Proyek ITF Sampah Sunter Menunggu Kesepakatan Jakpro & PLN

Proyek Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter belum bisa dimulai apabila tipping fee dan power purchase agreement (PPA) antara PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dengan PT PLN belum disepakati.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 06 Februari 2019  |  17:46 WIB
Proyek ITF Sampah Sunter Menunggu Kesepakatan Jakpro & PLN
Truk pengangkut sampah mengantre di Tempat Pembuangan Sampah Sementara kawasan Sunter, Jakarta, Selasa (3/11). Dari catatan Dinas Kebersihan DKI Jakarta hingga Selasa (3/11), sebanyak 6500 ton sampah dari lima wilayah ibukota terbengkalai karena truk pengangkut tidak dapat masuk ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA–Proyek Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter belum bisa dimulai apabila tipping fee dan power purchase agreement (PPA) antara PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dengan PT PLN belum disepakati.

PT Jakpro menggunakan jasa konsultan internasional untuk menemukan angka tipping fee yang tepat dan nominal tersebut akan diajukan kepada DPRD DKI Jakarta sebagai landasan atas revisi Perda No. 3/2013 tentang Pengelolaan Sampah.

Melalui revisi tersebut tipping fee atau biaya pengelolaan sampah akan dimasukkan ke dalam perda yang dimaksud.

Dirut PT Jakpro Dwi Wahyu Daryoto pun menuturkan pendanaan dari proyek ITF Sunter melalui project funding yang bergantung pada nominal tipping fee dan PPA.

Apabila hingga Maret 2019 masih belum ada kejelasan soal nominal tipping fee dan PPA, maka PT Jakpro akan mengambil langkah untuk mendanai ITF Sunter melalui corporate financing.

"Ini harus saya siasati karena ini harus jadi karena kita punya misi yang sama untuk menyelesaikan masalah sampah," tutur Dwi, Rabu (6/2/2019).

Berdasarkan paparan PT Jakpro di Komisi D DPRD DKI Jakarta, Rabu (6/2/2019), total investasi yang diperlukan untuk membangun ITF Sunter sebesar US$250 juta.

Pembangunan dan pengoperasian ITF Sunter kedepannya akan dilaksanakan oleh perusahaan patungan yang dibentuk oleh PT Jakpro dengan mitranya yaitu Fortum Power Heat and Oy dengan PT Jakpro sebagai mayoritas dengan saham minimal 51%.

Investasi PT Jakpro pun berjalan bertahap selama 29 bulan dengan saham sebesar 20% pada saat pembangunan yang secara bertahap meningkat hingga 51% pada masa pengoperasian dan pemeliharaan.

"Sesuai dengan pendapat kejaksaan, kita boleh tidak mayoritas tapi nanti pada waktu operasional ketika bisa menghasilkan pendapatan kita baru mayoritas," imbuh Dwi.

ITF Sunter tersebut akan dikelola oleh perusahaan patungan selama 25 tahun dan setelahnya akan dikembalikan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Terkait sumber pendanaan, Dwi menuturkan pihaknya lebih mengutamakan pendanaan dari World Bank tetapi pihaknya terbuka dengan sumber-sumber pendanaan lain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sampah, jakpro, sunter

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top