Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

10 Kukang Sumatera Hasil Sitaan Dilepas ke Lampung

Pusat penyelamatan dan rehabilitasi primata Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melepaskan 10 kukang hasil sitaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat di Serang, Banten pada November 2013
Miftahul Khoer
Miftahul Khoer - Bisnis.com 21 Oktober 2015  |  17:13 WIB
10 Kukang Sumatera hasil sitaan dilepas ke Lampung. -
10 Kukang Sumatera hasil sitaan dilepas ke Lampung. -

Bisnis.com, BOGOR Pusat penyelamatan dan rehabilitasi primata Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melepaskan 10 kukang hasil sitaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat di Serang, Banten pada November 2013.

Koordinator Manajemen Satwa YIARI, Wendi Prameswari mengatakan 10 kukang Sumatera itu dilepaskan ke kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Kamis 15 Oktober 2015.

Kukang yang kami lepas liarkan terdiri dari 6 kukang betina dan 4 kukang jantan. Mereka bernama Mix, Lina, Binok, Gisel, Kabut, Piala, Usum, Raffi, Indo dan Alex, ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.com, Rabu (21/10/2015).

Dia menuturkan 10 primata nokturnal itu merupakan barang bukti dan dititiprawatkan di pusat rehabilitasi YIARI Ciapus, Bogor, yang sejak 2013 kukang dipulihkan sifat liarnya untuk dikembalikan ke habitat alami.

Menurutnya, Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan medis, proses karantina, dan tahapan rehabilitasi seperti pengenalan pakan alami, kukang dilepasliarkan secara bertahap.

Dari hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan kukang baik, tidak membawa penyakit dan kondisi tulangnya bagus. Mereka sudah selesai menjalani masa rehabilitasi sehingga bisa masuk tahapan selanjutnya untuk lepas liar, paparnya.

Dia menjelaskan awalya kukang dipindahkan terlebih dahulu ke kandang habituasi yang terletak di kawasan Hutan Lindung Batutegi untuk proses adaptasi.

Bentuk kandang habituasi atau rumah sementara kukang adalah lahan terbuka dikelilingi fiber plastik yang di dalamnya tumbuh berbagai jenis pepohonan hijau untuk pakan dan tempat tidur kukang.

Selama sekitar satu hingga tiga bulan, kukang dibiarkan beradaptasi dengan habitat dan pakan alaminya, ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Staf Survey Release Monitoring (SRM) YIARI Muhidin mengatakan saat kukang berada di kandang habituasi, aktivitas kukang dipantau oleh tim monitoring untuk mengetahui perkembangan perilakunya.

Muhidin memaparkan, Setiap malam tim melakukan monitoring untuk melihat perilaku kukang. Apabila kondisinya bagus dan sudah bisa beradaptasi dengan alam dan bisa survive, maka kukang tersebut bisa dilepas ke habitatnya di kawasan KPH Batutegi Lampung.

Untuk memudahkan pengamatan, lanjutnya, kukang terlebih dahulu dipasang radio collar di bagian leher.

Radio collar berfungsi sebagai pengirim sinyal yang nantinya ditangkap oleh antenna dan menimbulkan bunyi di receiver (penerima sinyal). Bunyi yang keluar dari receiver itu membantu tim monitoring untuk menemukan keberadaan kukang di alam.

Menurutnya, pemindahan kukang di kawasan Hutan Lindung Batutegi merupakan kerja sama program konservasi kukang sumatera antara YIARI dengan KPHL Lampung dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung.

Pada Oktober 2015 ini ada dua lokasi pulau di Bendungan Batutegi Lampung yang dijadikan sebagai kandang habituasi dan lepaslir yaitu Pulau Talang Randai dan Talang Ajir.

Selama proses adaptasi di kandang habituasi hingga lepasliar, tim YIARI melakukan pemantauan di kedua lokasi tersebut.

Sejak tahun 2009 ada 104 kukang hasil rehabilitasi YIARI yang sudah dilepasliar di kawasan Hutan Lindung Batutegi Lampung. Sementara saat ini ada sekitar 141 kukang di Pusat Rehabilitasi YIARI Ciapus, Bogor.

Kukang tersebut berasal dari hasil penyitaan perdagangan ilegal dan serahan dari pemelihara.

Kukang atau yang dikenal dengan si malu-malu merupakan primata yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kebun binatang ragunan
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top