Anies Siapkan Antisipasi Jika Kasus Aktif Covid-19 Capai 100.000 per Hari

Kasus aktif infeksi virus Corona di Jakarta trennya terus meledak dalam beberapa pekan terakhir. Pada 16 Juni 2021 kasus aktif Covid-19 di Jakarta masih berada pada 12.000 kasus.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui monitor CCTV meninjau kondisi terkini di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (29/6/2021) malam./Antara/Dokumentasi Pribadi
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui monitor CCTV meninjau kondisi terkini di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (29/6/2021) malam./Antara/Dokumentasi Pribadi

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan Ibukota bakal kewalahan apabila kasus Covid-19 terus meningkat sampai dalam beberapa waktu ke depan.

Bila tidak dilakukan pengetatan segera, maka 100.000 kasus aktif di Jakarta akan tercapai antara tanggal 6-10 Juli 2021.

Anies mengatakan kasus aktif infeksi virus Corona di Jakarta trennya terus meledak dalam beberapa pekan terakhir. Pada 16 Juni 2021 kasus aktif Covid-19 di Jakarta masih berada pada 12.000 kasus.

Berselang satu hari, kasus itu bahkan meledak hingga dua kali lipa menjadi 22.000 kasus aktif. Sepekan setelahnya pada 24 Juni 2021 kasus aktif Covid-19 di Jakarta meningkat menjadi 40.647 kasus.

Anies memaparkan, pada 19 Juni kasus aktif Covid-19 sebesar 27.112 kasus dan pada 8 hari kemudian pada 27 Juni meningkat menjadi 57.297 kasus aktif.

"Ini semua menggambarkan bahwa setiap 8 hari kasus meningkat sebanyak dua kali lipat," ujar Anies dalam konferensi virtual, Jumat malam (2/7/2021).

Adapun, pada 2 Juli 2021 kasus aktif Covid telah melonjak sangat tajam menjadi 78.631 dari total kasus positif sebanyak 560.408 atau sebesar 14 persen.

Kasus aktif pada saat ini telah mencapai 230 persen lebih besar dibandingkan dengan puncak gelombang pertama pada awal Februari 2021 dan masih menunjukkan tren kenaikan dengan cepat.

Dengan demikian, Anies mengatakan berdasarkan pengalaman sebelumnya dari seluruh kasus aktif yang ditangani, sebanyak 40 persen di antaranya membutuhkan perawatan oleh tenaga kesehatan.

"Jadi, kalau sampai ada 100.000 kasus, berarti kita akan membutuhkan perawatan untuk 40.000 orang. Ini jumlah yang fantastis," jelasnya.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Muhammad Ridwan
Editor : Edi Suwiknyo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper