PAJAK PROGRESIF KENDARAAN BERMOTOR: Pemprov DKI Gandeng Depok, Bekasi, dan Tangerang

DKI akan kerja sama dengan daerah yang memiliki pelat mobil yang sama, yakni berpelat B, seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang.
Yanita Petriella | 02 Juli 2014 20:12 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Pemprov DKI akan menggandeng Pemprov Jawa Barat dan Banten dalam menerapkan tarif baru pajak progresif kendaraan bermotor.

Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan kerja sama dengan lintas provinsi dapat membantu menekan kepemilikan dan penggunaan kendaraan bermotor pribadi sehingga mengurangi kemacetan yang terjadi di Jakarta.

DKI akan kerja sama dengan daerah yang memiliki pelat mobil yang sama, yakni berpelat B, seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang.

"Bekasi, Depok, dan Tangerang kan pakai pelat B karena yang megang dari Polda Metro Jaya. Jadi kami kerjasama supaya mereka tidak beli kendaraan di sana tetapi dipakainya di sini. Nanti kerja sama dengan Kadis Pajak. Mereka sudah setuju," ujarnya usai rapat paripurna DPRD, Rabu (2/7/2014).

Dalam Raperda Perubahan Nomor 8 Tahun 2010 tentang pajak kendaraan bermotor akan ada kenaikan tarif pajak kendaraan bermotor sebesar 2% dari 1,5% pada kepemilikan kendaraan bermotor pertama.

Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua, tarif progresif pajak kendaraan bermotor meningkat dari 2% menjadi 4%.

Bagi kendaraan bermotor ketiga, tarif progresif pajak kendaraan bermotor menjadi sebesar 6% dari 2,5%.

Sementara itu, kepemilikan kendaraan bermotor keempat dan seterusnya, tarif progresif pajak kendaraan bermotor mengalami kenaikan 6% dari semula 4% menjadi 10%.

Pria yang kerap disapa Ahok ini menuturkan adanya pengenaan pajak yang lebih tinggi, diharapkan agar masyarakat dapat mempertimbangkan kepemilikan kendaraan bermotor lebih dari yang dimiliki sehingga mengurangi tingkat kemacetan lalu-lintas.

"Kebijakan Bank Indonesia yang menerapkan kredit kendaraan bermotor dengan uang muka sebesar 30% dari nilai jual berpotensi pada peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan. Jadi pajak baru ini dapat membatasi kepemilikan kendaraan," ucap Ahok.

Penerapan tarif pajak progresif didukung pula sistem elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) dan Kartu Keluarga dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) tetap yang terintegrasi secara sistem dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI sehingga masyarakat tidak bisa memilik kendaraan yang lebih dari satu dengan alamat yang berbeda.

"Semua kendaraan harus dengan nama dan alamat yang sama. Nanti pemilik kendaraan bermotor yang kedua dan seterusnya dikenakan pajak yang lebih tinggi,"kata Ahok.

Mantan Bupati Belitung Timur ini menuturkan pengenaan tarif pajak progresif kendaraan ini dapat menjadi sumber pendapatan pajak kendaraan bermotor di Jakarta.

Apabila jumlah kendaraan bermotor sebanyak 4.780.893 unit maka pajak kendaraan bermotor pada 2013 mencapai Rp4,6 triliun.

Pada tahun 2014 diperkirakan pajak kendaraan meningkat menjadi Rp6,41 triliun.

Pendapatan pajak dari sektor kendaraan bermotor mencapai 50,38% dari total pajak daerah Rp23,36 triliun, dengan rincian pajak kendaraan bermotor 19,7%, bea balik nama kendaraan bemotor 26,29%, dan 4,39% pajak bahan bakar kendaraan bermotor.

Hasil penerimaan pajak kendaraan bermotor tersebut nantinya akan dialokasikan lebih dari 20% dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk perbaikan transportasi publik sebagai upaya mengurangi kemacetan.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana menyetujui rencana Pemprov DKI untuk bekerja sama dengan daerah lain di sekitar Jakarta dalam penerapan tarif pajak progresif kendaraan bermotor.

"Pemprov DKI harus kerja sama dengan daerah sekitar karena kalau Jakarta saja yang menerapkan tidak akan bisa mengurangi kemacetan di Jakarta," tutur pria yang akrab dipanggil Sani ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pajak kendaraan bermotor, pajak progresif kendaraan bermotor

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top