KLHK Sebut Kualitas Udara Jakarta Masih Oke

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan kualitas udara DKI Jakarta sepanjang 2019 masih terbilang baik.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  16:00 WIB
KLHK Sebut Kualitas Udara Jakarta Masih Oke
Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta - ANTARA/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, SEMARANG—Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan kualitas udara DKI Jakarta sepanjang 2019 masih terbilang baik.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Karliansyah menyampaikan, berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) harian, kualitas udara di Jakarta masih terbilang baik.

“Dari data harian ISPU, kualitas udara terbilang baik. Cuma memang pada momen-momen tertentu naik menjadi kategori tidak sehat bagi masyarakat khusus, seperti balita dan lansia,” ujarnya di Semarang, Selasa (30/7/2019).

Data ISPU mengukut kualitas udara Jakarta selama 181 hari sepanjang 2019. Hasil data menunjukkan 122 hari kualitas udara terbilang baik, 39 hari kategori sedang, dan 20 hari tidak ada data.

Seeblumnya, AirVisual melaporkan kualitas udara Jakarta pada Senin pagi (29/7/2019) menjadi yang terburuk di dunia, menurut data AQI.

Indeks kualitas udara (air quality index/AQI) Jakarta pada pukul 07.00 WIB berada di angka 189. Angka tersebut menunjukkan kualitas udara di Jakarta berada dalam kategori tidak sehat (151-200) dengan kandungan polusi PM2.5 sebesar 129,9 mikrogram/m³.

Ambang batas normal yang ditetapkan World Health Organization (WHO) untuk kandungan polusi atau partikel debu halus PM2.5 adalah 25 mikrogram/m³.

Adapun, ambang batas normal polusi PM2.5 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) adalah 65 mikrogram/m³.

Karliansyah pun menampik pencemaran udara disebabkan oleh proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pasalnya, sejumlah perusahaan pengelola PLTU sudah menjalankan teknologi ramah lingkungan, sehingga meminimalkan dampak limbah.

“Kami sudah cek proyek-proyek PLTU, dan kami dorong untuk menjalankan operasi yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Sebelumnya peneliti lingkungan hidup dari Walhi Dwi Saung mengatakan, 10 PLTU yang berada di sekitar Jakarta bisa menyebabkan polusi tjika angin bertiup menuju Ibu Kota Negara. Namun, kontribusi PLTU batu bara terhadap polusi udara di DKI Jakarta tidak sebesar faktor asap kendaraan bermotor.

"Transportasi itu [kontribusi terhadap polusi di Jakarta] sekitar 30-40 persen, pembangkit sekitar 20-30 persen. Sisanya dari bakar sampah dan ada juga dari sumber lain," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kualitas udara, Jakarta

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top