Jadi Tuan Rumah Formula E 2020, Pemprov DKI Harus Setor Rp342 Miliar Ke Penyelenggara

Anies menilai commitment fee untuk pelaksanaan sebuah kegiatan berskala internasional merupakan hal yang lumrah. Ada biaya yang harus disetor untuk kegiatan seperti Asian Games, balap mobil F1, balap Moto GP, bahkan Piala Dunia.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  22:07 WIB
Jadi Tuan Rumah Formula E 2020, Pemprov DKI Harus Setor Rp342 Miliar Ke Penyelenggara
Laga Formula E di jalanan Brooklyn, New York, AS pada Minggu (14/7/2019). Berbeda dengan ajang Formula 1, balapan ini menggunakan mobil bertenaga listrik dan digelar di jalanan kota. - USA Today Sports via Reuters

Bisnis.com, JAKARTA--Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memastikan pihaknya siap menjadi tuan rumah kegiatan balap mobil listrik Formula E pada 2020.

Meski demikian, dia tak menampik ada biaya atau commitment fee perlombaan yang harus dibayarkan kepada panitia penyelenggara. Menurutnya, hal itu sangat wajar dan lazim terjadi untuk segala bentuk kegiatan berskala internasional.

"Saya beri daftarnya, ya. Untuk [penyelenggaran] Moto GP biayanya US$7 juta-US$9 juta, F1  US$29,4 juta, Formula E US$24,1 juta. Sementara itu, Piala Dunia US$11.600 juta," katanya di Gelora Bung Karno, Selasa (13/8/2019).

Jika mengacu pada kurs nilai tukar rupiah terhadap dollar sebesar Rp14.200/US$, maka biaya pendaftaran yang harus disetor Anies kepada penyelenggara Formula E berkisar Rp342 miliar.

Dana tersebut harus ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov DKI yang didapat dari anggaran belanja dan pengeluaran daerah perubahan (APBD-P) tahun anggaran 2019.

Meski nilainya cukup fantastis, Anies optimistis perputaran ekonomi yang dihasilkan dari event Formula E justru lebih besar.

"[Saya estimasi] akan ada pergerakan [roda ekonomi] sekitar Rp1,2 triliun. Jadi kita keluarkan biaya tapi akan dapat Rp1,2 triliun. Itu baru prediksi konservatif. Apalagi kalau asumsi penonton dan lain-lain sangat konservatif sekali. Insyaallah lebih besar," imbuhnya.

Anies menilai commitment fee untuk pelaksanaan sebuah kegiatan berskala internasional merupakan hal yang lumrah. Ada biaya yang harus disetor untuk kegiatan seperti Asian Games, balap mobil F1, balap Moto GP, bahkan Piala Dunia.

Pemerintah Indonesia harus mengeluarkan uang agar dapat menyelenggarakan Asian Games kepada Organisasi Olimpiade Asia (OAC). Rusia juga harus menyetor uang triliunan rupiah kepada FIFA saat menjadi tuan rumah World Cup 2016.

"Justru itu [Formula E] dilakukan agar kita bisa merasakan manfaat ekonomi karena pembangunan dilakukan di sini. Spending terbesar di Jakarta dan kita membutuhkan itu," jelas Anies.

Formula E merupakan turnamen balapan terpopuler kedua sesudah Formula 1. Bedanya dengan F1, Formula E menggunakan mesin bertenaga listrik sehingga bebas emisi, dan diadakan di jalan raya yang diubah jadi sirkuit sementara.

Pemprov DKI sudah persiapan pertemuan dengan penyelenggara Formula E sejak tiga bulan lalu. Pertemuan digelar pada 13 Juli 2019, bersamaan dengan putaran final Sesi 6 Formula-E.

Anies mengatakan Tim dari Formula E juga sudah datang khusus untuk melakukan uji lapangan di Jakarta pada 8-9 Juli lalu. Karena Jakarta berkompetisi dengan kota-kota besar dunia lainnya, maka semua dikerjakan dengan rapi, teliti, dan tertib.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pemprov DKI, Formula E Championship

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top