Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Plus-Minus Sirkuit Formula E di Monas dan di Jalan Protokol

Pemprov DKI diminta menjaga keamanan dan ketertiban, serta melibatkan instansi terkait guna menghindari perubahan fungsi.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  17:52 WIB
Tim EQ Formula E Mercedes akan bekerja dengan ON Semiconductor untuk mengembangkan inovasi daya listrik generasi mendatang untuk kinerja dan efisiensi terdepan.  - BMW
Tim EQ Formula E Mercedes akan bekerja dengan ON Semiconductor untuk mengembangkan inovasi daya listrik generasi mendatang untuk kinerja dan efisiensi terdepan. - BMW

Bisnis.com, JAKARTA - Hingga kini, keberadaan pasti lokasi infrastruktur sirkuit ajang balap mobil listrik Formula E masih 'abu-abu', jelang acara utamanya yang akan berlangsung pada 6 Juni 2020.

Kementerian Sekretariat Negara lewat Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Taman Merdeka (Komrah) secara tidak langsung 'mengizinkan dengan syarat' apabila Formula E akan berlangsung di Kawasan Monumen Nasional (Monas). Di antaranya merencanakan konstruksi lintasan, tribun penonton, dan fasilitas lainnya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, menjaga keasrian, kelestarian vegetasi pepohonan, serta kebersihan dan kebersihan lingkungan kawasan Medan Merdeka.

Selain itu, Pemprov DKI diminta menjaga keamanan dan ketertiban, serta melibatkan instansi terkait guna menghindari perubahan fungsi, kerusakan lingkungan dan kerusakan cagar budaya di kawasan Medan Merdeka. Padahal, sebelumnya Komrah memberikan sinyal penolakan Formula E masuk ke dalam Monas demi menjaga fungsinya sebagai cagar budaya.

Artinya, kemungkinan sirkuit Formula E di Monas masih terbuka walaupun kemungkinannya kecil. Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sadikin Aksa mengonfirmasi hal ini.

"Kami masih survei dan meeting persiapan [lokasi sirkuit] alternative," ungkap organisasi perwakilan fasilitator olahraga otomotif di Tanah Air, termasuk Formula E ini kepada Bisnis, Senin (10/2/2019).

Kelebihan-Kekurangan Monas

Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengungkap bahwa Monas dan kawasan Jakarta Pusat, merupakan tempat strategis untuk menyebarkan misi utama Formula E.

 Formula E sebagai bagian kampanye keamanan Kota Jakarta dan pendorong peningkatan penggunaan mobil ramah lingkungan. Di samping manfaatnya sebagai ajang menggairahkan talenta pembalap Tanah Air, serta entitas hiburan dan bisnis.

"Kesempatan ini memang harus dimaksimalkan Pemda DKI dengan mewujudkan, mengampanyekan transportasi massal berbasis listrik, kendaraan listrik, dan terobosan pemanfaatan energi terbarukan pembangkit listrik," ujarnya, Senin (10/2/2020).

Selain itu, potensi dampak ekonomi paling optimal dalam penyelenggaraan balapan ini memang tepatnya berada di pusat Jakarta.

Misalnya, Pemprov DKi akan lebih mudah dalam menata dan mengoptimalkan fasilitas akomodasi penginapan tamu atau penonton dalam dan luar negeri, penyediaan transportasi massal, serta membuat kantong-kantong parkir menuju kawasan.

"Serta lebih mudah untuk promosi restoran, pusat perbelanjaan, taman-taman, kawasan bersejarah seperti Kota Tua untuk mendapatkan dampak ekonomi dari Formula E," ujarnya.

Namun, seperti diketahui, proses perizinan dan rekayasa lalu lintas menjadi tantangan yang tak mudah. Terlebih, apabila sirkuit ini akan digunakan sebagai sport tourism dan bisa disewakan di luar Formula E.

"Pastikan dulu rute sirkuit sudah final atau belum, dengan meminta pertimbangan dari presiden karena berada dalam kawasan ring satu, depan istana dan Kedutaan Besar AS. Utamanya terkait keamanan," jelasnya.

"Jika sdh final, pastikan detail alternatif rekayasa lalin terkait penutupan dan pengalihan arus lalin sebelum, selama, dan sesudah penyelenggaraan formula E, menuju ke kawasan perlombaan. Karena pasti akan berdampak terhadap kegiatan di sekitar kawasan perlombaan," tambah Nirwono.

Jauhi Pusat Lebih Realistis

Sementara itu, Analis Kebijakan Transportasi dan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azas Tigor Nainggolan mengemukakan pendapat berbeda.

Tigor lebih menekankan pada kerumitan rekayasa lalin dan keawetan infrastruktur sirkuit selama lima tahun penyelenggaraan.

Menurutnya, apabila diperbolehkan masuk ke dalam Monas, justru lebih baik karena lebih minim gangguannya terhadap jalan umum. Terlebih, kalender resmi Formula E telanjur menyorot Monas dalam video resmi Jakarta E-Prix.

Namun, apabila menilik bocoran Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho di mana alternatif sirkuit akan berada di jalan protokol Sudirman-Thamrin dekat Gelora Bung Karno (GBK), Tigor lebih keberatan.

"Daripada alternatifnya di situ-situ saja, lebih baik ke pinggir Jakarta sekalian. Seperti di sekitar Ancol, atau sirkuit sekalian di Sentul itu dioptimalkan," ujarnya, Senin (10/2/2020).

"Soalnya aspal jalan protokol kita itu pasti belum standar. Jadi pasti nanti ada pengerjaan [pengaspalan] di situ. Kapan? Mengganggu tidak? Belum perawatannya nanti tiap tahun. Jalan itu kan setiap hari dilewati. Ini loh, yang perlu dipikirkan lagi," tambah Tigor.

Tigor berpendapat apabila sirkuit jalanan Formula E benar-benar ingin dipermanenkan dan bisa disewakan selain untuk Formula E, maka memilih lokasi di ruas-ruas jalan selain pusat Ibu Kota jauh lebih realistis. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pemprov DKI monas Formula E Championship
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top