Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Fakta Revitalisasi TIM Terbaru: Moratorium, Utamakan Masjid hingga Kasus Banjir

Satu per satu polemik terkait Revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) perlahan menemui titik terang.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 05 Maret 2020  |  04:45 WIB
Pekerja beraktivitas di lokasi proyek revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Kamis (6/2/2020). Proses revitalisasi TIM yang ditargetkan selesai pada tahun 2021 itu sudah memasuki tahap II yakni membongkar gedung Graha Bhakti Budaya dan Galeri Cipta I. ANTARA FOTO - Aprillio Akbar
Pekerja beraktivitas di lokasi proyek revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Kamis (6/2/2020). Proses revitalisasi TIM yang ditargetkan selesai pada tahun 2021 itu sudah memasuki tahap II yakni membongkar gedung Graha Bhakti Budaya dan Galeri Cipta I. ANTARA FOTO - Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Satu per satu polemik terkait Revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) perlahan menemui titik terang.

Sebelumnya, polemik Revitalisasi TIM berkisar terkait pembangunan hotel bintang lima. PT Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku penanggungjawab proyek pun telah menggantinya dengan ampfiteater.

Kini, polemik bergeser ke arah tekanan moratorium proyek, isu komersialisasi oleh Jakpro, dan belum finalnya diskusi dengan para seniman terkait pengelolaan TIM baru.

Berikut ringkasan yang Bisnis rangkum:

Moratorium Sementara

Sebelumnya, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi meminta pihak eksekutif dan PT Jakarta Propertindo selaku pelaksana proyek Revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) melakukan moratorium sementara.

Menurut Pras, hal ini demi menindaklanjuti hasil rapat dengar pendapat (RDP) yang dihadirinya bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Jakpro dengan Komisi X DPR RI pada 27 Februari lalu.

Pras menekankan bahwa kisah di balik TIM yang lekat dengan kehidupan para seniman Jakarta dihargai dengan moratorium kemudian melakukan diskusi dan duduk bersama dengan berbagai pihak.

Terutama, terkait isu komersialisasi dan pengelolaan TIM baru, "harus jelas maintenance-nya siapa, seniman mau ada acara nyewanya berapa? Ini harus dijelaskan detail. Saya minta teman-teman Jakpro komunikasi dengan seniman, nanti undang saya sebagai pendengar. Itu saja," ungkapnya, Selasa (3/2/2020).

Terkini, Manajer Komunikasi Proyek Revitalisasi TIM Yeni Fatmawati memastikan bahwa sudah tak ada lagi pekerjaan proyek yang berlangsung per hari ini.

"Sesuai kebijakan Ketua DPRD DKI Jakarta, pembangunan revitalisasi TIM saat ini tengah dihentikan sementara hingga adanya komunikasi dan diskusi kembali secara formal dengan pihak seniman," jelasnya kepada Bisnis, Kamis (5/3/2020).

Masjid Amir Hamzah Jadi Pengecualian

Isu moratorium yang selama ini diupayakan pihak DPRD DKI Jakarta dsn Forum Seniman Peduli TIM, ternyata tak bisa menenangkan semua pihak.

Terutama Dewan Kemakmuran Masjid Amir Hamzah TIM. Pihak Takmir Masjid Amir Hamzah berharap rampungnya revitalisasi masjid bisa menepati jadwal yang dijanjikan PT Wijaya Karya Gedung selaku pelaksana proyek.

Menanggapi hal ini, Jakpro pun berupaya mengakomodasinya dengan berkomunikasi dengan berbagai pihak, seperti seniman dan DPRD DKI Jakarta, sebab keseluruhan progres revitalisasi pun kini telah memasuki 15 persen, leasing dari rencana yang targetnya berada di kisaran 14 persen.

"Pembangunan Masjid Amir Hamzah tetap bisa dilaksanakan dengan pertimbangan Masjid akan dipergunakan sebagai tempat ibadah pada bulan Ramadhan," jelas Yeni.

Pengelolaan Terbagi Dua

Pengelolaan Taman Ismail Marzuki (TIM) pascarevitalisasi jadi salah satu masalah substansial yang belum memuaskan para seniman.

Dari pihak Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Sekjen sekaligus Ketua Komite Film DKJ Hikmat Darmawan menekankan kekurangan utama Pemprov ada pada belum jelasnya metode pengelolaan TIM ketika sudah berdiri lagi nanti, yang rencananya rampung 10 November 2021.

"Kalau yang saya tangkap dari Pemprov, baru pada awal 2021 ada kajian model ideal pengelolaan. Kalau kami bilang, sih, mestinya dari sekarang dikaji," jelas Hikmat kepada Bisnis.

