Pesan Toleransi dan Keragaman dari Masjid Al-Anwar Muara Angke

Masjid Jami Al-Anwar yang dahulu mempunyai nama Masjid Angke, memiliki teladan dari masa lalu yang menjadi saksi bisu untuk diceritakan kepada anak dan cucu.
Pesan Toleransi dan Keragaman dari Masjid Al-Anwar Muara Angke Akbar Evandio | 25 Mei 2019 17:31 WIB
Pesan Toleransi dan Keragaman dari Masjid Al-Anwar Muara Angke
Pengurus Bidang Sejarah dan Bangunan Masjid Jami Al-Anwar, Muhammad Abyan Abdillah. JIBI/Bisnis - Akbar Evandio

Bisnis.com, JAKARTA - Masjid Jami Al-Anwar yang dahulu mempunyai nama Masjid Angke, memiliki teladan dari masa lalu yang menjadi saksi bisu untuk diceritakan kepada anak dan cucu.

Masjid yang terletak di wilayah Tambora, Jakarta Barat ini tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokoh pejuang dan pendiri Jakarta tempo dulu, seperti Pangeran Fatahillah dan Tubagus Angke.

Kini, Masjid Angke menjadi bagian dari cagar  budaya yang dilindungi undang-undang monumen yaitu monumen ordonantie Stbl 1931 No. 238.

Pengurus Bidang Sejarah dan Bangunan Masjid Jami Al-Anwar, Muhammad Abyan Abdillah menjelaskan bahwa masjid yang berdiri di atas tanah seluas 400 meter persegi dan berukuran 15 x 15 meter, memang termasuk kecil.

Akan tetapi, keberada-annya cukup menarik karena bentuk-bentuk bangunannya memperlihatkan perpaduan dari berbagai gaya arsitektur, seperti gaya bangunan Belanda, Banten kuno, dan China.

“Sejarah Angke itu dulunya dikenal dengan sebutan kampung bali karena di abad 16 bermukim pemeluk Hindu Bali yang datang ke Batavia, kemudian akhirnya bersama-sama dengan muslim yang lebih dulu sudah ada di Kampung Angke. Setelah itu disusul oleh etnis Tionghoa,” ujar Abdillah.

Turunan kedelapan ulama yang mendiami kompleks masjid ini menceritakan bahwa pendirian Masjid Angke ini tercatat sejak 26 Syakban 1174 H atau 1761 Masehi.

Masjid Jami Angke memiliki keunikannya tersendiri dengan keaneka ragaman seni aksitektur yang dapat dilihat di antaranya ada seni dari Tionghoa, seni Jawa, Bali, Arab dan Eropa.

Jadi, berbagai perpaduan seni itu digabungkan menjadi bentuk bangunan dan itu adalah wujud beraneka ragamnya etnis pada zaman dahulu yang mendiami Kampung Angke.

“Jadi, toleransi yang sangat tinggi atau kerukunan sudah tercipta sejak dahulu di sini yang bahkan hingga saat ini masih dapat dibuktikan dengan banyaknya etnis yang mendiami Kampung Angke hidup berdampingan dengan rukun atas dasar toleransi,” cerita Abdillah.

Keturunan Kesultanan Banten ini memaparkan bahwa karena dengan usia yang sudah beratus tahun,  masjid memiliki kekurangan dalam bahan material.

“Itulah alasan kami melakukan restorasi yang sebenarnya awalnya pada tahun 2017 dimulai, membongkar bangunan-bangunan tambahan yang ada di sisi-sisi bangunan masjid sehingga Masjid Angke itu berdiri sendiri dan tidak ada bangunan yang berada di sekelilingnya. Termasuk sarana aula tempat ibadah perempuan dan sekolah yang akan kita bongkar dulu dan nantinya akan kita bangun kembali,” tambah Abdillah.

                                                                   

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jakarta, toleransi, masjid

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top