Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Marak Kasus Jambret, Komunitas Ojol Tawarkan Jasa Pengamanan Bagi Rombongan Pesepeda

Komunitas Ojol ini tawarkan jasa pengamanan bagi rombongan pesepeda seiring maraknya kasus jambret.
Sejumlah pesepeda memacu kecepatan saat berlangsung uji coba pemberlakuan lintasan road bike di jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta, Minggu (23/5/2021)./Antararn
Sejumlah pesepeda memacu kecepatan saat berlangsung uji coba pemberlakuan lintasan road bike di jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta, Minggu (23/5/2021)./Antararn

Bisnis.com, JAKARTA - Maraknya tindak kejahatan yang menyasar para pesepeda di jalan membuat sejumlah pengemudi ojek online atau ojol menawarkan jasa pengawalan. Komunitas Gabungan Aksi Roda Dua atau Garda menjadi salah satu kelompok yang menawarkan jasa tersebut.

Ketua Presidium Nasional Garda, Igun Wicaksono, mengatakan aktivitas ini sudah dilakukan sejak November 2020. Jasa yang mereka tawarkan adalah mengawal dan mendampingi para pesepeda yang ingin menjalankan hobinya dengan sepeda motor mereka.

Igun menjelaskan jika Garda dibentuk oleh komunitas para pengemudi ojol. Mereka yang berkecimpung di sini adalah sopir ojek pilihan dengan latar belakang pernah menjadi petugas keamanan atau terlatih dalam jasa pengamanan.

“Dengan jaringan ojol yang banyak dan siap turut membantu apabila ada permasalahan kriminalitas di jalan yang mengancam para pesepeda," kata Igun saat dihubungi Senin, 7 Maret 2022.

Menurut Igun, pihaknya siap memberikan pengawalan kepada para pesepeda siang atau malam hari.

Dalam menjalankan aktivitas pengawalan, kata Igun, satu tim Garda terdiri dari tiga orang dengan dua sepeda motor yang akan mengawal di depan dan belakang rombongan pesepeda. Para pengawal dibekali alat komunikasi berupa handy talkie untuk berkomunikasi.

Biaya yang dikeluarkan untuk bisa menikmati layanan pengawalan dari Garda adalah Rp750 ribu per jam untuk 1 tim dengan jumlah rombongan pesepeda maksimal 10 orang.

“Apabila lebih dari 10 orang maka harus gunakan jasa 2 tim pengamanan, agar pengawalan bisa efektif,” ucap dia.

Namun Igun menyampaikan bahwa belakangan ini pihaknya mulai jarang mendapatkan pelanggan. Pasalnya tren bersepeda mulai menurun di tahun ini seiring melandainya kasus Covid-19 dan aktivitas masyarakat yang berangsur normal.

Meski tren bersepeda mulai menurun, kata Igun, potensi kejahatan yang menyasar para pesepeda tetap ada. Ia pun mengimbau agar para pesepeda lebih berhati-hati. Ia menduga kembali ramainya tindak kriminal yang menargetkan pesepeda tak lepas dari mulai jarangnya komunitas yang menggunakan jasa pengawalan.

"Sepertinya para pelaku kriminal yang memang bisa dibilang spesialis kejahatan jambret atau merampok pesepeda melihat peluang ini, sudah tidak ada yang mengawal para pesepeda sehingga mereka jadi target kejahatan para pelaku kriminal tersebut," ucap Igun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Newswire
Sumber : Tempo.co
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper