Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perbandingan Kerugian Ekonomi Banjir Jakarta 25 Februari vs 1 Januari

Kerugian ekonomi akibat banjir Jakarta 25 Februari hanya sekitar Rp56 miliar. Sedangkan pada awal tahun, mencapai sekitar Rp1 triliun. Hal itu dikarenakan banjir 25 Februari cepat kelar dan pelaku pasar sudah siap sejak dini.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  20:48 WIB
Warga berjalan melintasi banjir di Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta, Senin (5/2/2018). Banjir yang mencapai 2 meter dan merendam ratusan rumah warga tersebut akibat luapan air dari Sungai Ciliwung. - Antara/Galih Pradipta
Warga berjalan melintasi banjir di Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta, Senin (5/2/2018). Banjir yang mencapai 2 meter dan merendam ratusan rumah warga tersebut akibat luapan air dari Sungai Ciliwung. - Antara/Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA - Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi)  DKI Jakarta mengungkap banjir Jakarta 25 Februari 2020 tak seheboh banjir pada awal tahun 2020.

Ketua Hippi DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, menjelaskan walaupun banjir Jakarta 25 Februari berada pada hari kerja dan banyak akses jalan tertutup, dampak kerugian transaksi perdagangan hanya mencapai Rp56,7 miliar.

"Ini terbilang kecil. Tapi kerugian ini tidak termasuk logistik dan transportasi seperti taksi, ojek online, dan transportasi umum. Kita khusus transaksi perdagangan," ungkap Sarman, ketika ditemui di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2020).

Menurut Sarman, dampak ini tak sebesar kerugian ekonomi akibat banjir pada tahun baru 2020 yang mencapai Rp1 triliun. Pasalnya, banjir 25 Februari hanya melumpuhkan transaksi ekonomi selama setengah hari. Sementara banjir 1 Januari baru surut setelah 4 hari.

Sarman menjelaskan dampak perdagangan paling nyata didominasi turunnya jumlah pengunjung hotel, restoran, cafe, dan mal. Terlebih, beberapa pusat pertokoan memang tutup lebih dulu karena sempat tergenang pada 24 Februari.

"Kalau banjir tahun baru itu perdagangan lebih merugi karena masyarakat tidak jadi belanja di awal tahun. Kalau sekarang itu lebih karena akses jalan. Padahal kalau di Glodok itu karyawan yang pegang kunci toko. Bos cuma pegang kunci gudang. Jadi kalau karyawan tidak masuk atau terhambat setengah hari, ya, jadinya perdagangan tidak jalan," ujarnya sembari bercanda.

Sarman mencatat beberapa pusat perdagangan yang terdampak hingga tutup akibat banjir, di antaranya pusat grosir Glodok/Mangga Dua sebanyak 21 toko, 9 mal di kawasan Kelapa Gading, 400 dari 1000 toko ritel di seluruh Jakarta, dan 20 pasar tradisional.

"Kalau untuk pasar tradisional, banjir kemarin [25 Februari] itu mereka lebih siap. Jadi belum banyak aset atau barang yang hancur karena banjir seperti pada awal tahun. Masih bisa diselamatkan. Selain itu juga banjirnya lebih cepat surut. Jadi ada yang sorenya sudah bisa berjualan lagi," tambahnya.

Secara rinci, Sarman menggambarkan asumsi kerugian dari kawasan Glodok Mangga Dua mencapai Rp31,5 miliar, Kelapa Gading Rp18 miliar, Pasar Tradisional Rp1,2 miliar, Ritel Rp4 miliar, dan penurunan omzet restoran hingga Rp1,97 miliar.

Oleh sebab itu, Sarman menyarankan Pemprov DKI Jakarta baiknya menambah langkah taktis dan strategis untuk mengurangi dampak banjir.

"Pelaku usaha itu butuh solusi, bukan polemik. Jadi janganlah saling menyalahkan. Tapi siap, apa yang bisa kita bantu, pasti kita kerjakan. Misalnya mendorong partisipasi para pengusaha atau pengelola gedung, apartemen, mal, perkantoran, atau kantor layanan publik membersihkan saluran-saluran di sekitar kantornya masing-masing," jelasnya.

Selain itu, Sarman berharap kesiapsiagaan Pemprov DKI terhadap cuaca ekstrem ditingkatkan.

"Harus ada program warning sejak dini, memperkirakan, kira-kira bulan apa sih puncak musim penghujan, sehingga ada Bulan Siaga Banjir. Jadi masyarakat dan pelaku usaha bisa bersiap," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jakarta Banjir Jakarta
Editor : Andya Dhyaksa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top