Kasus Haldi, Pelayanan Kesehatan di Ibu Kota Dikritisi

Jakarta Monitoring Development (JMD) mengkritisi buruknya pelayanan Dinkes DKI Jakarta.
Fitri Sartina Dewi | 29 Juni 2018 23:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Jakarta Monitoring Development (JMD) mengkritisi buruknya pelayanan Dinkes DKI Jakarta.

Hal itu diutarakan Direktur Eksekutif JMD Mahfud Latuconsina menanggapi kejadian yang menimpa Haldi, warga DKI Jakarta baru-baru ini yang kesulitan memesan ambulans Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta.

“Kami turut prihatin kepada saudara Haldi yang susah mendapat pelayanan kesehatan dari Dinkes DKI Jakarta. Kalau di New York, sigap segera melayani pasien. Ini malah disuruh fotokopi KTP dan KK dulu, pasien dibiarkan. Khawatir keburu meninggal,” kata Mahfud kepada melalui keterangan resmi pada Jumat (29/6/2018).

Dia menambahkan Dinkes DKI Jakarta juga kekurangan ambulans. Dari yang tersedia 87 unit, menurutnya, yang aktif hanya 40 unit.

“Ya, memang Dinkes DKI Jakarta kekurangan ambulans. Dari informasi yang kami dapatkan, dari 87, hanya 40 unit ambulans yang aktif. Setara dengan New York, seharusnya di Jakarta tersedia sekitar 800 unit ambulans yang siap melayani warga,” ujarnya.

Dia juga menilai program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH) tidak berjalan optimal. Pasalnya, jarang terlihat dokter yang mendatangi rumah warga. Padahal, untuk menjalankan program tersebut telah disiapkan 481 tim yang terdiri dokter, bidan, dan perawat.

“Yang 481 tim itu di mana ya? Ke mana saja? Jika ditanya ke warga Jakarta, tidak ada yang pernah mendapat pelayanan dokter KPLDH,” ucapnya.

Tag : pelayanan kesehatan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top