Inflasi DKI Jakarta November 2019 Capai 0,19 Persen

Provinsi DKI Jakarta berhasil mempertahankan inflasi setelah pada Oktober 2019 sebesar 0,21 persen (m-t-m), kini pada November 2019 inflasi Ibu Kota hanya sebesar 0,19% (m-t-m).
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  22:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Provinsi DKI Jakarta berhasil mempertahankan inflasi setelah pada Oktober 2019 sebesar 0,21 persen (m-t-m), kini pada November 2019 inflasi Ibu Kota hanya sebesar 0,19% (m-t-m).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Hamid Ponco Wibowo optimistis bahwa atas capaian ini, Ibu Kota sanggup mendukung pencapaian target sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 persen ± 1 persen.  

"Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK tahun kalendar sampai dengan November 2019 tercatat sebesar 2,92 persen (y-t-d), atau secara tahunan sebesar 3,53 persen (y-o-y)," ujar Ponco dalam keterangan resminya, Senin (2/12/2019).

Ponco menjelaskan bahwa inflasi tertinggi terjadi pada kelompok Kesehatan, disusul Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau, kemudian kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar. 

Kelompok Kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,39% (m-t-m). Namun, tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi pada bulan Oktober 2019 sebesar 0,72% (m-t-m).

"Tekanan Inflasi pada kelompok ini disumbang oleh inflasi pada subkelompok Jasa Kesehatan yaitu sebesar 0,84% (m-t-m) terutama dari Dokter Umum dan Dokter Gigi," jelasnya.

Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 0,37% (m-t-m), lebih rendah dibandingkan inflasi pada bulan Oktober 2019 sebesar 1,01% (m-t-m).

Tekanan Inflasi pada kelompok ini disumbang oleh inflasi pada subkelompok Tembakau dan Minuman Beralkohol yaitu sebesar 1,08% (m-t-m) terutama dari Rokok Kretek Filter.

Inflasi kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar mencapai 0,26% (m-t-m), meningkat dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,15% (m-t-m) yang terutama bersumber dari subkelompok Biaya Tempat Tinggal.

Kelompok Bahan Makanan juga memiliki andil terhadap inflasi pada bulan ini setelah sebelumnya mengalami deflasi. Kelompok ini pada bulan November 2019 mencatat inflasi sebesar 0,23% (m-t-m) setelah sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,25% (m-t-m).

"Inflasi pada kelompok ini disumbang oleh inflasi pada komoditas Bawang Merah yang cukup tinggi yaitu sebesar 4,96% (m-t-m) seiring berkurangnya pasokan," ujar Ponco.

Beruntung, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi yang terjadi pada kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan sebesar 0,01% (m-t-m) lebih rendah dari deflasi bulan sebelumnya sebesar 0,07% (m-t-m).

Hal tersebut masih dipicu oleh koreksi tarif Angkutan Udara sejalan dengan adanya penetapan batas bawah dan batas atas oleh Kementrian Perhubungan.

Ponco Optimistis laju inflasi tahun 2019 yang hanya menyisakan satu bulan akan tetap terkendali, "Tingkat permintaan masyarakat diprakirakan tidak akan mengalami peningkatan signifikan, sejalan dengan tidak adanya momen tertentu yang signifikan dapat mendorong konsumsi," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
inflasi dki

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top