Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perpanjang PSBB, Anies Dituding 'Menari' di Atas Persoalan Covid-19

Gembong menuding Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memainkan kebijakan itu untuk kepentingan politik tertentu.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 28 September 2020  |  12:08 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat memaparkan kondisi Covid-19 DKI Jakarta. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat memaparkan kondisi Covid-19 DKI Jakarta. JIBI - Bisnis/Nancy Junita

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Gembong Warsono berpendapat pemberlakukan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar secara ketat hingga 11 Oktober 2020 sarat kepentingan politik.

Malahan, Gembong menuding Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memainkan kebijakan itu untuk kepentingan politik tertentu.

Dalam bahasannya, Gembong menggambarkan Anies "menari" di atas penerapan PSBB.

“Ya dia [Anies] kan memainkan ini, menari di atas persoalan Covid-19, menari di atas penerapan PSBB," ujar Gembong.

Terkait Kebijakan PSBB, Gembong menegaskan ketika mau menerapkan PSBB, Jakarta tidak bisa hidup sendiri.

"Setiap kebijakan yang ditetapkan Jakarta harus berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat, lalu bagaimana Pemprov mampu melakukan koordinasi dengan daerah penyangga,” kata Gembong melalui sambungan telepon, Senin (28/9/2020).

Gembong mengatakan kebijakan PSBB jilid kedua tidak disusun secara komprehensif melainkan sepotong-potong.

Misalkan, Pemprov DKI melakukan PSBB ketat tetapi tidak disokong oleh kebijakan serupa di daerah Bodetabek.

Menurut Gembong ada koordinasi yang tidak berjalan antara Pemprov DKI dan daerah penyangga.

“Bau politisnya sangat kental, dalam penganan Covid-19 ini enggak bisa sepotong-potong. Contoh begini bagaimana penerapan PSBB ketat itu dikoordinasikan dengan daerah penyangga. Percuma juga DKI ketat tetapi Bodetabek tidak bisa menerapkan hal yang sama,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengklaim telah terjadi pelandaian kurva penambahan kasus harian Covid-19 di Jakarta.

Pelandaian, ujar Anies, terjadi setelah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama 12 hari.

Pada 12 hari pertama bulan September atau semasa PSBB transisi, pertambahan kasus aktif Covid-19 sebesar 3.864 atau sekitar 49 persen.

Setelah itu, ketika periode PSBB jilid kedua. Penambahan jumlah kasus aktif berkurang menjadi 12 persen atau 1.453 kasus.

“Penurunan itu belum sebanding dengan pengorbanan dari seluruh lapisan masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah. Selama dua Minggu mal tetap buka, beda dengan ketika PSBB pertama mal tutup mereka tidak bayar sewa, tetapi sekarang dalam PSBB total, mal tetap buka mereka tetap bayar sewa, sementara mereka tidak bisa jualan karena tidak boleh makan di tempat, sehingga pengunjung sepi,” ujar Anies.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jakarta anies baswedan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top