Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Laju Kematian Tinggi, Epidemiolog Pertanyakan Kualitas Testing DKI

Kapasitas pemeriksaan PCR milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melampaui standar WHO sebanyak 12 kali lipat, sebesar 135.000 orang per minggu.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 31 Januari 2021  |  19:45 WIB
Ilustrasi - Petugas memeriksa spesimen untuk pemeriksaan Covid-19 di laboratorium kesehatan. - Antara
Ilustrasi - Petugas memeriksa spesimen untuk pemeriksaan Covid-19 di laboratorium kesehatan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mempertanyakan kualitas penelusuran kontak erat Covid-19 di wilayah DKI Jakarta.

Saat ini kapasitas pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melampaui standar WHO sebanyak 12 kali lipat, sebesar 135.000 orang per minggu.

Tapi, tingkat kematian terkait infeksi Covid-19 di DKI Jakarta masih terbilang tinggi beberapa waktu ke belakang.

Berdasarkan data Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, setelah libur panjang akhir tahun, rata-rata pemakaman jenazah di wilayah Ibu Kota mencapai 190 jiwa per hari.

Perinciannya, 100 jenazah dimakamkan menggunakan protokol Covid-19. Sementara, 90 jenazah lainnya diidentifikasi non-Covid-19.

Dicky berpendapat tren tingginya tingkat kematian terkait infeksi Covid-19 itu disebabkan kualitas penelusuran kontak erat yang rendah di Ibu Kota. Walaupun, ujarnya, secara kuantitas pemerintah provinsi DKI Jakarta berhasil memeriksa 135.000 orang per minggu.

Ihwal kualitas penelusuran kontak, Dicky menerangkan, hal itu berkaitan dengan kecepatan penelusuran kontak erat di tengah masyarakat.

Idealnya, kapasitas minimal pemeriksaan PCR target penelusuran kontak erat sebesar 80 persen mesti terpenuhi dalam kurun waktu tiga hari.

Lewat dari tenggat itu menyebabkan adanya infeksi Covid-19 yang terlambat atau bahkan tidak terdeteksi dari kegiatan penelusuran kontak erat.

Hal itu berarti bahwa sebagian masyarakat masih belum terdeteksi walau pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melampui standar tes WHO.

“Harus diingat penelusuran kontak 80 persen minimal itu tercapainya harus 3 hari, itu yang disebut tidak telat. Tetapi kalau lebih dari 3 hari, itu masuk kategori telat yang berkontribusi pada kematian karena  berisiko terlambat dideteksi,” kata Dicky melalui pesan suara, Minggu (31/1/2021).

Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan upaya penelusuran kontak erat Covid-19 di wilayah Ibu Kota relatif tepat sasaran.

Malahan, Anies memastikan, tingkat akurasi testing Covid-19 di DKI menyentuh angka 85 persen.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, kapasitas testing Covid-19 sudah menyentuh angka 135.000 orang per minggu. Kapasitas itu telah melampui standar WHO sebanyak 12 kali lipat.

“Sementara itu kapasitas testing kita juga terus meningkat hingga 135.000 orang per Minggu [12 kali standard WHO], dengan 85 persen tes di Jakarta adalah kepada suspek, probable dan contact tracing,” kata Anies melalui akun instagram pribadinya, Kamis (28/1/2021).

Peningkatan kapasitas itu, imbuhnya, turut diimbangi dengan penambahan tenaga pelacakan kontak erat di tengah masyarakat. “Tahun lalu kita telah merekrut 1.545 tenaga contact tracing,” ujar Anies.

Di samping kecepatan testing, Dicky juga menyoroti kesahihan pemeriksaan PCR di tengah masyarakat.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mesti memastikan kualitas kontrol terkait pemeriksaan tersebut, agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Kualitas testing itu bukan hanya false negative tetapi juga bicara ketika diperiksa itu waktunya belum bisa mendeteksi keberadaan virus. Apalagi, kalau testing-nya misalnya pakai antigen. itu yang disebut dengan inadequate testing,” kata Dicky.

