Formula E dan Elektabilitas Anies Baswedan

Rencana penyelenggaraan Formula E di Jakarta pada 2020 mendapat berbagai reaksi dari publik.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 14 November 2019  |  00:20 WIB
Formula E dan Elektabilitas Anies Baswedan
Laga Formula E di jalanan Brooklyn, New York, AS pada Minggu (14/7/2019). Berbeda dengan ajang Formula 1, balapan ini menggunakan mobil bertenaga listrik dan digelar di jalanan kota. - USA Today Sports via Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Jakarta dijadwalkan menjadi tuan rumah salah satu sesi balap mobil listrik Formula E pada 2020. Apabila berjalan sesuai harapan, penyelenggaraan event internasional itu dinilai sanggup mendongkrak elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menjelaskan sebuah kegiatan internasional yang terselenggara baik dan sukses akan mendapat citra positif serta apresiasi baik dari masyarakat.

"Sama seperti waktu suksesnya Asian Games. Karena acara sukses, Presiden Joko Widodo yang dianggap sukses, dan itu memang membangun citra positif Jokowi dan bisa menaikan elektabilitasnya," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (13/11/2019).

Ujang menerangkan penyelenggaraan kegiatan internasional, termasuk Formula E, adalah hal yang baik untuk mempromosikan Jakarta dan Indonesia. Dia menilai Indonesia memang memerlukan kegiatan-kegiatan seperti itu agar ramah terhadap masyarakat dunia dan agar persepsi dunia terhadap Indonesia menjadi lebih baik.

Oleh sebab itu, Ujang menekankan agar kritik terhadap penyelenggaraan Formula E difokuskan pada evaluasi atas sukses atau tidaknya acara tersebut.

Namun, Sekretaris Jenderal Forum Indonesia Transparansi Anggran (Fitra) Misbah Hasan mengungkapkan hal berbeda. Menurutnya, esensi biaya senilai ratusan miliar yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk penyelenggaraan Formula E hanyalah demi penyelenggaraan acara.

"Kalau mau membumikan kendaraan listrik, biaya dari event ini lebih dari cukup untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik. Misalnya, menyediakan charging baterai dan pengadaan kendaraan listrik skema sharing," papar Misbah kepada Bisnis.

Oleh sebab itu, apabila Anies ingin mendapat citra positif dari masyarakat melalui kegiatan ini, lanjutnya, mestinya anggarannya tidak murni dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tapi melalui sponsor dan swasta.

Seperti diketahui, dalam APBD-Perubahan 2019, biaya commitment fee musim 2019/2020 yang diberikan ke Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta mencapai Rp346 miliar. Sementara itu, pada APBD 2020, biaya commitment fee musim 2020/2021 mencapai 22 juta pounds (setara Rp379 miliar) dan biaya pembangunan lewat Penyertaan Modal Daerah (PMD) untuk PT Jakarta Propertindo mencapai Rp305 miliar.

Oleh sebab itu, Misbah menegaskan studi kelayakan terhadap event ini mesti matang betul.

"Terutama terkait dengan dampak sosial ekonomi bagi warga DKI dan peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI, ini sepertinya belum matang dilakukan," tambahnya.

Pemprov DKI pun disarankan memikirkan pendanaan Formula E yang lebih kreatif pada tahun berikutnya. Misalnya, dengan sponsor atau kerja sama dengan pihak swasta pemilik modal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
anies baswedan, Formula E Championship

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top