Ini Perbedaan Kereta MRT Jakarta dengan KRL

Perbedaan signifikan antara KRL dengan MRT terdapat pada sistem.
Feni Freycinetia Fitriani | 12 April 2018 18:22 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah) meninjau lokasi Depo Mass Rapid Transit (MRT) Lebak Bulus, di Jakarta, Kamis (12/4/2018). - JIBI/Feni Freycinetia

Bisnis.com, JAKARTA--12 gerbong atau dua rangkaian kereta mass rapid transit (MRT) telah diparkir di depo Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Bak primadona baru, sebagian besar mata warga Ibu Kota tertuju pada kereta listrik berwarna biru dan abu-abu metalik tersebut. Selain bentuknya yang modern, kereta buatan pabrik Nippon Sharyo Ltd. Jepang tersebut ternyata memiliki teknologi yang tak kalah canggih.

Lantas apa perbedaan gerbong MRT Jakarta ini dengan kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI)?

Direktur PT MRT Jakarta William Sabandar memberikan beberapa bocoran tentang kelebihan rolling stock MRT dengan moda transportasi berbasis rel lain, khususnya KRL yang saat ini dikenal oleh penumpang. "Yang pertama, [kereta MRT] baru dan menjadi back bone transport vision," katanya di depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (12/4/2018).

Sebagai informasi, KRL yang dibeli PT KCI merupakan kereta bekas yang sebelumnya digunakan oleh Tokyo Metro. Tokyo Metro sendiri adalah operator KRL kenamaan yang selama ini beroperasi di wilayah Tokyo, Jepang.

William melanjutkan perbedaan signifikan antara KRL dengan MRT terdapat pada sistem. Dia menuturkan rolling stock MRT Jakarta dioperasikan menggunakan teknologi Communications-based Train Control (CBTC). CBTC merupakan salah satu sistem tercanggih di dunia saat ini. "Berbeda dengan kereta lain, pengoperasian MRT Jakarta dilakukan dari pusat pengendali [control system] bukan kereta," lanjutnya.

Karena dikontrol dari pusat pengendali, kereta MRT Jakarta memiliki ketepatan waktu yang sangat bagus. William menuturkan waktu berangkat, berhenti, bahkan titik pemberhentian pintu kereta diset sesuai pengaturan (template).

Hal itu, lanjutnya, membuat kereta MRT Jakarta tidak akan mengalami keterlambatan sejauh sistem di pusat berjalan lancar. "Yang mengoperasikan itu komputer, jadi bisa dibilang hampir sepenuhnya otomatis," imbuhnya.

Meski demikian, PT MRT Jakarta tetap mempekerjakan masinis setiap kali kereta beroperasi. Hal itu untuk mengantisipasi situasi darurat yang mungkin terjadi di lapangan. "Peran masinis itu ada pada saat menutup pintu kalau ada situasi-situasi emergency, itu paling yang membedakan," kata William.

Seperti diketahui, dua rangkaian kereta yang tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada Rabu pagi (4/4) merupakan pengiriman pertama dari total 16 rangkaian atau 96 gerbong kereta yang dipesan dari pabrik Nippon Sharyo, Jepang.

Proses pengiriman kereta MRT Jakarta melalui beberapa proses. Pertama, jadwal pengiriman dari pabrik Toyokawa ke Pelabuhan Toyohashi mulai 21 Februari hingga 28 Februari. Selanjutnya, dilakukan perakitan dan pengepakan kereta di Pelabuhan Toyohashi mulai 23 Februari hingga 3 Maret. Lalu, pengangkatan (lifting) dari pelabuhan Toyohashi ke kapal laut mulai tanggal 5-7 Maret.

Di Depo Lebak Bulus, sudah tersedia workshop dan halaman yang cukup luas untuk penyimpanan kereta. Nanti kereta tersebut akan dirakit satu per satu di Depo. Setelah selesai dirakit, gerbong kereta akan disimpan sebelum dilakukan uji coba track Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Proses pengerjaan rolling stock tersebut sesuai dengan paket pengadaan atau tender CP-108 yang dimenangkan oleh Sumitomo Corporation pada Maret 2015. Sumitomo Corporation lantas menunjuk Nippon Sharyo, LTD. untuk memproduksi 16 rangkaian kereta rel listrik, dimana masing-masing rangkaian terdiri dari 6 kereta. Dengan demikian, Nippon Sharyo bertanggung jawab untuk memproduksi 96 gerbong kereta rel listrik.

Tag : mrt
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top