UEA Berminat Garap Sektor Pariwisata DKI

Pelaku usaha asal Uni Emirat Arab mempertimbangkan untuk berinvestasi di sektor pariwisata Ibu Kota.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 09 April 2018 20:53 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelaku usaha asal Uni Emirat Arab mempertimbangkan untuk berinvestasi di sektor pariwisata Ibu Kota.

Rinaldi, Kepala Seksi Komunikasi dan Informasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta, mengatakan bahwa pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah memberikan berbagai pilihan kepada calon penanam modal asal Uni Emirat Arab (UEA) untuk menentukan investasinya.

Adapun beberapa proyek yang ditawarkan, yakni pembangunan Pasar Jaya Distribution Channel (Traditional Market Revitalization), Pulomas Office Park, PuloMas City (Ria-Rio), Jakarta Equestrian Park (Ria-Rio), JakPro Waterfront City, dan JIEP Urbantown.

Selain itu, beberapa program transit oriented development (TOD) juga ditawarkan oleh Pemprov DKI yang di antaranya seperti TOD Lebak Bulus--Tangerang Selatan, TOD Cipete District, TOD Bundaran HI, TOD Sentra Primer Tanah Abang (SPTA), TOD Lebak Bulus.

Kendati demikian, salah satu yang menjadi perhatian utama dari para pelaku bisnis di UEA, yaitu pengembangan sektor pariwisata di Kepulauan Seribu.

"Sektor pariwisata, terutama Kepulauan Seribu paling diminati [investor]," kata Rinaldi kepada Bisnis, Senin (9/4/2018).

Seperti diketahui, Pemprov DKI Jakarta melalui DPMPTSP menginisiasi acara bertajuk Jakarta Business Forum di Dubai, UEA untuk menggaet para calon investor.

Acara ini dihadiri lebih dari 100 pengusaha di UEA, termasuk perusahaan Emaar dan Damac yang merupakan pengembang real estate terkemuka dunia.

Dia menilai UEA terpilih sebagai tempat acara ini diselenggarakan karena negara tersebut memiliki kemampuan finansial kuat. Selain itu, UEA kini sedang melebarkan sayap bisnisnya untuk berinvestasi di sektor pariwisata dan infrastruktur seperti yang dibutuhkan oleh Ibu Kota.

Menurutnya, para pelaku bisnis asal UEA ini akan diarahkan untuk berinvestasi dengan skema kerjasama antara pemerintah dan badan usaha (KPBU). Namun, tidak menutup kemungkinan terhadap berbagai skema selain KPBU tersebut.

"Sejauh ini mereka tertarik, namun masih mempertimbangkan," ujarnya.

Iklim Investasi

Sementara itu, Ekonom The Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai langkah Pemprov DKI untuk menggaet calon investor dari salah satu negara di Timur Tengah merupakan kebijakan yang tepat. Hal ini karena Pemprov DKI sedang menggenjot berbagai pembangunan di sektor infrastruktur yang dapat melibatkan pihak investor.

"Hambatan utama tahun ini hanya tahun politik, selain itu perekonomian Indonesia masih menunjukkan [gairah] yang bagus. Bahkan, pertumbuhan perekonomian di Jakarta sekitar 6% atau lebih pesat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia [sekitar 5%]," kata Bhima kepada Bisnis, Senin (9/4/2018).

Menurutnya, para investor akan mempertimbangkan indikator seperti realisasi investasi Tanah Air tahun lalu yang mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Adapun nilai pertumbuhan pada tahun lalu mencapai sebesar 13,1%, bahkan pada tahun ini diprediksi akan naik kembali sebesar 13,5%.

Selain itu, dia menambahkan saat ini berbagai negara di Timur Tengah semisal Arab Saudi mulai mengincar bisnis di sektor non-minyak.

Bahkan pada 2030, Arab Saudi berencana untuk melepas ketergantungan bisnis di sektor minyak.

"Kini tinggal Pemprov DKI Jakarta bisa atau tidak menawarkan produk yang membuat mereka tertarik," ungkapnya.

Kendati demikian, Bhima menekankan, untuk menjaga iklim investasi yang kondusif maka Pemprov DKI jangan mengambil manuver yang bisa merugikan dunia usaha.

"Menjamin kepastian hukum yang jelas, jangan seperti kasus reklamasi Teluk Jakarta," imbuhnya.

Tag : uea, pariwisata dki
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top