Kajian ESIA ITF Sunter Diharap Yakinkan Investor

Satu per satu perizinan pembangunan proyek fasilitas pengelolaan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter dikebut demi meyakinkan para investor, sehingga target realisasi capex US$250 juta atau sekitar Rp3,6 triliun tercapai.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 27 September 2019  |  00:36 WIB
Kajian ESIA ITF Sunter Diharap Yakinkan Investor
Sejumlah truk sampah DKI Jakarta - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Satu per satu perizinan pembangunan proyek fasilitas pengelolaan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter dikebut demi meyakinkan para investor, sehingga target realisasi capex US$250 juta atau sekitar Rp3,6 triliun tercapai.

Hal ini disampaikan Direktur Keuangan PT Jakarta Solusi Lestari (JSL) Nagwa Kamal. Seperti diketahui, JSL merupakan perusahaan patungan antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov DKI PT Jakarta Propertindo dan badan usaha milik negara Finlandia di sektor pembangkit listrik Fortum untuk membangun ITF Sunter.

Nagwa menjelaskan bahwa JSL bersama Environmental Resources Management (ERM) Indonesia, O2 Consulting, dan AECOM Indonesia baru saja menyelesaikan studi dampak lingkungan dan sosial atau environment and sosial impact analysis (ESIA).

Hal ini demi memenuhi standar International Finance Corporation (IFC) dari World Bank, di mana sebelumnya tertarik untuk memfasilitasi pendanaan ITF Sunter.

"Tapi [untuk kepastian investor] kita belum confirm, masih dalam proses, tapi arahnya ke internasional. Makanya, kita melakukan semua proses perizinan dengan standar internasional ini," ungkap Nagwa, Kamis (26/9).

Perwakilan konsultan AECOM Indonesia Novianto Hadi Suwito menekankan bahwa standar ESIA sedikit lebih kompleks daripada standar analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) di Indonesia.

Hasil studi yang telah dilakukan, mengungkap bahwa pihak JSL selaku pelaksana proyek masih memiliki beberapa pekerjaan rumah.

Diantaranya pencegahan pencemaran udara dengan memastikan kendaraan yang keluar-masuk ITF lulus uji emisi dan merawat Flue Gases Treatment secara berkala.

Selain itu, masalah bau juga menjadi salah satu yang disoroti. Oleh sebab itu, perlu adanya pengadaan truk compactor pengangkut sampah dan pengelolaan sampah dalam bunker indoor.

Sementara untuk penilaian dampak sosial meliputi sosial ekonomi dengan menyerap kebutuhan tenaga kerja lokal bekerja sama dengan Kelurahan Sunter Agung, dan mengantisipasi gangguan lalu lintas dengan mempersiapkan dan mensosialisasikan area keluar masuk ITF Sunter, yakni persimpangan RE Martadinata dan Sunter Permai Raya.

Hingga kini, hasil ESIA masih dalam tahap review oleh IFC dengan target hasil review paling lambat Desember 2019.

Turut hadir Manager Proyek Fortum Antti Liukko yang meyakinkan bahwa progress pembangunan ITF Sunter on the track.

Pihaknya masih mengebut beberapa perizinan dan studi, seperti izin mendirikan bangunan (IMB), soil test, dan izin trase transmisi listrik dengan PLN lewat Gardu Induk Kemayoran dalam waktu dekat.

Fasilitas pengolahan sampah dengan kapasitas 2.200 ton sampah rumah tangga, dan menghasilkan listrik 35 megawatt per hari ini besar kemungkinan mulai dibangun pada awal 2020, sehingga target pembangunan selama 36 bulan tercapai pada 2022.

Sebelumnya, pembentukan perusahaan patungan JSL ini diamanatkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) No 33/2018 tentang Penugasan Lanjutan Kepada Perseroan Terbatas Jakarta Propertindo Dalam Penyelenggaraan Fasilitas Pengelolaan Sampah di Dalam Kota/Intermediate Treatment Facility.

Kepemilikan JSL saat proses konstruksi yakni 44% untuk Jakpro dan 56% untuk Fortum. Setelah ITF Sunter terbangun, JSL akan menjadi pemegang saham mayoritas dengan skema Build Operate Transfer selama 25 tahun.

Harapannya, ITF Sunter dapat mengurangi produksi sampah yang dihasilkan DKI Jakarta, yakni sekitar 7.824 ton/hari sehingga total timbunan sampah mencapai lebih dari 2,5 juta ton/tahun. Padahal, tempat pengelolaan sampah terpadu TPST Bantar Gebang diproyeksi penuh pada 2021.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sampah dki, sunter

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top