Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ada 3 Pasien Meninggal, Ini Imbauan Dinkes DKI untuk Mencegah Penyebaran Hepatitis Akut

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mencegah penularan hepatitis akut.
Pernita Hestin Untari
Pernita Hestin Untari - Bisnis.com 09 Mei 2022  |  14:42 WIB
Ilustrasi seorang anak dirawat akibat hepatitis akut misterius - WHO
Ilustrasi seorang anak dirawat akibat hepatitis akut misterius - WHO

Bisnis.com, JAKARTA- Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mencegah penularan hepatitis akut.

Diketahui, temuan kasus hepatitis akut di Indonesia berawal dari tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Ketiga pasien tersebut meninggal dunia dengan dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya.

"Hepatitis itu bukan sesuatu yang baru ya. Jadi, kewaspadaan dini kita soal hepatitis sudah sejak dulu. Bahkan vaksinasi Hepatitis B kan sudah sejak dulu. Tapi kita tahu kan Hepatitis ini ada berbagai macam variasinya A,B,C, dan seterusnya," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti di Jakarta, Senin (9/5/2022).

"Tentu kita semua harus waspada, sehingga kita ingatkan kepada semua masyarakat agar melakukan PHBS," imbuhnya.

Widyastuti pun mengungkapkan beberapa cara menerapkan perilaku hidup bersih di antaranya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta sesudah Buang Air Besar (BAB). Selain itu dia juga mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

"Karena kalau ini dikatakan setara Hepatitis A maka salah satu pintu penularannya adalah oral. Ya itu salah satunya adalah perilaku kita sehari-hari melalui kebersihan kita," katanya.

Widyastuti mengatakan bahwa pihaknya tidak hanya memantau pasien anak-anak saja terkait hepatitis akut. Namun juga seluruh umur untuk melihat apakah penularan terjadi pada orang dewasa.

"Kita lihat tren laporan kasus kami sejak tiga tahun terakhir, kedua melihat tren kematian akibat hepatitis kita pantau. Yang terbaru kemarin tiga kasus rujukan dari RS daerah ke RSCM kebetulan memang usia anak-anak. Jd polanya seperti apa kita belum berani menyimpulkan tetapi kita mendalami bagaimana kriteria klinis dan epidemiologi-nya," paparnya.

Widyastuti menambahkan pihaknya akan terus melakukan penyidikan terkait kasus hepatitis akut. Terlebih pola penyebaran hingga penyebabnya masih belum diketahui.

"Namanya juga misterius, jadi masih perlu dilakukan pendalaman. Kita enggak tergesa-gesa menyimpulkan apa. Tentu dampingan dan koordinasi dari para pakar itu jadi sangat penting dan kami terus berkomunikasi," katanya.

Widyastuti juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik terkait kasus hepatitis akut. Dia meminta masyarakat untuk pergi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam, kuning, dan sakit perut.

Selain hidup bersih, dia juga mengimbau masyarakat untuk menguatkan sistem deteksi dini dengan penguatan sistem surveilans.

"Jadi enggak perlu khawatir, kami Insya Allah akan melakukan percepatan intervensi dan melokalisir kasus apabila ada laporan. Kedua, enggak perlu panik tapi selalu PHBS, cuci tangan dengan air mengalir dan sabun saat usai BAB dan saat mau makan. Kemudian higienis sanitasi lingkungan sekitar," pungkasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hepatitis Covid-19 hepatitis misterius
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top