PSI Bikin Rapat DPRD DKI Panas Lagi, Singgung Komputer BPRD Rp128 Miliar

Rapat Komisi C Bidang Keuangan DPRD DKI Jakarta memanas akibat konflik internal antara anggota Fraksi PSI Anthony Winza Prabowo dengan anggota lain terutama Cinta Mega dari Fraksi PDIP.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 06 Desember 2019  |  16:26 WIB
PSI Bikin Rapat DPRD DKI Panas Lagi, Singgung Komputer BPRD Rp128 Miliar
DPRD DKI - beritajakarta.com

Bisnis.com, JAKARTA — Rapat Komisi C Bidang Keuangan DPRD DKI Jakarta memanas akibat konflik internal antara anggota Fraksi PSI Anthony Winza Prabowo dengan anggota lain terutama Cinta Mega dari Fraksi PDIP.

Konflik internal ini terungkap dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (R-APBD) 2020 antara Komisi C dengan mitra kerja para direktur utama Badan Usaha Milik Daerah, Kamis (5/12/2019).

Awalnya, ketika membahas anggaran penyertaan modal daerah (PMD) PDAM Jaya (PAM Jaya), Anthony tampak kecewa dengan keputusan penurunan PMD PAM Jaya dari pengajuan Rp3,3 triliun menjadi hanya Rp516 miliar.

Menurutnya, anggaran untuk air ini lebih penting daripada Formula E. Masih banyak masyarakat kelas bawah yang butuh air, sementara ajang balap hanya bisa dinikmati kalangan atas.

Menanggapi hal itu, Cinta dan beberapa anggota lain menyindir celetukan Anthony yang secara tak langsung mengkritisi keputusan Badan Anggaran DPRD DKI Jakarta.

Cinta pun meminta Anthony untuk tidak menyebar pembahasan rapat kepada media seperti yang telah dilakukannya sore hari.

Anthony pun sontak berteriak "Ini tuduhan apa lagi," ujar Anthony emosional.

Anthony dan Cinta pun adu mulut. Anggota dewan lainnya kemudian mencoba menenangkan ke dua anggota tersebut.

Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Habib Muhamad bin Salim Alatas kemudian menghentikan rapat sementara dan meminta Anthony masuk ke dalam ruangan dewan untuk konsolidasi internal.

"Anthony saya pimpinan rapat, masuk ke dalam dulu," ujar Habib. Beberapa saat kemudian, Anthony pun masuk ke dalam ruangan.

Ruang rapat pun riuh. Pimpinan Komisi C sepakat rapat sebaiknya ditunda, mitra kerja para pimpinan BUMD pun diminta untuk menunda presentasinya keesokan hari saja.

"Maaf, ya, bapak-bapak. Saya agak terbawa emosi ini, jadi bikin suasana seperti ini," ujar Cinta. Tak lama setelah itu, awak media yang berada di dalam ruangan diminta keluar oleh petugas.

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra S Andyka mengungkap bahwa akar masalah internal ini sebenarnya ada pada kekecewaan anggota Komisi C yang menganggap Anthony tak satu visi dengan komisi.

Pasalnya, Anthony kedapatan mengkritisi pengadaan komputer Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp128,9 miliar ke beberapa media. Hal ini menurutnya mengada-ada dan tak sesuai dengan kesepakatan rapat Komisi C.

"Jadi ini membuat rekan-rekan nggak nyaman. Ditambah waktu saya berbicara juga [dalam rapat malam hari], saya diserang. Padahal saat dia bicara saya nggak nyerang. Saya bilang tunggu selesai bicara, dong, jadi saya hampiri, eh, teriak lain lagi mau dipidana segala macam. Padahal kita kan sama-sama punya hak imunitas. Jadi anggota lain juga ikut emosi. Ya, dinamika lah," ujar Andyka ketika ditemui Bisnis, Kamis (5/12/2019) malam.

"Saya sempat lihat, teman-teman juga. 'PSI menyoroti pembelian satu unit komputer Rp128,9 miliar'. Logika berpikir di mana? Padahal kita sudah bahas bahwa Rp128,9 miliar itu untuk [mendukung] perangkat IT lebih dari 4.000 titik untuk online system untuk meningkatkan pendapatan. Ya, silahkan lah kita punya pendapat, tapi jangan tabrak juga pendapat yang lain," tambahnya.

Menurut Andyka, baju fraksi harus dilepas ketika memasuki komisi. Sebuah komisi harus bekerja dengan satu visi. Harapannya dinamika politik tidak mengurangi kinerja kita sebagai wakil rakyat, juga mengurangi komunikasi dengan mitra kerja komisi dalam pelaksanaandan pengawasan program yang diamanatkan gubernur atau pihak eksekutif.

Andyka menyebut sebenarnya dinamika semacam ini merupakan hal wajar dalam politik. Oleh sebab itu, rapat pembahasaan APBD memang harus ditunda untuk mendinginkan suasana.

"Karena kita berasal dari latar belakang berbeda, partai politik yang berbeda, sehingga ada dinamika itu wajar. Dari awal mereka [PSI] memang sudah buat statement bahwa mereka akan menghantam semua program gubernur. Mau baik atau buruk. Apapun," jelasnya.

"Jadi saya bilang, ya oke, kita saling berhadapan. Berhadapan dalam hal diplomasi, adu argumentasi. Saya sebagai anggota partai pengusung gubernur, ya saya bilang ayok kita punya kemampuan, jadi adu argumen, adu kemampuan, adu visi ke depan. Biar masyarakat nanti yang menentukan," tutupnya.

Sementara itu, dalam rincian APBD 2020 di situs resmi apbd.jakarta.co.id, anggaran pengadaan yang disebut 'komputer' oleh Anthony tercantum dengan nama kegiatan Peningkatan Kapabilitas Data Analytic dan Manajemen Resiko dengan Pagu Kegiatan Rp128,99 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dprd dki, partai solidaritas indonesia

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top