Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BI DKI: Kerugian Banjir Jakarta 2020 Terbilang Kecil, tapi...

Kerugian ekonomi akibat banjir pada 2020 terbilang kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya. Angkanya tak sampai Rp1 triliun. Namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan, mengingat baru kali ini banjir merambah sejumlah tempat.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  17:38 WIB
Warga menaiki perahu karet saat melintasi banjir di kawasan Kemang Raya, Jakarta, Selasa (25/2/2020). Tingginya intensitas hujan mengakibatkan sejumlah wilayah di ibu kota terendam banjir. - ANTARA/Wahyu Putro A
Warga menaiki perahu karet saat melintasi banjir di kawasan Kemang Raya, Jakarta, Selasa (25/2/2020). Tingginya intensitas hujan mengakibatkan sejumlah wilayah di ibu kota terendam banjir. - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta menjelaskan bahwa dampak ekonomi banjir Jakarta Januari 2020 sebenarnya tak terlalu besar dibandingkan banjir tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Hamid Ponco Wibowo, mengungkap data-data ini terkumpul dari para asosiasi usaha yang terdampak banjir.

"Sebenarnya kalau kita lihat data sejak tahun 2002, kerugian banjir tahun ini paling rendah," ujar Hamid ketika ditemui di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2020).

Hamid menjelaskan bahwa kerugian akibat banjir pada Januari 2020 hanya menyentuh angka Rp960 miliar. Lebih kecil dari kerugian banjir Februari 2015 (Rp1,5 triliun), Januari-Februari 2014 (Rp5 triliun), Februari 2007 (Rp8,8 triliun) atau Februari 2002 (Rp9,8 triliun).

Hamid pun menjelaskan dampak ekonomi akibat banjir hanya berpengaruh sebesar 0,025 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta.

Menurut Hamid, hal ini dipengaruhi cepat surutnya banjir pada tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, serta teknologi media sosial yang walaupun membuat banjir tampak 'ramai', tetapi memiliki peran positif bagi kesiapsiagaan masyarakat.

"Terbilang sangat kecil, ya, dampaknya. Namun, tentu untuk mengantisipasi ini, ke depan kita harus menyiapkan sarana-prasaraba yang lebih siap lagi," tambahnya.

Namun demikian, Hamid menyoroti beberapa kejadian ekstra akibat banjir yang harapannya, tak terjadi lagi pada masa mendatang seiring masih adanya curah hujan tinggi di Ibu Kota.

Beberapa di antaranya, pool taksi Bluebird yang terendam; klaim asuransi akibat banjir mencapai Rp406 miliar; 300 toko ritel yang terdampak banjir dan tutup dengan kerugian mencapai Rp960 miliar. Atau pun, 461 wilayah mengalami pemadaman listrik; penyewaan pusat perbelanjaan yang mengaku omzetnya turun 50 persen; serta mesin produksi industri atau Rumah Sakit yang terendam.

"Lapangan usaha perdagangan, transportasi, kemudian jasa keuangan, kemarin ada bank-bank yang tidak bisa beroperasi. Kemudian ada toko retail juga banyak yang tutup. Kira-kira itu yang mengalami kondisi di mana mereka tidak bisa beroperasi dengan penuh," jelasnya.

Selain itu, BI DKI Jakarta mengingatkan adanya potensi inflasi akibat banjir pada Januari-Februari 2020. Misalnya, untuk harga komoditas cabai merah kriting, cabai merah besar, dan bawang putih.

Oleh sebab itu, BI DKI Jakarta menyarankan Pemprov DKI Jakarta serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta sektor pangan bersiap dalam manajemen stok, demi menghadapi potensi inflasi akibat bencana banjir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

banjir Banjir Jakarta
Editor : Andya Dhyaksa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top