"Nah, bagaimana model pengelolaan agar terbagi model investor dan seniman dua-duanya terjaga. Itulah yang sedang kami kawal, agar seniman juga punya voting rights," tambahnya.

Hikmat sendiri percaya isu 'komersialisasi TIM' tak relevan karena Jakpro merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Oleh sebab itu, agar kesalahpahaman tak berlanjut, baiknya kesepakatan antara para seniman dengan Pemprov DKI Jakarta beserta Jakpro segera memasuki titik terang.

Di sisi lain, Ketua Forum Seniman Peduli TIM Radhar Panca Dahana mengaku tak terlalu puas dengan ide pengelolaan yang terbagi dua.

Pasalnya, ada celah bisnis yang bisa dimanfaatkan Jakpro seperti tertuang dalam Peraturan Gubernur No 63/2019 tentang Penugasan Kepada Jakpro untuk Revitalisasi PKJ TIM.

"Misalnya, dalam Pergub disebut Jakpro mengelola hampir 30 tahun, dia akan bikin badan, jadi seniman itu subordinasi di bawahnya," jelas Radhar kepada Bisnis.

Radhar pun mengkritik skema Build Operate Transfer (BOT) di dalam Pergub, di mana Jakpro bisa mengelola aset TIM untuk mengembalikan biaya investasi yang mencapai Rp1,8 triliun.

Oleh sebab itu, Radhar menekankan moratorium harus terus berlangsung beriringan dengan revisi Pergub tersebut.

"Kami sebenarnya bukan menolak revitalisasi, tapi memang ada hal-hal substansial yang harus diselesaikan dulu. Karena pemangku utama TIM itu seniman. Pemerintah hanya fasilitator," tutup Radhar.

Menanggapu hal ini, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Dwi Wahyu Daryoto menjamin pihaknya akan terus berdiskusi dengan para seniman terkait pengelolaan TIM baru.

Ada dua opsi yang akan diberikan, yakni pengelolaan TIM berbentuk perusahaan (PT), atau hanya Badan Layanan Umum (BLU) di bawah pemerintahan, yakni Dinas Kebudayaan.

Terpenting, Dwi memastikan bahwa kepentingan seniman pasti diakomodasi. Isu komersialisasi TIM oleh Jakpro pun dibantah Dwi.

"Belum, tapi nanti komponen pengelolaannya adalah dua, orang yang mengerti infrastruktur, dan orang yang melakukan kurasi kesenian dan kebudayaannya," ujarnya.

"Apakah Jakpro akan masuk ke kurasi? Enggak. Karena DNA Jakpro bukan di sana. Nah, ini yang disalahterimakan, saya berkali-kali sampaikan, seolah-olah Jakpro menguasai kesenian. Enggak. Ini kolaborasi antara orang yang ngerti infrastruktur dengan orang yang berkompeten terhadap kesenian dan kebudayaan," tambahnya.

Dwi menjamin pihaknya akan terus melibatkan seniman baik dalam proyek maupun dalam pengelolaannya nanti, "Istilahnya co-creator. Jadi ini milikmu. Nanti kalau misalnya ada untung dan sebagainya, ya sudah diaudit, dan sudah dikembalikan untuk kemakmuran di TIM," tegas Dwi.

Sempat Dilanda Banjir

Ternyata, proyek Revitalisasi TIM juga mengalami banjir akubat terpaan hujan deras pada 25 Februari 2020. Titik banjir tepatnya berada di sepanjang Jalan Cikini Raya menuju lokasi proyek Revitalisasi TIM.

"Sebagai pelaksana penugasan proyek Revitalisasi PKJ-TIM bersama kontraktor (WikaGedung) dan Dinas Sumber Daya Air (SDA) sigap mengatasi potensi banjir sehingga pada pagi harinya kawasan tersebut aman tanpa genangan dan lancar dilalui," ungkap Yeni.

Awalnya, tinggi air sempat mencapai 70 cm akibat tak dapat teralir dengan normal ke Sungai Ciliwung yang berada tepat di bagian timur kawasan proyek.

Tim proyek berkolaborasi dengan memanfaatkan galian basement yang tengah dibangun sebagai kolam resapan air sementara. Upaya ini berjalan dengan baik. Alhasil, sepanjang Jalan Cikini Raya bebas dari genangan. Lalu lintas pun berjalan normal," tambahnya.

Yeni mengungkapkan, untuk mengantisipasi genangan kembali terjadi di kala puncak musim penghujan, kini disediakan empat unit pompa mobile yang akan bersiaga jika hujan deras turun lagi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

taman ismail marzuki jakarta propertindo
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top