Pasar Rakyat Bersubsidi Bebaskan Sewa Di Tiga Tahun Pertama

Empat pasar rakyat bersubsidi yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan PD Pasar Jaya hari ini menerapkan sistem sewa bersubsidi selama tiga tahun pertama. Keempat pasar tersebut antara lain Pasar Sinar di Koja, Pasar Bidadari di Kayu Putih, Pasar Cawang Kavling di Cawang Baru Utara, dan Pasar Karet Belakang (Karbela) di Karet, Setiabudi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 29 Desember 2017  |  13:43 WIB
Pasar Rakyat Bersubsidi Bebaskan Sewa Di Tiga Tahun Pertama
Pedagang menata daging sapi yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (16/5). - Antara/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Empat pasar rakyat bersubsidi yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan PD Pasar Jaya hari ini menerapkan sistem sewa bersubsidi selama tiga tahun pertama.

Keempat pasar tersebut antara lain Pasar Sinar di Koja, Pasar Bidadari di Kayu Putih, Pasar Cawang Kavling di Cawang Baru Utara, dan Pasar Karet Belakang (Karbela) di Karet, Setiabudi.

Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasrudin mengatakan pasar rakyat bersubsidi tersebut memberikan gratis sewa kios dan los selama tiga tahun. "[Sewa] bisa ditambah ketika pedagangnya masih memerlukan proses inkubasi. Ini sudah masuk dalam ketentuan kami," ujarnya saat meresmikan empat pasar rakyat secara simbolis di Pasar Senen, Jumat (29/12/2017).

Arief mengharapkan revitalisasi pasar bisa meningkatkan pelayanan karena persaingan semakin ketat dengan munculnya pasar-pasar modern. Meski demikian, dia meyakini karakteristik khas pasar tradisional yang tidak dapat ditemukan di pasar modern masih menjadi idaman masyarakat.

"Kami pastikan seluruh kualitas barang yang dijual harus baik. Kami juga sediakan timmbangan bagi pembeli untuk mengecek sendiri berat barang yang dibeli," terangnya.

Pembangunan revitalisasi keempat pasar ini memakan waktu hampir satu tahun sejak Januari 2017. Keempat pasar bersubsidi itu dibangun dengan menggunakan penanaman modal daerah provinsi DKI Jakarta sehingga pedagang hanya akan dikenakan biaya operasional bulanan melalui sistem Cash Management System (CMS) melalui Bank DKI.

Pasar Sinai dibangun di atas lahan seluas 1.860 meter persegi dengan luas bangunan 1.496 meter persegi yang menampung 153 unit tempat usaha yang sudah termasuk 148 unit usaha eksisting. Sementara itu, Pasar Bidadari dibangun di atas lahan seluas 3.004 meter persegi dengan luas bangunan 2.553 meter persegi dan tersedia 146 unit tempat usaha, 89 unit diantaranya adalah usaha eksisting.

Adapun Pasar Cawang Kavling berdiri di lahan seluas 2.754 meter persegi dengan luas bangunan 2.255 meter persegi dan tempat usaha yang tersedia sebanyak 306 unit, 304 unit diantaranya merupakan usaha eksisting. Terakhir, Pasar Karet Belakang (Karbela) dibangun di atas lahan seluas 2.868 meter persegi dengan luas bangunan 2.438 meter persegi.

Tersedia 372 unit tempat usaha yang diantaranya adalah 369 usaha eksisting.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan dengan dibangunnya revitalisasi pasar, tantangan selanjutnya adalah upaya mempertahankan agar pasar tetap nyaman. Selain itu, diharapkan agar seluruh pasar di DKI dapat beroperasi secara efisien.

"Biaya pengelolaan [yang ditarik] dari pedagang itu murah, sehingga harga jual untuk warga bisa rendah. Saya berharap nanti kebijakan dan aturan dibuat berpihak kepada rakyat kebanyakan," tuturnya.

Anies menjanjikan setiap pasar di DKI dapat memfasilitasi kebutuhan kegiatan jual beli dengan mempertimbangkan kapasitas pasar dan aspek kenyamanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pasar tradisional

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top