Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PSBB DKI Jakarta Diperketat, Bolong di Bodetabek. Kapan Berakhirnya?

Pelandaian pertambahan kasus harian sejak pengetatan PSBB tampak pada grafik kasus onset, juga pada nilai Rt atau reproduksi virusnya.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 25 September 2020  |  14:12 WIB
Pemasangan spanduk Gebrak Masker di Kota Bekasi. - www.corona.bekasikota.go.id
Pemasangan spanduk Gebrak Masker di Kota Bekasi. - www.corona.bekasikota.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk kembali memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai 11 Oktober 2020.

Kali ini, pertimbangan yang diambil berkaitan dengan laju pertumbuhan kasus harian di daerah Bodetebek yang masih terbilang tinggi.

Menurut Anies, laju pertumbuhan kasus aktif Covid-19 di DKI Jakarta sudah melandai sejak pemberlakuan PSBB dua belas hari lalu.

Bahkan, dia menyodorkan data, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah berhasil menekan  laju peningkatan kasus aktif menjadi 12 persen.

“Pada 12 hari pertama bulan September, pertambahan kasus aktif sebanyak 49 persen atau 3.864 kasus. Pada periode PSBB, yakni 12 hari berikutnya, penambahan jumlah kasus aktif masih terjadi, namun berkurang menjadi 12 persen atau 1.453 kasus,” kata Anies melalui keterangan resmi pada Jumat (25/9/2020).

Dia menjelaskan, pelandaian pertambahan kasus harian sejak pengetatan PSBB tampak pada grafik kasus onset, juga pada nilai Rt atau reproduksi virusnya.

Pada awal September, nilai Rt Jakarta adalah 1,14 dan saat ini berkurang menjadi 1,10.

“Artinya, 100 orang berpotensi menularkan virus kepada 110 orang lainnya. Untuk itu, penularan harus terus ditekan hingga nilai Rt di bawah 1,00,” jelas Anies.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengklaim pemprov mampu mengendalikan 90 persen wilayah Jawa Barat dari Covid-19.

Zona merah hanya terkumpul di kawasan penyangga DKI Jakarta yakni wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi atau Bodebek.

Alhasil, manajemen penanganan Covid-19 di Jawa Barat terbagi menjadi tiga berdasarkan geografis.

"Di desa ini jauh dari Covid dan ekonominya juga berjalan [dengan baik]. Kalau saya perlakukan dengan metode yang sama [dengan kawasan kota/zona merah] atau pukul rata, itu tidak adil," katanya dalam 'Webinar Strategi Menurunkan Covid-19, Menaikkan Ekonomi', Minggu (20/9/2020).

Lebih lanjut, Kang Emil - begitu dia biasa disapa - menyebut manajemen penanganan yang pertama adalah penanganan pandemi di Bodebek harus sejalan dengan DKI Jakarta.

Apa yang menjadi kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan otomatis diberlakukan pula di Bodebek.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman memperkirakan Provinsi DKI Jakarta melampui gelombang pertama Pandemi Covid-19 pada sebelum akhir tahun 2020.

Dicky berpendapat prediksi itu berdasar pada cakupan testing DKI Jakarta yang cenderung stabil dalam batas yang telah ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Untuk DKI Jakarta dan sekitarnya bisa diperkirakan sebelum akhir tahun ini gelombang pertama bisa selesai. Bahwa DKI Jakarta bisa mengalami gelombang berikutnya tentunya tetap ada,” ujar Dicky melalui pesan suara dari Australia, Selasa (22/9/2020).

Stabilitas kapasitas testing, menurut Dicky, memiliki modal yang pasti secara keilmuan untuk melandaikan kurva pandemi di DKI Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pbb covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top