Bursa Cawagub DKI : Dominasi Gerindra vs Rayuan Masa Depan PKS

Persaingan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sosial (PKS) memperebutkan kursi wakil gubernur baru DKI Jakarta memasuki klimaks. Taktik kedua partai politik hingga tingkat nasional mendapat ujian.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  18:00 WIB
Bursa Cawagub DKI : Dominasi Gerindra vs Rayuan Masa Depan PKS
Ahmad Riza Patria - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Persaingan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sosial (PKS) memperebutkan kursi wakil gubernur baru DKI Jakarta memasuki klimaks. Taktik kedua partai politik hingga tingkat nasional mendapat ujian.

Kini, keduanya sama-sama telah rampung bersafari ke seluruh Fraksi DPRD DKI Jakarta memperkenalkan masing-masing calonnya, Nurmansjah Lubis dari PKS dan Ahmad Riza Patria dari Gerindra.

Nantinya, partai berlambang padi di tengah bulan sabit kembar dan partai garuda emas ini diagendakan bertemu pada Senin (10/2/2020).

Beberapa pengamat memproyeksi persaingan kursi DKI-2 ini bakal ketat, sebab akan menjadi indikator peta perpolitikan nasional.

Gerindra yang kini masuk ke barisan koalisi pemerintah pusat, dianggap mampu 'menang mudah' apabila partai pengusung Joko Widodo-Ma'ruf Amin di tataran Ibu Kota kompak.

Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta Muhammad Taufik bahkan tak malu menghadirkan kembali 'kemesraan' partainya dengan PDIP selaku 'partai penguasa', sebagai sesama partai nasionalis, bersaudara, dan memiliki persenyawaan lama.

"Karena itu saya meyakini bahwa calon yang kami usulkan itu akan direspon positif oleh PDIP dan kalau udah dapet respon positif, InsyaAllah pak Riza akan menjadi wakil gubernur," ujar Taufik selepas mengunjungi Fraksi PDIP, Rabu (5/2/2020).

Kemampuan lobi anggota menjadi kelebihan utama. Dominasi Gerindra sebagai runner up di DPRD DKI Jakarta dengan torehan 19 kursi pun membuat partai besutan Prabowo Subianto ini seakan berada 'di atas angin'.

Kuda Hitam

Namun selaku kuda hitam yang bisa memberi kejutan, PKS dianggap mampu menawarkan sesuatu yang baru. Bargaining position sebagai partai pengusung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan oposisi pemerintah pusat terus dijaga menjadi kuncinya.

Harapannya, suara parpol di tataran DKI Jakarta yang tertarik mengusung Anies sebagai Calon Presiden RI 2024-2029 dan suara parpol sesama oposisi pemerintah pusat menjadi harapan besar bagi PKS.

"Kalau beliau [Anies] sukses menjadi gubernur, beliau punya potensi melanjutkan sampai dua kali, bahkan mungkin naik sebagai presiden," ungkap Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta Mohammad Arifin selepas mengakhiri safari politik dengan berkunjung ke Fraksi PKB dan PPP, Rabu (5/2/2020).

"Makanya PKS sebagai pengusung ingin memberi jaminan pak Anies harus sukses mengurus Jakarta. Oleh sebab itu perlu di-support oleh wakil gubernur yang handal. Kita lihat Bang Ancah orangnya. InsyaAllah," tambahnya.

Terlebih, Arifin melihat bahwa suara parpol pengusung dan oposisi di tingkat regional DKI Jakarta lebih cair daripada koalisi nasional. Sehingga, dengan adanya lobi dari tingkat pusat, harapan keterpilihan Nurmansjah bisa meningkat.

"Presiden PKS pun dalam waktu dekat sudah membangun komunikasi dengan NasDem, dengan PAN, dan beberapa partai lain. Biasanya kalau di DKI Jakarta itu kan peran pimpinan pusat partai sangat kuat. Hampir semua partai begitu," jelasnya.

Pusat Jadi Penentu

Peneliti Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aisah Putri Budiarti menilai dinamika politik nasional menjadi hal paling menentukan dalam peta politik keterpilihan Cawagub DKI. Dalam hal ini, Gerindra lebih diuntungkan.

Namun, peta kekuatan baru DPRD DKI Jakarta 2019-2024 jangan dilupakan karena bisa saja nantinya justru mengganjal Gerindra.

"Kekuatan politik saat ini berbeda dengan periode sebelumnya, misalnya PSI saat ini memiliki kursi cukup signifikan, 8 kursi dan Hanura tidak memiliki kursi. Situasi ini tentu mengubah dinamika internal DPRD DKI Jakarta dalam menentukan Cawagub," ujarnya kepada Bisnis.

Terkait dengan bargaining position PKS menawarkan Anies sebagai jagoan di masa depan, Aisah masih ragu taktik ini akan berhasil dalam waktu dekat.

Perlu dilihat dulu, apabila pemilihan Cawagub DKI berjalan terbuka dan setiap parpol tampak memperlihatkan caranya menentukan pilihan, justru bisa menjadi gambaran dinamika politik parpol tersebut dalam lima tahun ke depan.

"Kita tahu bahkan hingga kini pun belum ada partai yang secara resmi menyatakan akan mendukung Anies. Artinya, hal ini tidak akan sekuat itu mempengaruhi peta dukungan Cawagub untuk saat ini," jelasnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin mengungkap hal serupa, "PDIP akan bergabung ke Gerindra, ini hanya soal waktu saja. Karena kita tahu, Megawati dan Prabowo sedang mesra di tingkat nasional. Jika Gerindra, Golkar, PAN, dan PDIP bergabung, sudah selesai permainan," ungkapnya.

Sementara itu, beberapa partai politik yang tengah 'PDKT' untuk mengusung Anies di masa depan, menurut Ujang memang memiliki potensi meningkatkan suara PKS.

"NasDem misalnya, bisa saja dukung Nurmansjah Lubis. Tapi kan suaranya tak signifikan untuk membendung fraksi-fraksi yang mendukung Ariza Patria."

Pengamat Politik Hendri Satrio mengakui Gerindra memang di atas angin dengan posisinya sebagai koalisi baru di level nasional. Namun, banyak juga faktor penentu kegagalan Ariza Patria.

"Memang calon Gerindra ini di atas angin. Tapi dengan silaturahmi kebangsaan NasDem dan PKS, atau PKS ke NasDem, ini bisa saja berubah peta konsoliasinya. Minimal PKS ada tambahan suara dari NasDem," jelasnya.

Selain itu, faktor-faktor ganjalan teknis seperti tata tertib yang tak bisa disepakati atau Rapat Paripurna yang tak bisa kuorum, juga patut dipertimbangkan.

Terakhir, menurut Hendri, apabila suara Anies memang memiliki kekuatan ke internal DPRD, maka justru PKS yang diuntungkan. Hal ini merupakan upaya menjaga jangan sampai ada 'matahari kembar' agar Anies bisa mempertahankan dominasinya.

"Jadi kalau dari sisi yang ini, Anies kemungkinan besar memilih Nurmansjah Lubis. Karena satu, dia dari partai PKS yang datang sebagai oposisi. Pendukungnya [elektabilitas Nurmansjah] tidak banyak secara politik. Berbeda dengan calon Gerindra," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wagub dki

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top