Enam SPBG Jakpro Terancam Tutup

PT Jakarta Propertindo terancam menutup sebanyak enam stasiun pengisian bahan bakar gas sementara karena terdampak oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar dan toll fee atau biaya pengangkutan gas bumi.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 27 Agustus 2018 20:41 WIB
SPBG PT Jakarta Propertindo - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Jakarta Propertindo terancam menutup sebanyak enam stasiun pengisian bahan bakar gas sementara karena terdampak oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar dan toll fee atau biaya pengangkutan gas bumi.

Saat ini, ada sebanyak 21 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang aktif di Jakarta. Tujuh dari jumlah SPBG tersebut merupakan milik PT Jakarta Propertindo (Jakpro) melalui anak perusahannya PT Jakarta Utilitas Propertindo (JUP). Adapun dari tujuh SPBG ini tercatat sebanyak enam SPBG bekerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan satu SPBG dengan PT Pertamina. Enam dari tujuh SPBG tersebut kini terus mengalami kerugian sekitar Rp370 dari setiap satu liter setara premium (LSP) bahan bakar gas (BBG) yang terjual.

Pangkal persoalannya, enam SPBG yang bekerja sama dengan PGN terkendala perihal dolar dan toll fee. Dalam perjanjian kemitraan itu tertuang JUP membeli gas dari PGN dengan menggunakan mata uang dolar. Apabila mengacu nilai tukar rupiah terhadap dolar pada Senin (27/8/2018), rupiah berada di level Rp14.609.

Direktur Utama JUP, Chairul Hakim mengatakan nilai keekonomian bisnis BBG yang bekerja sama dengan PGN akan menguntungkan bila harga dolar hanya berada di kisaran Rp13.000--Rp13.500. Dia menyayangkan penggunaan mata uang dolar tersebut tetap dipertahankan. Padahal JUP dapat membeli gas dari Pertamina untuk satu SPBG-nya dengan memakai mata uang rupiah.

"Kita rugi operasi. Kita sudah buat surat ke PGN tembusan ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral [ESDM] Jika terus-terusan begini kita tutup dulu karena kita enggak mungkin [mau] rugi kan," kata Chairul kepada Bisnis, Minggu (26/8/2018) lalu.

Sementara itu, JUP mencatat, pemerintah menetapkan harga BBG wilayah Jakarta di level Rp3.100 per LSP. Semisal US$1 di level Rp14.500 maka JUP membeli gas ke PGN dengan nilai Rp2.850 per LSP. Kendati tercatat ada keuntungan Rp250 per LSP dari penjualan BBG. Namun, ongkos pemeliharaan dan biaya operasi dari setiap LSP mencapai Rp620 sehingga merugi sekitar Rp370 per LSP.

"Beli gas ke Pertamina hanya Rp2.200 per LSP," sebutnya.

Dia menyebutkan yang membuat harga gas dari PGN lebih mahal dibandingkan dengan Pertamina, yaitu keberadaan toll fee yang menetapkan harga senilai Rp750 per m3. Seperti diketahui, PGN sebenarnya menjual gas hanya dengan senilai Rp2.100 per LSP. Akan tetapi, nilai ini menjadi membengkak karena terkena biaya toll fee menjadi Rp2.850 per LSP.

"Kami berharap toll fee dihapuskan sesuai dengan Peraturan Menteri [Permen] ESDM Nomor 25 Tahun 2017. Kami akan konsolidasi dengan Kementerian ESDM dan PGN," ungkapnya.

Dalam Pasal 15 Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2017 tentang Percepatan Pemanfaatan Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan tertulis toll fee atau pengangkutan gas bumi dibebaskan dari biaya. “Pengangkutan gas bumi untuk keperluan penyediaan dan pendistribusian BBG berupa compressed natural gas (CNG) dibebaskan dari biaya pengangkutan gas bumi [toll fee],” tulis Pasal 15 Permen ESDM Nomor 25 Tahun 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pt jakarta propertindo

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top