Pengamat Sebut Spekulan Pangan Masih Berkeliaran di Jakarta

Pengamat Ekonomi Pertanian IPB, Muhammad Firdaus, mendorong pemerintah untuk lebih tegas menindak keberadaan spekulan pangan terutama di Jakarta.
Miftahul Khoer | 18 Mei 2017 11:57 WIB
Pedagang menata bawang putih impor di pasar kota, Lhokseumawe, Aceh, Jumat (12/5). - Antara/Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengamat Ekonomi Pertanian IPB, Muhammad Firdaus, mendorong pemerintah untuk lebih tegas menindak keberadaan spekulan pangan terutama di Jakarta.

"Sebetulnya pemerintah sudah tegas, tetapi dengan adanya kejadian penimbunan bawang putih impor di sebuah gudang di Marunda kemarin, maka pemerintah harus tegas lagi," ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (18/5/2017).

Dia mengatakan, mafia pangan tepatnya kartel atau pihak-pihak yang memanfaatkan keuntungan dari margin impor terutama komoditas bawang putih memang benar adanya.

Oleh karena itu, pemerintah juga harus membuat sistem yang bagus terkait daftar nama-nama importir sehingga ketika mereka bermain curang bisa langsung ditindak.

"Saya kira semua pihak harus berperan untuk mengawasi spekulan nakal ini, bukan cuma Kementerian Perdagangan atau Pemprov DKI Jakarta, masyarakat juga bisa dilibatkan," ujarnya.

Sebelumnya, penggerebakan yang dilakukan oleh pihak kepolisian dilakukan di kawasan Marunda, Jakarta Utara yang berhasil menemukan penimbunan sekitar 182 ton bawang putih.

Saat ini upaya pemerintah dalam menjamin stabilitas harga terutama menjelang bulan puasa dan Lebaran, semakin gencar dilakukan.

Dari gudang tersebut diamankan pemilik gudang, pemilik barang, dan supir truk. Saat dilakukan pemeriksaan, pemilik gudang tidak bisa menunjukkan dokumen importasi yang lengkap.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat memastikan ketersediaan pangan selama Ramadan dan lebaran untuk komoditas tertentu akan tercukupi seiring BUMD pangan di DKI selama ini telah menyimpan stok untuk dua bulan ke depan.

Menurutnya, yang tengah menjadi pekerjaan rumah Pemprov DKI saat ini adalah menstabilkan harga bawang putih yang sempat bergejolak di masyarakat.

"Kemarin harga bawang putih Rp47.000 per kilogram, nanti dengan sinergi BUMD ini kami akan pastikan harga bisa tembus ke masyarakat Rp33.000 per kilogram," katanya.

Muhammad Firdaus menambahkan, jika memang terjadi lagi penimbunan bahan pangan di Jakarta, maka aparat didorong untuk tidak segan-segan menghukum agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

Dia mengaku telah duduk bersama dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk mengupayakan agar selama ramadan dan lebaran harga-harga bahan pokok tidak mengalami kenaikan.

"Ini agar tidak terjadi terus menerus gejolak di tengah-tengah masyarakat," ujarnya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga mendorong agar pemerintah bisa mendekati kalangan pengusaha agar lima komoditas stategis antara lain gula, minyak goreng, daging, beras dan bawang putih bisa dinikmati masyarakat dengan harga yang sesuai.

Tag : pemprov dki
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top