Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pengelola Taman Ismail Marzuki Butuh 22 Milliar Per Tahun

Anggaran yang diperlukan untuk mengelola TIM mencapai angka Rp22 milliar, sementara pemasukannya selama ini berkisar di angka Rp8 milliar hingga Rp10 milliar.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  19:03 WIB
Pengelola Taman Ismail Marzuki Butuh 22 Milliar Per Tahun
Taman Ismail Marzuki (TIM) - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA–Anggaran yang diperlukan untuk mengelola Taman Ismail Marzuki (TIM) mencapai angka Rp22 milliar, sementara pemasukannya selama ini berkisar di angka Rp8 milliar hingga Rp10 milliar.

Melihat besarnya defisit tersebut, Kepala Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UP PKJ) TIM Imam Hadi Purnomo mengatakan pengelolaan TIM secara komersial dipandang mampu memberikan fleksibilitas dan optimalitas dari pengelolaan TIM.

Keuntungan yang didapat juga akan berkontribusi pada pengembangan ekonomi kreatif.

Selain itu, komersialisasi TIM juga diharapkan mampu berkontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD).

Pihak-pihak terkait yaitu PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dan juga Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta pun diminta untuk menyiapkan analisa untung rugi dari pihak yang mengelola.

Apabila dikelola oleh PT Jakpro, Imam mengatakan ada kekhawatiran dari pihak seniman atas biaya yang akan dikenakan dalam rangka menggunakan fasilitas TIM.

Namun, di satu sisi PT Jakpro memiliki keahlian untuk mengelola properti dan mampu menghasilkan keuntungan dari fasilitas-fasilitas yang ada.

Sebaliknya, apabila tetap dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta melalui UP PKJ TIM kemungkinan para seniman bisa menerima kebijakan tersebut. Namun, dikhawatirkan pengelolaan TIM pasca-revitalisasi tidak berjalan maksimal.

Di lain pihak, Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Irawan Karseno menghimbau Pemprov DKI Jakarta agar keuntungan yang didapat dari pengelolaan fasilitas TIM bisa dimaksimalkan untuk kepentingan seni.

"Perlu komitmen perlu regulasi yang kuat, saya kira peratutan daerah lebih baik agar bisa ditekankan bahwa ini lebih untuk kesenian. Jadi harus ada strategi bersama itu," kata Irawan, Rabu (20/2/2019).

Irawan pun mendukung dibangunnya Wisma TIM yang merupakan hotel bagi wisatawan-wisatawan yang berkunjung ke TIM.

Melalui hotel tersebut diharapkan tarif yang dikenakan atas fasilitas TIM tidak terlalu mahal.

Untuk diketahui, TIM pasca-revitalisasi dipastikan akan dikelola secara komersial.

Namun, siapa yang mengelola TIM masih bergantung pada kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan hingga saat ini baik PT Jakpro maupun UP PKJ TIM masih menunggu Peraturan Gubernur (Pergub) yang memutuskan wewenang pengelolaan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jakpro taman ismail marzuki
Editor : Rustam Agus

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    Terpopuler

    Banner E-paper
    back to top To top