Perbaikan Transportasi, Anies Baswedan : Jakarta Satu dari Kota Terbaik di Dunia

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebutkan Jakarta berhasil meraih award untuk perbaikan transportasi. Award akan diterima Januari tahun depan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 05 Desember 2019  |  19:54 WIB
Perbaikan Transportasi, Anies Baswedan : Jakarta Satu dari Kota Terbaik di Dunia
Rangkaian kereta Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus-Bundaran HI melintas di Stasiun Fatmawati, Jakarta, Rabu (8/5/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebutkan Jakarta berhasil meraih award untuk perbaikan transportasi. Award akan diterima Januari tahun depan. 

Anies mengumumkan prestasi sebagai satu dari tiga kota terbaik di dunia dalam perbaikan transportasi itu diraih Jakarta baru-baru ini.

"Ini pengumuman awal, karena award-nya diberikan Januari besok, satu dari kota terbaik di dunia dalam perbaikan transportasi," kata Anies saat menghadiri peluncuran inovasi layanan E-TLE Development Program Polda Metro Jaya, Kamis (5/12/2019).

Menurut Anies, capaian ini adalah hasil dari kerja bersama semua pihak, terutama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kepolisian dalam penyediaan transportasi publik yang terintegrasi serta layanan penindakan berbasis teknologi.

Anies mengapresiasi inovasi-inovasi yang dikembangkan Polda Metro Jaya. Seperti sistem tilang elektronik menggunakan kamera super canggih atau Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE).

Menurut Anies dengan pendekatan ini telah terjadi perubahan di Jakarta.

"Jakarta adalah kota megapolitan terbesar di belahan selatan dunia dan apa yang kita lakukan di Jakarta sebetulnya rujukan bagi beberapa tempat, tidak hanya di Indonesia tapi tempat-tempat lain di dunia," kata Anies.

Tantangan pengelolaan lalu lintas di Jakarta, kata dia, harus diselesaikan dengan kolaborasi dan memanfaatkan terobosan teknologi.

Anies membeberkan perkembangan transportasi di Jakarta. Pada tahun 1999 jumlah pengguna kendaraan pribadi sebesar 49 persen penduduk dan pengguna kendaraan umum 51 persen.

Kini angka tersebut berbalik. Pengguna transportasi pribadi tinggal 23 persen dan 77 persen dari warga Jakarta menggunakan kendaraan umum.

Menurut dia, selama warga Jakarta masih menggunakan kendaraan pribadi maka masalah kemacetan akan selalu hadir.

"Jadi salah satu solusinya adalah memindahkan penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum," kata Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Anies mengakui memindahkan penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum tidak mudah karena harus didukung kenyamanan dan kepastian waktu tempuh.

Tahun 2018, Pemprov DKI Jakarta mengintegrasikan kendaraan umum yang ada di Jakarta, mulai dari angkot sampai ke Transjakarta dalam satu sistem betnama Jak Lingko.

Menurut Anies, kehadiran sistem tilang elektronik yang diprakarsai Polda Metro Jaya yang dikolaborasikan di rute Transjakarta berdampak positif pada peningkatan jumlah penumpang.

"Kita mengintegrasikan, kita berkolaborasi mensterilkan jalur-jalur Transjakarta, ketika pengendara pribadi melihat Transjakarta bisa melewati rute-rute dengan leluasa, dia akan berpikir lebih baik berpindah kendaraan, tapi bila jalur Transjakarta macet maka tidak ada bedanya," kata Anies.

Hadirnya sistem tilang elektronik di jalur busway, lanjut Anies, memicu terjadinya perubahan. Pada tahun 2017 rute bus yang tersambung adalah 121 rute, sekarang sudah ada 210 rute.

Sementara itu, rute yang terintegrasi di tahun 2017 ada lima, sekarang bertambah menjadi 21 rute.

Selain rute, jumlah penumpang kendaraan umum di Jakarta juga meningkat. Pada 2016 tercatat penumpang Transjakarta 338 ribu, kini rata-rata 700 ribu penumpang orang.

Puncaknya, lanjut Anies, tiga hari lalu jumlah penumpang Transjakarta mencapai 987 ribu orang.

Ini, kata Anies, menunjukkan ada peralihan pengguna kendaraan pribadi.

"Apa artinya? Ketika dari 338 ribu naik menjadi 700 ribu, ada 360 ribu orang yang memutuskan meninggalkan kendaraan pribadi beralih ke kendaraan umum, maka kemacetan di Jakarta bisa dikurangi," urai Anies.

Anies menargetkan tahun ini Jakarta keluar dari 10 besar predikat kota termacet di dunia.

Pada 2017 Jakarta dinobatkan sebagai kota nomor 4 termacet di dunia, lalu predikat ini turun di tahun 2018 menjadi nomor tujuh kota termacet di dunia.

"Kita bersama-sama keluar dari 10 besar kota paling macet. Sekarang kalau turun di nomor tujuh artinya peningkatan kita sangat drastis," kata Anies.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jakarta, transportasi massal

Sumber : Antara

Editor : Saeno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top