Perlu Kerja Sama Jangka Panjang Untuk Kerek Kunjungan Wisatawan ke Jakarta

Jakarta Hotels Association menilai diperlukan kerja sama dan proses jangka panjang yang melibatkan pemangku kepentingan pariwisata untuk mengerek tingkat kunjungan turis ke ibu kota.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 02 Mei 2018 19:36 WIB
Suasana simpang susun semanggi di Jakarta, Minggu (19/11/2017) malam. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Jakarta Hotels Association menilai diperlukan kerja sama dan proses jangka panjang yang melibatkan pemangku kepentingan pariwisata untuk mengerek tingkat kunjungan turis ke ibu kota.

Chairman Jakarta Hotels Association (JHA) Richard S. Mau mengatakan diperlukan proses yang berkelanjutan, komitmen, dan komunikasi antara sesama pemangku kepentingan untuk menggaet turis yang ingin secara khusus berwisata ke Jakarta. Menurutnya, berbagai kota tujuan wisata di dunia seperti Bangkok, Tokyo, dan lain-lain berhasil menarik wisatawan karena serius mengembangkan industri pariwisata dan industri terkait lainnya sejak lama.

"Mereka telah melakukannya selama bertahun-tahun dengan upaya khusus, pendanaan, dan pengembangan yang berkelanjutan," tutur Richard kepada Bisnis, Rabu (2/5/2018).

Dia menyatakan tujuan utama wisatawan mancanegara (wisman) datang ke ibu kota adalah untuk melakukan perjalanan bisnis. Richard menambahkan hotel dengan tujuan menarik turis yang ingin berwisata dan rekreasi sedang dikembangkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian Pariwisata. 

"Akan tetapi, pariwisata rekreasi bukan sebuah lampu yang bisa dihidupkan begitu saja. Diperlukan waktu, alokasi sumber daya, infrastruktur, dan pengembangan daya tarik yang dapat bersaing di panggung global," jelasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat kunjungan wisman ke ibu kota pada Maret 2018 naik 20,25% menjadi 244.612 orang dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebanyak 203.418 orang. Adapun secara year-on-year(yoy) terjadi pertumbuhan 10,37% dari sebelumnya sebanyak 221.620 orang.

Namun, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) justru turun 0,66% menjadi 61,77% pada Maret 2018 dibandingkan bulan sebelumnya yang sekitar 62,43%. Okupansi Maret 2018 juga lebih rendah 2,48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, JHA mengklaim sebagian besar anggotanya mencatatkan pertumbuhan bisnis pada Maret 2018 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sayangnya, JHA tidak menyebutkan secara detail pertumbuhan yang terjadi termasuk dalam hal okupansi.

 

Tag : pariwisata, dki jakarta
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top