Konsekuensinya, laju kematian Covid-19 di DKI Jakarta tidak dapat diredam sekalipun kapasitas testing PCR telah menyentuh angka 135.000 orang per minggu.

Dengan demikian, Dicky mensinyalir, laju kematian Covid-19 di DKI Jakarta telah mengarah pada kelompok rentan seperti lansia dan komorbid.

“Jakarta sudah mengarah ke kelompok usia rawan yang tadinya dinikmati bonusnya usia muda di awal-awal hingga akhir tahun, usia dewasa mudanya berkurang, menyasarlah kepada kelompok yang rawan,” kata dia.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria atau Ariza  mengatakan pihaknya telah menyiapkan sekitar 17.100 petak liang lahat untuk makam pasien  Covid-19 pada Februari 2021.

Langkah itu diambil untuk mengantisipasi laju pemakaman  jenazah  yang terbilang tinggi sejak akhir tahun lalu.

“Jadi, pada bulan depan secara bertahap kita akan mempersiapkan tidak kurang dari 17.100 petak. Mulai pekan depan di Rorotan sudah bisa difungsikan,” kata Ariza saat meninjau TPU Rorotan Jakarta Utara, Rabu (27/1/2021).

Belakangan, Ariza membeberkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menambah kapasitas liang lahat di lima TPU yang ada di wilayah DKI Jakarta.

Misalkan, TPU Rorotan Jakarta Utara dengan luas 25 hektare telah disiapkan 8 ribu meter persegi untuk 1.500 petak makam.

“Juga di TPU Bambu Apus sudah disiapkan luas total lima hektare degan luas siap pakai 3.000 meter persegi daya tampung 800 petak,” tuturnya.

Selanjutnya, TPU Srengseng Sawah dua Jakarta Selatan disiapkan lahan seluas 3,4 hektare dengan daya tampung 1.900 petak makam.

Adapun, TPU Tegal Alur Jakarta Barat bakal ditambah 800 petak di atas lahan seluas 1,3 hektare.

“Di RTH Kramat 3 juga 9 ribu petak yang dalam proses persiapan seluas 5,2 hektare dan di Pondok Gede rencananya 2,1 hektare dengan kemampuan 3.900 petak,” tuturnya.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat adanya peningkatan keterisian tempat tidur di 101 rumah sakit rujukan Covid-19 setelah libur panjang akhir 2020.

Berdasarkan data per 24 Januari 2021, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Jakarta Dwi Oktavia menuturkan persentase keterisian tempat tidur ruang isolasi mencapai 86 persen dengan total pasien 6.954 orang.

“Untuk kapasitas tempat tidur isolasi ada sebanyak 8.055,” kata Dwi melalui keterangan resmi, Rabu (27/1/2021).

Sementara, keterisian tempat tidur di ruang ICU menyentuh angka 84 persen dengan total kapasitas rawat pasien sebanyak 1.097 orang.

“Saat ini pasien yang dirawat di ruang ICU sebanyak 921 orang,” kata Dwi.

Menanggapi keterpakaian tempat tidur tersebut, Ariza meminta pemerintah pusat meningkatkan kapasitas layanan kesehatan pasien Covid-19 di wilayah Bodetabek.

Ariza beralasan hampir 30 persen pasien Covid-19 yang dirawat di fasilitas kesehatan DKI Jakarta berasal dari daerah penyangga tersebut.

“Tadi saya bertelepon dengan Pak Menko. Mudah-mudahan ada penambahan nanti di daerah Bodetabek. Jadi, pemerintah pusat akan membantu meningkatkan kapasitas,” kata dia.

Dengan demikian, lanjut Ariza, beban layanan kesehatan di DKI Jakarta dapat dikurangi hampir 30 persen.  Dia berharap pasien infeksi Covid-19 asal Bodetabek dapat dirawat di daerah masing-masing.

“Mudah-mudahan ke depan dengan dukungan pemerintah pusat yang akan membantu daerah Bodetabek, di luar Jakarta nanti bisa tertampung di daerah masing-masing,” tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dki jakarta Virus Corona Covid-19
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top