GROUNDBREAKING TOD DUKUH ATAS: MRT Jakarta Siapkan Empat Strategi

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta mempersiapkan empat strategi membangun kawasan transit terpadu (transit oriented development/TOD) khususnya di stasiun Dukuh Atas, Jakarta Pusat.
Feni Freycinetia Fitriani | 28 Maret 2018 19:45 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan konstruksi mass rapid transit di Jakarta, Senin (8/1). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA--PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta mempersiapkan empat strategi membangun kawasan transit terpadu (transit oriented development/TOD) khususnya di stasiun Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Direktur PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan ada beragam jenis dan kualitas pengembangan kawasan eksisting, seperti menara kantor dan komersial, hotel, apartemen, retail mall, ruko, perumahan, bahkan kampung kota.

"Stasiun Dukuh Atas dipilih sebagai percontohan karena ingin menjadikan kawasan TOD tersebut sebagai gerbang internasional menuju pusat kota Jakarta," katanya saat konferensi pers Forum Jurnalis dan Blogger MRT Jakarta, Rabu (28/3/2018).

PT MRT Jakarta, yang juga menjadi operator utama TOD koridor I fase I Lebak Bulus-Bunderan HI, menyiapkan empat strategi. Pertama, menyediakan koneksi transit yang aman dan nyaman. Beberapa hal yang akan dilaksanakan a.l. pengembangan ruang terbuka publik di atas stasiun MRT dan pedestrianisasi terowongan jalan Kendal-Tanjung Karang untuk pergerakan jalur lambat.

Bukan itu saja, William berencana mengembangkan (upgrading) jl Sudirman sebagai rencana jangka panjang untuk menciptakan konektivitas ang baik dan menghubungkan antar stasiun-stasiun transit.

Koneksi pedestrian stasiun Sudirman-Aiport Link. Dia menambahkan nantinya stasiun Sudirman, stasiun kereta bandara, dan stasiun MRT Dukuh Atas akan dihubungkan dengan koridor pedestrian yang berada di jalan Kendal (bawah flyover) dan nantinya akan terhubung dengan artificial deck.

"Pedestrianisasi atau pembangunan kawasan khusus bagi pejalan kaki sangat penting untuk pergerakan transit warga. Rencana pemerintah memindahkan pemilik kendaraan pribadi ke transportasi umum tidak akan sukses apabila pejalan kaki harus bertarung dengan pengemudi motor," imbuhnya.

Kedua, pemanfaatan aset pemerintah. Selain membangun kawasan khusus pejalan kaki, MRT Jakarta juga ingin mengembangkan lahan bekas Pasar Blora menjadi bangunan berfungsi campuran (mixed building). Bukan itu saja, William menambahkan pihaknya akan membangun ruang terbuka publik dan transit plaza.

Ada pula public easement dan akses tembus melalui persil bangunan untuk pejalan kaki.

"Mixed building di eks Pasar Blora juga akan dimanfaatkan menjadi kantor MRT Jakarta," katanya.

Ketiga, penyediaan ruang terbuka publik. Dia mengatakan ruang terbuka publik akan dibangun di transit plaza dan area drop off stasiun BNI City. MRT Juga berencana mengembangkannya di atas lahan stasiun MRT. Selain itu, akan dilakukan reaktivasi area di sepanjang tepian sungai Ciliwung.

Terakhir, peningkatan kualitas hidup melalui redevelopment. William mengatakan beberapa kegiatan yang akan dilakukan a.l. revitalisasi permukiman rakyat di sekitar Waduk Melati untuk peningkatan kualitas fisik kampung kota, pengembangan fasilitas permukiman raktar berupa rumah susun di sekitar fasilitas transit, dan pembangunan area publik di antara bangunan modern dan kawasan permukiman rakyat.

"Untuk pengembangan TOD, kami mengedepankan partisipasi publik. Warga kampung yang tinggal di sekitar TOD wajib tahu bahkan ikut serta dalam perencanaan," ungkapnya.

Seperti diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dijadwalkan melaksanakan peletakan batu pertama atau ground breaking TOD Dukuh Atas, Jakarta Pusat besok Kamis (29/3/2018). Prosesi grounbreaking akan dipusatkan di gedung bekas Pasar Blora yang berlokasi dekat stasiun Sudirman, Jakarta Pusat.

Tag : mrt
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top