Bus dan Truk Sumbang Emisi CO2 Tertinggi di Jakarta

Setiap harinya, ada 318.840 ton karbon dioksida yang dihasilkan di Jakarta.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 17 Agustus 2019  |  19:43 WIB
Bus dan Truk Sumbang Emisi CO2 Tertinggi di Jakarta
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin (29/7/2019). - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA -- Komite Penghapusan Bensin Bertimbal menyebutkan emisi dari bus menyumbang CO2 terbanyak di Jakarta, yakni sebesar 145.778 ton per hari atau setara dengan 46 persen dari total 318.840 ton CO2 yang dihasilkan per harinya.

Sementara itu, emisi dari truk berada di peringkat kedua dengan 106.057 ton atau 33 persen, kemudian sepeda motor dengan 49.271 ton atau 16 persen. Selanjutnya, emisi dari mobil pribadi menyumbang 9.934 ton atau 3 persen, lalu mobil diesel menghasilkan 7.765 ton atau 2 persen.

Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Safrudin menyatakan pihaknya menghimpun data yang menunjukkan besaran polutan dan senyawa karbon dioksida (CO2) yang berasal dari pembakaran emisi kendaraan di Jakarta. Data terbagi menjadi dua klasifikasi, yakni emisi yang membentuk gas CO2 dan debu polutan.

"Kalau Pak Anies [Gubernur DKI Jakarta Anies Bawedan] marah-marah ke truk yang lalu-lalang di tol melintas Jakarta ada benarnya," ucapnya, seperti dilansir Tempo, Sabtu (17/8/2019).

Menurut Safrudin, data dihimpun sepanjang sepekan sebelumnya.

Untuk sumber debu polutan, emisi motor menjadi yang tertinggi dengan 8.533 ton atau 45 persen dari total 19.000 ton per hari. Disusul oleh bus dengan 4.106 ton atau 21 persen, truk sebesar 3.392 ton atau 18 persen, mobil pribadi sebanyak 2.712 ton atau 14 persen, dan mobil diesel 374 ton atau 2 persen.

Debu polutan ini mengandung beberapa senyawa antara lain karbon monoksida sebanyak 11.021 ton atau 56 persen, nitrogen oksida sebesar 4.250 ton atau 22 persen, hidrokarbon 3.127 ton atau 16 persen, serta debu halus dan sulfur oksida. 

KPBB menyebutkan sekitar 20 juta kendaraan berpotensi masuk ke ibu kota, yang terdiri atas 15 juta motor dan 5 juta mobil.

"Yang bermasalah di Jakarta adalah emisi pencemaran udara atau polutan. Masalahnya, tidak semua kendaraan berasal dari Jakarta tapi juga Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek)," ucap Safrudin.

Dia menjelaskan pembakaran mesin kendaraan yang tak sempurna bakal menghasilkan senyawa-senyawa tersebut. Jika terhirup, maka akan memicu flek di paru-paru.

Pembakaran tidak sempurna bisa disebabkan kadar belerang yang tinggi dalam bensin jenis premium beroktan 88 dan solar. KPBB pun memandang penggunaan premium dan solar tidak ramah lingkungan.

Gubernur Anies pun diharapkan mencari cara agar kualitas udara di Jakarta membaik, salah satunya dengan melarang penggunaan bahan bakar yang tidak ramah lingkungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dki jakarta, polusi udara

Sumber : Tempo

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top