.

"Ini bentuk baru perpolitikan langsung ke bawah dengan menghasilkan kesejahteraan. Dalam kerangka pemikiran masyarakat ada pergeseran ekspektasi yang cukup besar, kesejahteraan itu adalah harapan yang muncul dalam proses politik," katanya.

Ekspektasi yang berkembang di masyarakat, mengharapkan pelayanan publik yang lebih baik dan kebutuhan dasar yang lebih baik ketika ada politikus datang ke daerahnya. Sehingga dalam penelitian tersebut politik Indonesia sudah bergeser dari Patronase yang berbasis birokrasi kepada populisme yang cenderung terjun langsung ke kalangan bawah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jokowi
Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top