Selasa Sore, Jakarta Bukan Lagi Kota Terkotor di Dunia

Kualitas udara Ibu Kota pada Selasa sore (30/7/2019) dilaporkan mengalami perbaikan. Jakarta tidak lagi menempati peringkat kota terkotor sedunia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  19:21 WIB
Selasa Sore, Jakarta Bukan Lagi Kota Terkotor di Dunia
Udara Jakarta pada Selasa (2/7/2019) - Antara/Boyke Watra

Bisnis.com, JAKARTA - Kualitas udara Ibu Kota pada Selasa sore (30/7/2019) dilaporkan mengalami perbaikan. Jakarta tidak lagi menempati peringkat kota terkotor sedunia.

Jakarta pada Selasa sore turun peringkat dari predikat kota dengan kualitas udara kotor nomor satu di dunia setelah Tashkent, Uzbekistan, Ulaanbaatar, Mongolia dan Dubai. Hasil itu didasarkan pada informasi di laman resmi AirVisual.

Data yang disajikan AirVisual pukul 18.17 WIB, kualitas udara di ibu kota Jakarta mencapai 126 kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif dengan parameter PM2.5 konsentrasi 45,5 ug/m3.

Sedangkan posisi pertama disandang Tashkent atau kota dengan kualitas udara terkotor di dunia mencapai 351.

Lebih spesifik untuk wilayah Rawamangun, Jakarta Timur kualitas udara yaitu 124 dengan parameter PM2.5 konsentrasi 44,8 ug/m3.

Kemudian, sekitar kawasan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta Pusat, kualitas udara mencapai 129 dan masih kategori tidak sehat untuk kalangan sensitif.

Selain itu, masih di laman resmi AirVisual, kualitas udara juga terpantau di Kemayoran, Jakarta Pusat dengan angka mencapai 110 parameter PM2.5 konsentrasi 39 ug/m3.

Namun, kualitas udara di daerah Tangerang Selatan masih pada level sehat dengan angka mencapai 164 parameter PM2.5 konsentrasi 80 ug/m3.

Sebelumnya, pada Selasa pagi pukul 06.00 WIB kualitas udara di ibu Kota tercatat pada 189 kategori tidak sehat dengan parameter PM2.5 konsentrasi 128,4 ug/m3 berdasarkan US Air Quality Index (AQI) atau indeks kualitas udara.

Bahkan, kualitas udara di wilayah Pejaten Barat, Jakarta Selatan lebih buruk lagi, yakni mencapai 197 dengan parameter PM2.5 konsentrasi 144,7 ug/m3.

Kemudian, kualitas udara kotor juga terpantau di Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat dengan angka 180 parameter PM2.5 konsentrasi 144,7 ug/m3 atau kategori tidak sehat.

Dengan angka AQI itu untuk rata-rata wilayah, kualitas udara Jakarta kategori tidak sehat dan bisa meningkatkan gangguan pada jantung serta paru-paru.

Kelompok sensitif mempunyai risiko tinggi terganggu kesehatannya akibat kualitas udara buruk saat ini. Selain itu, AirVisual juga mencatat kelembapan Jakarta 94 persen dan kecepatan angin 1,8 kilometer per jam.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI Jakarta menilai Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta lamban dalam menangani persoalan polusi udara di Ibu Kota.

"Kebijakannya jelas masih lamban dan respons yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta cenderung tidak signifikan," kata Direktur Walhi DKI Jakarta Tubagus Soleh Ahmadi.

Soleh menilai Pemprov DKI Jakarta belum mengukur atau menyasar sumber-sumber utama penyebab polusi udara di Ibu Kota.

Seharusnya Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat saling berkoordinasi termasuk memanggil kepala daerah yang wilayahnya turut menjadi sumber pencemar udara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jakarta

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top