Jakarta Peringkat 10 Kota Termacet, Bus Kota Jadi Solusi

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kerap memimpikan Jakarta keluar dari peringkat 10 besar Kota Termacet di Dunia.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  14:37 WIB
Jakarta Peringkat 10 Kota Termacet, Bus Kota Jadi Solusi
Kendaraan bermotor terjebak kemacetan di Jalan KH. Abdullah Syafei, Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kerap memimpikan Jakarta keluar dari peringkat 10 besar Kota Termacet di Dunia.

Mimpi tersebut hampir terwujud karena Jakarta kini menempati posisi 10 di bawah Bengaluru, Manila, Bogota, Mumbai, Pune, Moscow region, Lima, New Delhi, dan Istanbul.

Sayangnya, apabila melihat lebih rinci data TomTom, perusahaan teknologi navigasi asal Belanda yang meneliti indeks kemacetan pada 416 kota di 57 negara itu, Jakarta tercatat masih memiliki tingkat kemacetan 53%.

Indikator congestion level-nya bukan hijau, bukan pula merah, tapi abu-abu [0%], tak ada perubahan dari tahun sebelumnya.

Pengamat Transportasi Muslich Zainal Asikin menilai bahwa langkah pemerintah yang berhasil membawa Jakarta tak berada di posisi merah soal tingkat kemacetan patut diapresiasi.

Menurut penulis buku Sistem Manajemen Transportasi Kota ini, beberapa kebijakan tampak membawa dampak positif walaupun belum signifikan.

"Kemacetan Jakarta belum terlihat berkurang secara signifikan. Tetapi dari fakta terlihat jumlah pemakai kendaraan umum terjadi kenaikan pada Transjakarta, kereta MRT [Moda Raya Terpadu], KRL [Kereta Rel Listrik], dan juga Feeder Transjakarta yang terkoneksi via JakLingko," ungkapnya kepada Bisnis, Jumat (31/1/2019).

Menurutnya, hal ini merupakan hasil dari kebijakan penambahan jumlah rute Transjakarta dan upaya perbaikan integrasi antarmoda transportasi dengan bus kota sebagai tulang penyangga utamanya.

Muslich menyarankan agar kebijakan semacam ini terus digalakkan oleh Pemprov DKI, "Pembenahan rute dan jumlah bus, harus secara terus menerus dilakukan agar terkoneksi dengan angkutan umum lainnya," ujarnya.

Harapannya, proyek infrastruktur transportasi yang progresnya positif, secara bertahap akan menekan potensi kemacetan di Ibu Kota.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan pihaknya tengah mempelajari lebih lanjut terkait data TomTom dan akan mengevaluasi apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta.

Syafrin menekankan bahwa di samping kebijakan pull atau menarik warga menggunakan transportasi publik, Pemprov juga akan terus menggalakkan kebijakan push atau menekan penggunaan kendaraan pribadi seperti Ganjil-Genap (Gage).

"Dari hasil pengukuran kita, Dishub, bahwa setelah ada perluasan Gage itu terjadi peningkatan kinerja lalu lintas di 25 ruas jalan yang diterapkan. Jadi dari 25 km/jan rata-rata [kecepatan] naik jadi 33 km/jam," ungkapnya, Kamis (30/1/2019).

"Kemudian, terjadi pengurangan volume lalu lintas sebanyak 30 persen. Jadi dari situ memang [indikator Dishub]. Saya pelajari lagi dulu data dari Tomtom itu," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemacetan jakarta

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top