PT MRT Rintis Konsep Pengembangan TOD

PT MRT Jakarta mulai kembangkan konsep untuk penataan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 26 Juni 2019  |  18:46 WIB
PT MRT Rintis Konsep Pengembangan TOD
Pengunjung mencoba virtual reality disamping maket hunian terintegrasi transportasi Stasiun Rawa Buntu yang dibangun dengan konsep Transit oriented Development (TOD) di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (10/12/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - PT MRT Jakarta mulai kembangkan konsep untuk penataan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).

Dalam rancangan yang dipaparkan oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar, PT MRT Jakarta sudah menyiapkan konsep untuk pengembangan TOD di kawasan sekitar stasiun layang MRT mulai dari Stasiun Asean hingga Stasiun Lebak Bulus.

William mengatakan pihaknya saat ini sedang mengembangkan transit plaza di dekat Stasiun Lebak Bulus dimana pengendara dan transportasi umum dapat dengan mudah menaikkan dan menurunkan penumpang.

Stasiun tersebut juga bakal terhubung dengan Poins Square yang letaknya berdekatan dengan Stasiun Lebak Bulus.

Interkoneksi yang dibangun bakal sejenis dengan yang sudah terbangun di Stasiun Blok M yang saat ini telah terhubung dengan Blok M Plaza.

William mengungkapkan transit plaza tersebut sudah siap digunakan dan tinggal menunggu interkoneksi antara Stasiun Lebak Bulus dengan Poins Square.

"Butuh waktu sekitar 5-6 bulan untuk membangun skybridge yang menghubungkan Poins Square dan Stasiun Lebak Bulus," ujarnya, Rabu (26/6/2019).

Pengerjaan transit plaza seluas 1.500 meter persegi tersebut dikerjakan oleh pihak pengembang pengelola Poins Square.

Selanjutnya, TOD untuk kawasan sekitar Stasiun Blok M dan Stasiun Asean akan dikembangkan menjadi satu kesatuan dan berkonsep garden city.

Setelah mengembangkan ketiga lokasi tersebut, PT MRT Jakarta akan melanjutkan pengembangan di kawasan stasiun-stasiun lain seperti Stasiun Fatmawati dan Stasiun Haji Nawi.

Meski demikian, William mengakui bahwa untuk pengembangan TOD di kawasan sekitar stasiun MRT yang terletak di bawah tanah mulai dari Stasiun Istora hingga Stasiun Bundaran HI lebih sulit dibandingkan kawasan dengan stasiun layang.

Hal ini karena kawasan di sekitar stasiun bawah tanah MRT merupakan kawasan yang lebih berkembang dibandingkan stasiun-stasiun layang yang terletak di selatan Jakarta.

Untuk itu, William mengatakan untuk langkah awal pihaknya sedang membangun kerja sama dengan pihak-pihak pemilik gedung di sekitar stasiun MRT bawah tanah untuk pembangunan interkoneksi.

"Nantinya juga pasti ada pengembangan kawasan tapi masih sangat panjang karena konsolidasi lahan di daerah yang stasiunnya bawah tanah lebih kompleks," ujar William.

Oleh karena itu, William mencontohkan seperti di sekitar Stasiun Dukuh Atas pihaknya saat ini baru mengembangkan area publik seperti melakukan pedestrianisasi dan belum melakukan penataan atas ruang privat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mrt, transit oriented development

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top