Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biayai MaaS Jabodetabek, Konsorsium Jatelindo Dapat Konsesi 8 Tahun

Konsorsium Jatelindo akan membiayai proyek Sistem Tarif Terintegrasi dan Solusi atau Mobility as a Service (MaaS) Jabodetabek yang ditaksir lebih dari Rp900 miliar.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 30 Juli 2021  |  13:48 WIB
Jaklingko.  - transjakarta.co.id
Jaklingko. - transjakarta.co.id

Bisnis.com, JAKARTA — Konsorsium Jatelindo akan mendapatkan pengembalian investasi melalui skema Build-Operate-Transfer atau BOT dalam kurun waktu 8 tahun dalam proyek sistem tarif terintegrasi dan solusi atau Mobility as a Servive (Maas) Jabodetabek.

Seperti diketahui, konsorsium Jatelindo akan membiayai proyek Sistem Tarif Terintegrasi dan Solusi atau Mobility as a Service (MaaS) Jabodetabek yang ditaksir lebih dari Rp900 miliar. 

“Kurang lebih investasi totalnya dari sisi capital expenditure dan operating expenditurnya selama 8 tahun lebih dari Rp900 miliar,” kata Direktur Utama PT Jaklingko Indonesia (Jaklingko) Muhamad Kamaluddin dalam diskusi daring Forum Jurnalis MRT Jakarta, Jumat (30/7/2021). 

Skema BOT itu diharapkan dapat mempercepat proses perizinan sembari proses operasi dikerjakan bersama antara PT Jaklingko dan Konsorsium Jatelindo. Operasi perdana pada Agustus nanti, PT Jaklingko masih menggunakan perizinan dari Konsorsium untuk payment gate way di Bank Indonesia. 

“Nanti akan bertahap akan ada knowledge transfer sehingga Jaklingko bisa beroperasi secara mandiri,” kata dia. 

Ihwal pengembalian investasi kepada pihak swasta itu, menurut catatan Bisnis, pihak investor bakal menarik biaya jasa berupa fee yang dikenakan per transaksi oleh pelanggan.  

Besaran fee diperkirakan mencapai Rp100 hingga Rp150 per transaksi. Sedangkan, jumlah pelanggan diproyeksikan menyentuh di angka sekitar 4 juta penumpang per hari. Artinya jumlah fee yang diperoleh investor senilai Rp400 juta – Rp600 juta per hari.

“Ini berdasarkan dari trafik masing-masing operator. Untuk trafik yang rendah fee yang dibayarkan masing-masing operator tidak terlalu besar, begitu trafiknya naik feenya juga akan naik,” kata dia. 

Sebelumnya, lelang proyek Sistem Tarif Terintegrasi dan Solusi atau Mobility as a Service (MaaS) Jabodetabek menuai polemik. Salah satu pemicunya adalah batalnya penunjukkan konsorsium Merah Putih PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) dan NEC dalam lelang proyek tersebut. 

Usut punya usut, pembatalan itu terjadi menyusul sanggahan yang diajukan oleh pemenang lelang cadangan yakni Konsorsium Jatelindo selama masa sanggahan pada tanggal 15 hingga 19 Maret 2021 lalu. Konsorsium ini terdiri dari PT Jatelindo Perkasa Abadi, PT Aino Indonesia dan PT Thales Indonesia. 

Meski demikian, PT Jaklingko Indonesia (Jaklingko) selaku panitia lelang menampik rumor pembatalan Konsorsium Merah Putih sebagai pemenang lelang proyek Maas Jabodetabek. 

Pihak Konsorsium Merah Putih yang terdiri dari PT Telkom Indonesia (persero) Tbk. (TLKM) tidak banyak berkomentar ihwal kegagalannya dalam lelang proyek Maas. Kendati demikian, Vice President Corporate Communication Telkom Pujo Pramono menuturkan pihaknya sudah mengikuti rangkaian seleksi sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang ditetapkan oleh Jaklingko. 

“Sejak awal diadakannya tender Sistem Tarif Terintegrasi dan Solusi MaaS untuk Jabodetabek, Konsorsium Merah Putih yang beranggotakan Telkom, Gojek dan NEC telah mengikuti rangkaian seleksi sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang ditetapkan Jaklingko Indonesia,” kata Pujo melalui keterangan tertulis, Kamis (22/4/2021).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jabodetabek PT Jaklingko Indonesia
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top