Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hunian Pekerja di Bodetabek Terkendala Harga Lahan

Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) mengakui kesulitan untuk menambah pasokan rumah untuk pekerja industri di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang dengan semakin tingginya harga lahan.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 11 September 2014  |  19:56 WIB

Bisnis.com, CIKARANG-Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) mengakui kesulitan untuk menambah pasokan rumah untuk pekerja industri di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang dengan semakin tingginya harga lahan.

Abun Yamin Syam, Kordinator Wilayah IV DPD Apersi Jawa Barat, menuturkan kebutuhan hunian bagi para pekerja Industri di Bekasi, Karawang, Purwakarta dan Subang masih sangat besar.

Sementara itu, jelasnya, pasokan yang dapat disediakan pengembang cukup terbatas.

"Ini menjadi beban moral terhadap pekerja, sebab kita lihat pada pekan rumah sejahtera untuk 4 kabupaten baru-baru ini. Animo pekerja dan masyarakat sangat besar, banyak yg datang, namun persediaan terbatas," ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (11/9).

Keterbatasan itu, jelas Abun, disebabkan semakin melambungnya harga tanah di Kabupaten Bekasi dan Karawang.

Saat ini, ungkapnya, kisaran harga lahan yang tepat bagi pengembangan hunian pekerja di dua kabupaten itu sudah mencapai Rp250.000-Rp350.000.

Dengan begitu, lanjutnya, pengembang menghadirkan rumah sejahtera yang di patok dengan harga terjangkau bagi pekerja industri.

"Masalah harga tanah, sehingga sekarang pengembang, tidak memungkinkan memenuhi target pasokan rumah pekerja," ungkapnya.

Dia menuturkan sebenarnya lahan yang memungkinkan bagi pengembangan rumah pekerja di wilayah tersebut masih tersedi, tetapi berada di pinggiran kabupaten. Tentu saja, sambung Abun, para pekerja enggan untuk membeli unit hunian tersebut.

"Walaupun ada di bawah Rp100 juta lokasinya ke kawasan industri terlalu jauh. Menambah biaya transportasi lagi."

Kondisi itu, kata Abun, saat ini  menyebabkan pengembang Apersi kesulitan untuk menambah lahan baru bagi pengembangan rumah pekerja. Apalagi, jelasnya, kenaikan harga lahan setiap tahun diprediksi terus bertambah di kisaran 20%-30%.

Oleh karena itu, dia menuturkan asosiasi berharap pemerintah daerah dapat memberikan bantuan kepada pengembang seperti pemanfaatan lahan-lahan milik pemerintah bagi pengembangan hunian pekerja, pembangunan fasilitas dan sarana infrastruktur, listrik, serta mempermudah perizinan.

"Kita akan bermitra dengan pemda untuk fasos-fasum. Jadi, tolong diperhatikan," imbuhnya.

Adapun, pada 2013 Apersi melaksanakan pembangunan 50.000 rumah untuk pekerja di seluruh Indonesia. Rumah untuk pekerja itu dibangun di sekitar kawasan industri untuk mengurangi biaya mobilisasi serta mempermudah pekerja mencapai tempat bekerja.

Ketua Umum DPP Apersi (versi munas Pontianak) Eddy Ganefo menatakan adanya rumah pekerja tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para pekerja sehingga mereka juga lebih tenang dalam bekerja.

Apersi, jelasnya, berfokus pada pembangunan rumah di kawasan industri di daerah Bekasi, Karawang, Cikampek, Cirebon dan Banten.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hunian apersi harga lahan
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top