BUMD DKI Siap Ambil Alih Saham Mayoritas Palyja

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan BUMD DKI Jakarta telah melakukan persiapan teknis menyambut pengambilalihan saham mayoritas operator air minum PT Pam Lyonnaise Jaya (Palyja).
Akhirul Anwar | 02 Agustus 2013 03:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan BUMD DKI Jakarta telah melakukan persiapan teknis menyambut pengambilalihan saham mayoritas operator air minum PT Pam Lyonnaise Jaya (Palyja).

Ketiga BUMD tersebut adalah PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA), PT Jakarta Propertindo dan PT Pembangunan Jaya. Jika Pemprov mencaplok Palyja  otomatis ketiga perusahaan tersebut akan menjadi pengelola bisnis air di Jakarta tersebut.

Direktur Pembangunan Jaya Ancol Winarto menegaskan proses pengambilan saham sedang berjalan antara pemprov DKI dengan Suez Environnement pemilik 51% saham Palyja. Pada prinsipnya kewenangan akuisisi berada di tangan Pemprov DKI selaku pemegang saham Ancol.

“Artinya kalau dari pemilik [minta untuk mengelola] pasti akan kita jalankan, kita juga perlu persiapkan,” katanya disela buka puasa bersama di Jakarta, Rabu (31/7) malam.

Kesiapan teknis Ancol adalah pengalaman dalam sistem pengolahan air baik konvensional maupun pengolahan air laut menjadi air tawar dengan prinsip reverse osmosis (RO) untuk industri perumahan dan rekreasi.

Pengolahan air laut menjadi air tawar dikelola oleh manajemen Ancol sejak 2010 dengan investasi sekitar Rp50 miliar. Sampai sekarang, RO bisa menyuplai separo dari total kebutuhan air komplek Ancol sekitar 12.000 meter kubik.

Pengalaman tersebut, lanjut Winarto, sudah bisa menjadi gambaran pengelolaan air kepada pemegang saham jika sudah resmi mengambil alih Palyja. Dengan sistem RO akan menjawab persoalan pasokan air baku yang dihadapi operator air bersih selama ini.

Namun perlu diketahui bahwa dengan sistem tersebut biaya operasionalnya lebih mahal. Ancol berjanji menyesuaikan harga jual kepada masyarakat seimbang dengan ketentuan dari PDAM Jaya. “Tentu kita ada hitungan, kita bisa melakukan dengan lebih murah dengan margin keuntungan dari tarif yang berlaku saat ini,” jelas Winarto.

Disinggung mengenai tingginya Non Revenue Water (NRW) atau kebocoran air yang rata-rata mencapai 40%, Ancol yakin bisa menekan sampai kurang dari 5%. Sejumlah studi dilakukan bersama perusahaan operator air di Singapura.

Pertama, pengolahan air konvensional, kedua recycle yakni air yang sudah dipakai direproduksi lagi untuk jadi bersih lagi. Ketiga menampung dari air hujan kemudian diolah dan yang keempat melakukan pengelolaan air laut jadi air minum.

“DKI punya sumber air yang terbatas, tapi kita punya air laut yang berlimpah. Jadi itu yang akan kita olah,” jelas Winarto.

Terpisah, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) menyatakan proses akuisisi Palyja saat ini dalam tahap due diligence untuk mengetahui harga saham antara Pembangunan Jaya dengan Suez Environnement.

Sedangkan akuisisi saham antara Jakpro dan PT Astratel Nusantara selaku pemegang 49% saham Palyja masih sebatas pembicaraan. “Sekarang yang lagi due diligence Pembangunan Jaya ke Suez, kalau Jakpro ke Astratel masih dalam proses ngomong-ngomong saja,” ujarnya.

Dia menegaskan rencananya DKI akan mengakuisisi 100% saham Palyja dengan target akhir tahun ini atau awal tahun depan. Terkait harga sedang dilakukan tawar menawar karena belum keluar nilai dari Suez. “[Targetnya] Desember atau Januari 2014 lah,” paparnya.

Sebelumnya, Presiden Direktur Palyja Christophe Comte mengatakan manajemen Palyja tetap bekerja seperti biasa meliputi pelayanan produksi, distribusi sampai dengan pengembangan sambungan baru. “Akusisi saham Palyja tidak ada dampak kepada pelayanan oleh manajemen kepada konsumen," katanya.

Proses akuisisi oleh Pemprov DKI, lanjutnya, murni business to business (b to b) permintaan Gubernur kepada pemegang saham sehingga tidak mengubah kebijakan apapun terkait internal Palyja. Perseroan tetap konsisten mengejar target perusahaan dengan menambah saluran baru, menekan kehilangan air atau Non Revenue Water (NRW) serta memperkecil sambungan ilegal.

"Kita masih punya target yang sama dan tujuan yang sama, kami masih bekerja untuk illegal connection," ujarnya. (Mahmudi Restyanto)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
palyja, pt jakarta propertindo, pt pembangunan jaya ancol tbk, pt pembangunan jaya

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top