Jumlah Kasus DBD di Jakarta 1.042 dan Lima Meninggal

Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta hingga Maret 2015 ini tercatat 1.042 kasus yang terjadi dengan jumlah korban jiwa ada lima orang namun hal tersebut menunjukan penurunan dari periode sebelumnya.
Martin Sihombing | 17 Maret 2015 17:45 WIB
Di Jakarta terjadi 1.042 kasus demam berdarah dengue (DBD). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta hingga Maret 2015 ini tercatat 1.042 kasus yang terjadi dengan jumlah korban jiwa ada lima orang namun hal tersebut menunjukan penurunan dari periode sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kusmedi di Balai Kota Jakarta, Selasa (17/3/2015) mengatakan, pada 2014 dalam kurun waktu yang sama hingga bulan Maret mencapai 3.408 kasus dan wilayah yang paling tinggi adalah di Jakarta Selatan yang berada di daerah Pancoran, Kebayoran Baru, Cilandak, Tebet dan Pesanggarahan.

"Kebanyakan memang daerah selatan, dulu timur, sekarang selatan yang paling tinggi," katanya.

Kusmedi mengatakan dirinya belum mengetahui mengapa di wilayah selatan kasus DBD jadi tinggi. Tapi saat ini dilakukan inspeksi, dengan mengerahkan pemberantasan sarang nyamuk di 57 titik.

"Sabtu nanti 41 titik fokus, minggu 24 titik fokus. Hari ini pun ada kesepakatan dengan walikota jakarta selatan melawan nyamuk," katanya.

Dia menambahkan total kasus pada 2014 mencapai sekitar 8.000 lebih kasus dan dirinya mendapat ini biasanya dari puskesmas atau rumah sakit. Dari data yang ada, kemudian dilakukan investigasi ke daerah.

"Kalau investigasi di sana positif, banyak jentik dan sebagainya, maka kami lakukan pengasapan. Tapi kalau negatif, dilakukan pemberantasan sarang nyamuk disertai pemberian larvadisasi dengan bubuk abate," ujarnya.

Kusmedi menjelaskan pihaknya tidak melayani warga minta foging, tapi melayani PSN berdasarkan kasus ataupun kecurigaan terhadap daerah yang mengkhawatirkan tapi warga tidak dikenakan biaya karena anggarannya sudah ada di masing-masing Puskesmas.

"Tapi jika masyarakat tetap memaksa ingin fogging, harus ada kesepakatan dengan RT/RW setempat sebagai inisiatif warga," katanya.

Terkait dengan honor bagi Juru Pemantau Jentik, Kusmedi mengatakan sudah mengusulkan untuk menaikannya. Jumantik tersebut beroperasi di setiap kelurahan dengan pembinaan di dinas kesehatan, tapi orangnya dari kelurahan.

Dengan datangnya musim pancaroba, Kusmedi berharap masyarkat berpartisipasi dalam upaya pemberantasan sarang nyamuk serta mengingatkan kepada anak-anak, yang umumnya dari pukul 09.00 hingga 03.00 ada di sekolah, agar menghindari tempat yang berpotensi sebagai sarang nyamuk.

"Kebanyakan korban DBD yang meninggal berusia 5 hingga12 tahun. Jadi kebanyakan memang, anak-anak. Mohon kepada masyarkat untuk mengingatkan kepada guru-guru di sekolah anaknya tentang kebersihan lingkungan," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dbd

Sumber : Antara
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top