DAGING SAPI: Pemprov DKI diimbau antisipasi kelangkaan pasok

 
Sekretariat Redaksi
Sekretariat Redaksi - Bisnis.com 08 April 2012  |  17:21 WIB

 

JAKARTA: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu mengantisipasi kelangkaan daging sapi dan lonjakan harganya mencapai Rp80.000 per kg akibat menipisnya pasokan komoditas tersebut sehingga dapat mengancam kelangsungan hidup usaha mikro, kecil dan menengan di Ibu Kota. 
 
Sarman Simanjorang, Ketua Komite Daging Sapi DKI Jakarta dan Sekitarnya,  mengatakan kondisi kelangkaan daging sapi di pasar dan distributor diperkirkanan akan menjadi semakin parah mulai akhir bulan ini ketika pasokannya tidak dapat memenuhi kuota Ibu Kota sekitar 50.000 ton per tahun.
 
“Pemprov DKI perlu mengantisipasi kondisi kelangkaan daging sapi dengan memberikan dukung kepada warganya yang berjuang untuk mendapatkan kuota daging sapi dari pemerintah pusat sekitar 50.000 ton per tahun,” katanya hari ini.
 
Menurutnya, jika pasokan daging sapi tidak mencapai kuota tersebut maka hampir dipastikan banyak pengusaha distributor daging akan menutup usahanya, industri makanan rumahan menjadi bangkrut dan dapat mengancam terjadi pemutusan hubungan kerja karyawannya.
 
Sarman menjelaskan kondisi kelangkaan daging dapi telah memicu harganya melonjak cukup tinggi untuk jenis super mencapai Rp80.000-Rp85.000 per kg dari harga normalnya Rp60.000-Rp65.000 per kg serta daging tetelan semula Rp34.000-Rp36.000 per kg kini menjadi Rp50.000-Rp53.000 per kg.
 
Tingginya harga daging sapi menyebabkan industri rumahan pembuat daging olahan seperti bakso dan sosis mengurangi kandungan daging dalam produknya, serta banyak pedagang bakso keliling yang pendaptannya anjlok secara drastis karena tidak bisa menaikkan harga jualnya.
 
Kondisi tersebut, lanjutnya, dipicu oleh kebijakan Kementrian Pertanian mengurangi kuota impor daging sapi hingga 60% pada  2012 menjadi hanya 34.000 ton, jauh di bawah tahun sebelumnya 100.000 ton, tetapi tidak diimbangi dengan kesiapan sapi lokal untuk menutupi kekurangan pasokan tersebut. 
 
Paling terpukul 
 
Sementara itu Ahmad Hadi, Wakil Ketua Komiti Daging Sapi DKI Jakarta, menjelaskan kelangkaan daging sapi sangat merepotkan banyak pelaku industri pengolahan daging, hotel, restoran, kafe, katering, rumah makan, rumah tangga, ritel, hingga pedagang bakso gerobak dorong.
 
“Kegiatan usaha itu paling cepat merasakan dampak dari pasokan daging sapi yang menipis diikuti dengan lonjakan harganya. Hal itu menyebabkan pendapatannya anjlok akibat biaya produksinya naik, tetapi mereka tidak bisa menaikkan harga jualnya karena pertimbangan daya beli konsumen,” ujarnya.
 
Menurutnya, sejumlah pengusaha distributor daging sapi sudah berkeliling ke semua daerah setral peternakan sapi di Tanah Air yang disarankan pihak Kementrian Pertanian. Namun, sangat sedikit yang siap dipotong sehingga tidak bisa memenuhi permintaan pasar.
 
Direktur PT Berkat Cahaya Sakti Afan Anugroho mengatakan perusahaannya di Bandung terpaksa berhenti produksi sejak 6 bulan lalu karena pasokan bahan bakunya terhambat akibat terjadi kelangkaan daging sapi sehingga mem-PHK 25 karyawannya. 
 
“Kami terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan di Bandung dan Jakarta karena sudah tidak ada lagi pasokan daging sapi di gudang sejak diberlakukan program swasembada daging sapi dan pembatasan kuota daging sapi impor menjadi hanya 34.000 ton,” tegasnya. (sut)

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top