Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Omicron dan Lonjakan Kematian Akibat Covid-19 di Jakarta

Sejak Pemprov DKI Jakarta secara resmi mempublikasikan pencatatan penambahan jumlah kasus varian Omicron pada 6 Januari lalu, tingkat mortalitas masyarakat di Jakarta akibat Covid-19 melambung.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 10 Februari 2022  |  10:56 WIB
Omicron dan Lonjakan Kematian Akibat Covid-19 di Jakarta
Petugas pemakaman menguburkan jenazah korban Covid-19 di TPU Srengseng Sawah Dua, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa, (2/2/2021). - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Beredarnya Covid-19 varian Omicron pada awal Januari 2022 di Indonesia tidak hanya memberi dampak yang besar terhadap penambahan jumlah kasus positif di DKI Jakarta.

Sejak Pemprov DKI Jakarta secara resmi mempublikasikan pencatatan penambahan jumlah kasus varian Omicron pada 6 Januari lalu, tingkat mortalitas masyarakat di Jakarta akibat Covid-19 melambung.

Diolah dari data resmi Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemprov DKI Jakarta, sebanyak 283 orang tercatat meninggal sejak kasus Omicron terdata oleh Pemprov DKI Jakarta pada periode 6 Januari - 9 Februari 2022, dengan puncak kematian harian 40 kasus.

Dibandingkan dengan periode sebulan sebelumnya, yakni 5 Desember 2021 - 5 Januari 2022, jumlah kasus kematian akibat Covid-19 di Jakarta jauh lebih sedikit. Pada periode tersebut total kematian di Ibu Kota sebanyak 11 kasus.

Lonjakan angka kematian tersebut juga diiringi oleh peningkatan persentase tingkat keterpakaian tempat tidur isolasi harian di 140 rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 di Ibu Kota.

Tercatat, persentase tingkat keterpakaian tempat tidur isolasi harian di rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 di Ibu Kota melonjak dari 9 persen menjadi 62 persen selama periode 9 Januari 2022 sampai dengan 6 Februari 2022.

Terkait dengan situasi tersebut, Pemerintah DKI Jakarta sudah bersiap mengambil ancang-ancang untuk melakukan penambahan kapasitas unit tempat tidur rumah sakit di Jakarta.

Pemprov DKI mengeklaim siap menambah jumlah tempat tidur hingga 22.000 unit.

"Ya, tidak ada masalah. Gelombang 2 kami siapkan 11.000. Kami bahkan akan menyiapkan hingga 22.000 unit kalau memang diperlukan," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria kepada wartawan di Jakarta baru-baru ini di Jakarta.

Berdasarkan data terakhir yang dipublikasikan oleh Pemprov DKI Jakarta hingga 6 Februari 2022, jumlah tempat tidur isolasi pasien Covid-19 di Jakarta sebanyak 5.818 unit dengan total pasien 3.631 orang.

Jumlah pasien isolasi Covid-19 pada tanggal tersebut melonjak siginifikan sebesar 990,42 persen dari pertama kali data terkait dipublikasikan sejak varian Omicron masuk ke dalam negeri pada 9 Januari 2022.

Secara lebih spesifik, selama periode tersebut jumlah pasien isolasi Covid-19 di 140 rumah sakit di DKI Jakarta melonjak dari 348 orang menjadi 3.631 orang.

Pasien ICU

Tidak hanya di ruang isolasi, lonjakan signifikan jumlah pasien juga terjadi di ruang ICU. Pada periode 9 Januari - 6 Februari 2022, tingkat keterisian di ruang ICU melonjak dari 5 persen menjadi 34 persen.

Pada 5 Januari lalu, jumlah pasien yang dirawat di ruang ICU karena Covid-19 tercatat sebanyak 31 orang.

Seiring dengan melambungnya kasus Covid-19 sejak Omicron masuk, pasien Covid-19 di ICU bertambah menjadi 254 orang. Kendati demikian, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta masyarakat tidak panik. Dia menilai tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) di Ibu Kota masih berada di level aman, yakni 60 persen.

"Dari 60 persen (angka Minggu 6 Februari 2022), sesungguhnya yang (gejala) berat dan sedang jumlahnya 12 persen. Jadi, yang 48 persen sesungguhnya tidak harus berada di rumah sakit," jelas Anies.

Hilangkan Ganjil Genap

Peningkatan jumlah BOR rumah sakit di Jakarta mendapat perhatian dari tataran legislatif Ibu Kota.

Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta Mujiyono menilai pemerintah perlu memperketat kembali protokol kesehatan di fasilitas umum dan tempat keramaian.

"Pembatasan jumlah penumpang pada angkutan umum massal juga harus segera diterapkan untuk menghindari transmisi lokal," ujarnya.

Mujiyono menyebut penerapan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah-sekolah harus dilaksanakan dengan kewaspadaan lebih mendalam. Sebab, ujarnya, puluhan sekolah di Jakarta ditutup usai ditemukan penularan Covid-19.

Penerapan protokol kesehatan di sekolah-sekolah juga perlu dievaluasi secara menyeluruh, tambahnya.

Di samping itu, perusahaan-perusahaan di Jakarta pun harus diminta membatasi karyawan yang bekerja di kantor atau work from office (WFO) dan kembali menerapkan work from home (WFH) bagi jenis pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan puncak infeksi varian Omicron di Indonesia akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan, atau pada medio Februari - Maret 2022.

Saat ini, Pemprov DKI Jakarta sudah kembali menerapkan PPKM Level 3 dengan sejumlah penyesuaian di dalamnya. PPKM Level 3 akan dilaksanakan sepekan sejak 7 Februari 2022.

Langkah peningkatan level PPKM tersebut diambil menyusul lonjakan kasus harian Covid-19 di Jakarta pada 6 Februari 2022 yang mencapai 15.825 kasus. Angka tersebut melampaui puncak kasus harian pada Juli 2021, yakni sebanyak 14.619 kasus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dki jakarta Covid-19 omicron
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top