Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonomi DKI Triwulan II/2018 Melambat, Ini Analisis Bank Indonesia

Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II/2018 melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya, yakni dari 5,99% menjadi 5,93% (yoy).

Bisnis.com, JAKARTA--Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II/2018 melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya, yakni dari 5,99% menjadi 5,93% (yoy).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Trisno Nugroho mengatakan realisasi tersebut lebih rendah dari prakiraan Bank Indonesia.

"Perlambatan terutama disebabkan oleh pelemahan kinerja Pembentukan Modal Tetap Bruto [PMTB] dan ekspor yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan II/2018 turun menjadi 5,93% (yoy), dari 5,99% (yoy)," katanya, Selasa (7/8/2018)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, pertumbuhan sepanjang semester I/2018 5,96% (c-to-c) juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya 6,28% (c-to-c).
 
Melambatnya kinerja PMTB terutama disebabkan oleh perlambatan pada investasi bangunan, sejalan dengan pembangunan infrastruktur ibukota yang rata-rata telah mencapai progres 90%.

"Hal berdampak pada relatif rendahnya aktivitas belanja modal," ungkapnya.

Perlambatan tersebut juga berdampak pada berkurangnya impor barang modal, sehingga menyebabkan kinerja impor pada triwulan II/2018 cenderung melambat.

Lebih lanjut, berkurangnya kinerja ekspor dipengaruhi oleh melambatnya ekspor jasa yang mendominasi komponen tersebut.

Melambatnya ekspor jasa ini disebabkan karena berkurangnya jumlah tamu hotel mancanegara pada triwulan II/2018 yang umumnya datang untuk urusan berbisnis atau MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition).

"Seperti diketahui, penyelenggaraan MICE berkurang drastis karena bertepatan dengan bulan puasa dan libur Lebaran," jelasnya.
 
Di sisi lain, kemampuan konsumsi rumah tangga di DKI Jakarta pada triwulan II/2018 menguat dan mencatat pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Hal tersebut tidak terlepas dari momen bulan puasa dan hari raya Idul Fitri yang mendorong belanja masyarakat lebih tinggi.

Selain itu, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) juga menjadi faktor pemacu belanja rumah tangga.

"THR yang juga dinikmati oleh PNS dan pensiunan mendorong belanja pegawai pada keuangan pemerintah," kata Trisno.

Hal ini kemudian mendongkrak pertumbuhan konsumsi pemerintah, yang pada triwulan II/2018 kembali tumbuh positif setelah mengalami kontraksi pada triwulan sebelumnya.

Konsumsi Lembaga Non Publik yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) juga mengalami akselerasi pertumbuhan, sejalan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada bulan Juni.
 
Kinerja perekonomian dari sisi pengeluaran tersebut juga tercermin pada kinerja perekonomian dari sisi lapangan usaha (LU).

"Menguatnya konsumsi rumah tangga turut mendorong pertumbuhan LU Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya," jelasnya.

Namun, melambatnya investasi bangunan karena aktivitas pembangunan pada triwulan II/2018 yang cenderung lebih rendah, menyebabkan LU Konstruksi tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

"Aktivitas kontruksi yang melambat tersebut juga menahan pertumbuhan LU Industri Pengolahan sehingga tidak dapat tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya," imbuhnya.

 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper