Indeks Pembangunan Manusia di DKI Tertinggi, Sektor Pendidikan Masih Jadi Sorotan

Skor Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DKI Jakarta tahun 2018 mencapai 80,47 dan merupakan IPM tertinggi dari seluruh provinsi di Indonesia. Skor IPM DKI Jakarta tumbuh 0,41 poin atau 0,51 persen dibandingkan dengan IPM tahun 2017.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 06 Mei 2019  |  16:31 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Skor Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DKI Jakarta tahun 2018 mencapai 80,47 dan merupakan IPM tertinggi dari seluruh provinsi di Indonesia. Skor IPM DKI Jakarta tumbuh 0,41 poin atau 0,51 persen dibandingkan dengan IPM tahun 2017.

Namun, persentase pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang pertumbuhannya mencapai 0,58%.

Lebih lanjut, angka pertumbuhan IPM DKI Jakarta tahun ini berada di bawah rata-rata pertumbuhan IPM sejak 2010 yang mencapai 0,67% per tahun.

Meski memiliki skor IPM tertinggi, angka pertumbuhan IPM DKI Jakarta tahun ini pun lebih rendah dengan pertumbuhan IPM Nasional yang mencapai 0,82% dan juga berada di peringkat terbawah dalam skor pertumbuhan IPM antarprovinsi.

Untuk diketahui, penghitungan IPM dibentuk oleh empat komponen yang terdiri dari umur harapan hidup (UHH), harapan lama sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS), dan pengeluaran per kapita per tahun.

UHH adalah rata-rata umur yang dapat dicapai oleh bayi yang baru lahir, HLS adalah rata-rata lama sekolah formal yang diharapkan akan dirasakan penduduk sejak umur tertentu, sedangkan RLS adalah rata-rata lama penduduk usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal.

UHH DKI Jakarta meningkat sebesar 0,17% dari 72,55 tahun pada 2017 menjadi 72,67 tahun.

Selanjutnya, angka HLS dan RLS masing-masing juga meningkat dengan persentase masing-masing sebesar 0,7% dan 0,27%. Angka HLS meningkat dari 12,86 tahun pada 2017 menjadi 12,95 tahun pada 2018, sedangkan angka RLS meningkat dari 11,02 tahun menjadi 11,05 tahun pada 2018.

Angka pengeluaran per kapita per tahun pun juga meningkat 2,38% dari Rp17,71 juta pada 2017 menjadi Rp18,13 juta.

Dari seluruh komponen yang ada, Kepala BPS DKI Jakarta Thoman Pardosi menyoroti berkurangnya penurunan pertumbuhan HLS dan RLS dibandingkan dengan tahun 2017.

Pertumbuhan HLS dan RLS pada 2017 masing-masing mencapai 1,02% dan 1,29%.

"Meskipun dua komponen lainnya mengalami peningkatan pertumbuhan, namun dengan formula penghitungan indeks secara geometrik maka hal ini tidak mampu mendongkrak pertumbuhan IPM secara komposit," ujar Thoman, Senin (6/5/2019).

Merujuk pada data Kemendikbud, penurunan angka putus sekolah di DKI Jakarta juga masih dibawah penurunan angka putus sekolah nasional dengan angka masing-masing mencapai 5,94% dan 14,54%.

Untuk angka putus sekolah di level SMK, angka putus sekolah di DKI Jakarta justru meningkat 25,28% dan jauh di atas angka putus sekolah SMK secara nasional yang juga tumbuh di angka 0,88%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dki jakarta, bps dki jakarta, ekonomi dki jakarta

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top