Meredam Pedasnya Cabai Menjelang Idul Adha di Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu lebih inovatif, mengatasi prediksi mahalnya harga bumbu-bumbuan terutama cabai.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 05 Agustus 2019  |  22:39 WIB
Meredam Pedasnya Cabai Menjelang Idul Adha di Jakarta
Ilustrasi. - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu lebih inovatif, mengatasi prediksi mahalnya harga bumbu-bumbuan, terutama cabai yang diprediksi masih akan menjadi momok penyumbang inflasi terbesar di Jakarta.

Seperti diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Pemprov DKI Jakarta memang berhasil mempertahankan inflasi pada Juli 2019 di angka 0,25%, tercatat turun daripada Juni 2019 sebesar 0,47%. Sehingga, laju inflasi sepanjang 2019 masih berkisar di angka dua koma, tepatnya 2,38%.

Kendati demikian, BPS mencatat komoditi penyumbang inflasi terbesar di atas 0,02%, masih ditempati cabai merah (0,1247%) di urutan teratas. Disusul Sekolah Menengah Pertama (0,0455%), Sekolah Menengah Atas (0,0433%), cabai rawit (0,0381%), daging ayam ras (0,0371%); dan emas perhiasan (0,0279%).

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah memprediksi kelompok bumbu-bumbuan terutama cabai, masih akan menjadi penyumbang inflasi terbesar pada bulan ini. Terlebih, jelang permintaan saat momen Idul Adha yang akan berlangsung 11-12 Agustus 2019.

Seperti diketahui, cabai merupakan komoditas yang cepat busuk. Beberapa daerah dengan permintaan tinggi terutama daerah perkotaan di Indonesia pun masih jarang terdapat pusat produksi cabai, sehingga harganya terus berfluktuasi.

"Kondisinya sudah seperti ini. Tidak mungkin dalam waktu kurang dari 10 hari bisa mendorong produksi cabai. Pilihannya buat masyarakat, ya masak dengan harga cabai mahal, atau tidak sama sekali," jelasnya kepada Bisnis, Minggu (4/8/2019).

Oleh sebab itu, dalam jangka panjang, pemerintah di daerah perkotaan seperti pemprov DKI Jakarta, perlu mengatasi fenomena ini lewat beberapa cara.

Dari sisi supply, perlu ada pusat budidaya cabai varietas tahan iklim di banyak tempat baru. Dari sisi distribusi, pemerintah perlu terbuka menyediakan berapa banyak cold storage yang bisa memenuhi persediaan, sehingga masyarakat tenang. Sementara dari sisi demand, pemerintah perlu mendorong masyarakat untuk terbuka pada rekayasa kuliner, tak bergantung pada cabai segar.

"Karena belum ada upaya agar masyarakat switching dari cabai segar ke cabai olahan. Ketika panen melimpah, daripada dibuang kan mending diolah menjadi cabai bubuk atau sambal, dan sebagainya. Jadi, ketika musim panen [cabai segar] menurun, persediaan menurun, tidak akan ada masalah," tambahnya.

Tertahan Bumbu-Bumbu

Sebelumnya, Kepala Bank Indonesia (BI) kantor perwakilan Jakarta Hamid Ponco Wibowo pun menjelaskan, apabila dilihat berdasarkan kategori kelompok, inflasi terbesar Jakarta pada Juli 2019 memang berada pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga (1,20%) akibat dorongan musim tahun ajaran pendidikan baru.

Sementara, inflasi kelompok bahan makanan (0,86%) yang menduduki posisi kedua, sebenarnya bisa turun lebih rendah lagi pada Juli 2019 setelah mencapai 1,30% pada Juni 2019. Lainnya, posisi ketiga ditempati inflasi sandang (0,44%), makanan jadi (0,23%), dan perumahan (0,01%).

Sayangnya, penurunan dari kelompok bahan makanan ini memang tertahan oleh tingginya inflasi subkelompok bumbu-bumbuan akibat meningkatnya inflasi komoditas cabai merah dan cabai rawit, masing-masing sebesar 28,21% (mtm) dan 45,96% (mtm), yang didorong oleh gangguan pasokan karena faktor cuaca.

Kendati demikian, Hamid memprediksi inflasi di DKI Jakarta pada Agustus 2019 akan terkendali. Indikasinya, berbagai perkembangan harga di pasar, tingkat permintaan masyarakat yang diperkirakan tidak akan mengalami peningkatan signifikan akibat tidak ada momen tertentu yang dapat mendorong konsumsi, serta pengaruh normalisasi pengeluaran rumah tangga pasca pengeluaran yang dilakukan pada momen tahun ajaran baru.

"Terjaganya tingkat pasokan beberapa bahan pokok utama juga dapat berkontribusi terhadap stabilitas inflasi. Faktor-faktor tersebut diprakirakan dapat menyebabkan tekanan inflasi cenderung lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya," ungkap Hamid dalam keterangan resminya, Kamis (1/8/2019).

Sementara itu, Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasrudin optimis pihaknya dapat mengatasi lonjakan permintaan bumbu-bumbuan, terutama cabai jelang Idul Adha.

Buktinya, pada Idul Adha tahun sebelumnya yang juga jatuh pada Agustus 2018, inflasi DKI Jakarta justru begitu rendah mencapai 0,03% saja. Seiring dengan tren penurunan dari bulan sebelumnya, yakni 0,48% pada Juni 2018 dan 0,26% pada Juli 2018.

"Posisi harga [cabai] sudah mulai turun karena panen diharapkan datang. Kita sudah kerja sama dengan Gabungan Kelompok Tani [Gapoktan] Champion di Magelang," ungkapnya kepada Bisnis, Minggu (4/8/2019).

Hal ini tampak dari data Informasi Pangan Jakarta. Harga beberapa komoditas cabai di Pasar Induk Kramat Jati per kilogram memang tampak sedikit mengalami peningkatan, namun terbilang stabil.

Cabai merah besar yang pada pada Juli 2019 berkisar di harga Rp45.000 —Rp56.000 atau rata-rata Rp53.645, juga tercatat naik dari Rp41.000 per 1 Agustus 2019, menjadi Rp52.000 per 5 Agustus 2019.

Misalnya, cabai merah kriting yang pada Juli 2019 berkisar di harga Rp43.000 —Rp55.000 atau rata-rata Rp49.226, kini tercatat naik dari Rp45.000 per 1 Agustus 2019, menjadi Rp54.000 per 5 Agustus 2019.

Sementara, cabai rawit merah yang pada pada Juli 2019 berkisar di harga Rp29.000 —Rp71.000 atau rata-rata Rp54.839, tercatat naik dari Rp67.000 per 1 Agustus 2019, menjadi Rp72.000 per 5 Agustus 2019.

Terakhir, cabai rawit hijau yang pada pada Juli 2019 berkisar di harga Rp39.000 —Rp59.000 atau rata-rata Rp52.097, justru turun dari Rp43.000 per 1 Agustus 2019, menjadi Rp42.000 per 5 Agustus 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jakarta, harga cabai

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top