Mengais Rezeki dari Demo 22 Mei

Sebuah masker hitam menutupi wajah Suwandi. Alhasil, dari balik kegelapan, yang terlihat hanya olesan pasta gigi yang melingkari pipi dan dahinya.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  04:44 WIB
Mengais Rezeki dari Demo 22 Mei
Suwandi masih menjual nasi box-nya sembari melihat keadaan ketika aparat kepolisian mensterilkan sepanjang jalan Thamrin dari massa Aksi Demo 22 Mei - Bisnis/Aziz Rahardyan

Bisnis.com, JAKARTA — Sebuah masker hitam menutupi wajah Suwandi. Alhasil, dari balik kegelapan, yang terlihat hanya olesan pasta gigi yang melingkari pipi dan dahinya.

Hal ini dia gunakan untuk belindung dari kepulan asap gas air mata, yang ditembakkan aparat kepolisian pada massa Aksi Demo 22 Mei, Rabu (22/5/2019) malam, sepanjang jalan Thamrin hingga kantor Bawaslu RI.

"Makan dulu, mas. Diisi dulu perutnya," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (22/5/2019) sembari membuka masker hitamnya, ramah pada setiap yang lewat di depan kantor Kemenkomaritim, tempatnya berjualan.

Apabila kurang cermat, kehadiran Suwandi jelas sulit disadari. Di samping massa aksi yang mondar-mandir berteriak 'maju', 'tahan', sambil sesekali melempar sesuatu, rambut putih Suwandi beserta tumpukan box sterofoam di sampingnya, kemungkinan besar kita acuhkan.

Ya, Suwandi menjual nasi kotak dengan harga Rp10.000. Tetapi, daripada memikirkan harga, Suwandi jelas seorang pahlawan di antara massa aksi yang kelelahan atau orang-orang yang belum berbuka puasa.

Ketika berbincang dengan Bisnis, box sterofoam yang berisi sekepal nasi, tiga butir baso, sayur buncis, dan irisan Bandeng itu telah tersisa 50 kotak. Suwandi mengaku membawa hampir 200 kotak dari rumahnya di bilangan Bekasi.

"Waktu ramai [demo Bawaslu] kemarin saya juga jualan mas. Alhamdulillah, habis, sampai sahur masih ada saja yang beli," ungkapnya.

Pengalaman ini nyatanya terbukti. Dengan gestur yang tenang, Suwandi tak pernah beranjak, sejak ramai dentuman mercon dan gas air mata tepat di depan wajahnya, hingga sepanjang jalan Thamrin steril disisir Barikade Sabhara dan Brimob Polri.

Di samping berjualan, Suwandi pun mengurusi massa aksi, minimal melontarkan perhatian pada setiap yang ingin beristirahat.

Bahkan, ketika barikade mulai mendekat, dirinya ikut mengingatkan aparat keamanan yang hampir emosi saat menggiring massa yang tersisa. Beruntung, tak ada persekusi dilakukan aparat kepolisian di depan matanya.

"Loh, saya kan jualan. Kalau saya ya, santai saja, masa mau ditangkep," celetuknya ringan, sembari menghisap sebatang kretek.

Suwandi mengaku tak akan pulang ke rumah hingga menjelang sahur. Suwandi berharap suasana bisa kondusif setelah sempat memanas sejak maghrib, setelah waktu berbuka puasa.

Tetapi, apabila massa dan aparat kembali saling berhadapan, Suwandi justru akan menghampirinya. Sekadar menghabiskan dagangan, dengan memberikan secara cuma-cuma nasi dan lauk yang tersisa, rasanya sudah cukup membuatnya bahagia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
polda metro jaya, Pilpres 2019, Aksi 22 Mei

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top