Untung-Buntung Jadi Tuan Rumah Formula E

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sangat semangat untuk menjadi tuan rumah di ajang balapan mobil listrik formula E. Anies pun mengumbar keuntungan yang bisa diperoleh masyarakat Jakarta dan sekitarnya, lalu seberapa besar untungnya sih?
Oliv Grenisia
Oliv Grenisia - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  20:03 WIB
Untung-Buntung Jadi Tuan Rumah Formula E
Formula E. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Formula E, ajang balapan jet darat listrik, bakal digelar di Jakarta. Ibukota di gadang-gadang bisa mendapatkan keuntungan dengan menjadi tuan rumah ajang balapan ramah lingkungan tersebut. Namun, apakah keuntungan itu benar-benar nyata?

Dalam catatan Bisnis.com, DKI Jakarta membutuhkan biaya sekitar Rp1,59 triliun untuk menjadi tuan rumah ajang balap mobil listrik tersebut. Dari total itu, sekitar 59% biaya digunakan untuk penyelenggaraan balapan.

Sejauh ini, dana yang sudah disetujui Badan Anggaran DKI Jakarta senilai Rp360 miliar. Dana itu akan digunakan untuk biaya komitmen ke Formula E terkait rencana penyelenggaraan ajang itu di ibu kota Indonesia.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun sesumbar ajang balapan itu bisa menggerakkan ekonomi daerah yang dipimpinnya. “Satu agenda balapan di Indonesia bisa menggerakkan ekonomi Jakarta sekitar 78 juta euro atau setara Rp1,2 triliun,” ujarnya.

Kejuaraan Formula E di New York

Kejuaraan Formula E Seri New York, AS, pada 13 Juli 2019. / Bloomberg

Nyatanya, penyelenggaraan Formula E sejak musim 2014/2015 selalu mengalami kerugian.

The Verge mencatat, selama lima musim terakhir, Formula E selalu mengalami kerugian, meskipun dari segi pendapatan terus mencatatkan kenaikan. Pada musim 2014/2015, Formula E masih mencatatkan pendapatan senilai 1,43 juta euro, sedangkan pada 2018, balapan mobil listrik itu menuai pendapatan senilai 133,4 juta euro.

Meskipun begitu, CEO Formula E Alejandro Agag mengembangkan seri balapan mobil listrik ini bak perusahaan rintisan di Sillicon Valley, Amerika Serikat (AS). Agag terus mengelola portofolio pemegang saham Formula  E di tengah total kerugian yang diraih sejak 2014 hingga 2018 senilai 150 juta euro atau setara US$168 juta.

Formula E pun tidak sekedar menggoda perusahaan manufaktur besar untuk bergabung, tetapi sudah mulai mencoba menarik penonton lebih banyak lagi. Pada musim 2017/2018, jumlah penonton langsung meningkat dua kali lipat menjadi 436.000 orang, sdangkan penonton dari televisi naik 47,98% menjadi 330 juta penonton.

Formula E

Agag optimistis bakal meraih untung pada musim 2019/2020, walaupun Formula E bakal menggelontorkan anggaran pemasaran lebih besar ketimbang musim sebelumnya.

Seperti dikutip Reuters pada Juni 2019, Agag mengakui, pihaknya akan menganggarkan nilai pemasaran terbesar selama ajang itu diadakan.

“Namun, dari anggaran besar itu, kami akan mendulang untung,” ujarnya.

Formula E

Agag menyebutkan, pihaknya juga sudah mendapatkan sponsor, kenaikan anggaran pemda, dan pendapatan dari hak siar media juga mulai meningkat. Semua itu disebut bisa menjadi pendorong Formula E untuk meraih untung.

Memasuki musim keenam, beberapa produsen mobil besar seperti, Mercedes dan Porsche sudah mulai bergabung. Mereka siap bersaing dengan produsen mobil lainnya seperti, Nissan, Citroen, BMW, Jaguar, Audi, dan Mahindra.

Kisah Kelam di Montreal

Kota Montreal, Kanada, memutuskan untuk tidak melanjutkan sebagai tuan rumah di ajang balapan mobil listrik itu pada musim 2017/2018. Sebelumnya, Montreal sempat menjadi tuan rumah dalam dua seri balapan pada musim 2016/2017, yakni 28-29 Juli 2017.

Keputusan Montreal tidak melanjutkan sebagai tuan rumah disebabkan oleh perencanaan anggaran yang tidak baik. Jumlah anggaran untuk ajang mobil balap itu dinilai terlalu besar untuk sekedar mengangkat nama kota tersebut. 

Formula E

Awalnya, Formula E bekerja sama dengan Montréal céest électrique untuk tiga seri balapan dengan opsi perpanjangan tiga seri. Walikota Montreal pada 2016, Denis Coderre memperkirakan biaya balapan secara total senilai US$24 juta selama enam tahun ke depan.

Sayangnya, ketika pergantian Walikota menjadi Valerie Plante pada 2017, semua rencana Montreal untuk menjadi tuan rumah Formula E dibatalkan. Kota asal Kanada itu pun tidak akan menyelenggarakan seri balapan pada musim 2017/2018.

Alasan Plante cukup kuat, ada tagihan dari seri balapan sebelumnya yang belum dibayar dan potensi kenaikan biaya pada seri selanjutnya.

Plante pun menyalahkan kepemimpinan sebelumnya, yakni Coderre yang merancang rencana tersebut. Pasalnya, Montréal céest électrique telah menggunakan anggaran pemerintah daerah melewati batas senilai US$10 juta.

Formula E

Sejumlah penonton Formula E seri New York pada 13 Juli 2019. / Bloomberg

Selain itu, Montréal céest électrique juga memiliki utang US$6,5 juta kepada Formula E Operations Limited dan Evenko, promotor acara di Montreal.

Permasalahan kian rumit ketika Hydro-Quebec, sponsor utama Formula E di Montreal, menyatakan mundur untuk satu balapan di musim 2017/2018. Alasannya, Quebec menilai tidak banyak orang yang menonton balapan mobil listrik tersebut. Jumlah penonton hanya mencapai 40% dari target awal yang ditentukan.

Sementara itu, Organisasi The Formule Citoyenne mencatatkan 70% pedagang lokal merasa balapan di pusat kota Montreal telah merugikan bisnisnya, 28,6% pedagang mengaku tidak mendapatkan untung, dan hanya 1,4% yang merasakan cuan dari ajang tersebut.

Sebelumnya, publik Montreal juga mengkritisi kebijakan penggunaan anggaran publik untuk ajang balapan mobil listrik tersebut. Pasalnya, beberapa kota penyelenggara ajang itu tidak menggunakan dana publik, melainkan hanya menggunakan sponsor.

Paris pun dijadikan contoh kota yang tidak menggunakan uang publik untuk mengadakan Formula E.

Juru bicara kota Matthieu Lamarre mengatakan, Formula E Paris diadakan tanpa menggunakan dana publik. “Renovasi trotoar dan lokasi arena balapan dalam kota dilakukan menggunakan dana dari sponsor,” ujarnya seperti dikutip dari Cbc.ca pada Juni 2017.

Belajar dari kejadian Montreal, partisipasi Jakarta di Formula E diharapakan sudah dikaji secara matang agar tidak merugikan masyarakat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
anies baswedan, Formula E Championship

Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top