BI: Inflasi DKI Oktober 2016 Didorong Penyesuaian Administered Prices

Pada bulan Oktober 2016 tren penurunan inflasi tertahan oleh penyesuaian harga sejumlah komoditas yang tergolong dalam kelompok administered prices (komoditas yang harganya ditentukan oleh pemerintah).
Feni Freycinetia Fitriani | 02 November 2016 15:40 WIB
Kantor Bank Indonesia - Reuters/Supri

Bisnis.com, JAKARTA--Pada bulan Oktober 2016 tren penurunan inflasi tertahan oleh penyesuaian harga sejumlah komoditas yang tergolong dalam kelompok administered prices (komoditas yang harganya ditentukan oleh pemerintah).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, inflasi bulan Oktober 2016 tercatat sebesar 0,25% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,18% (mtm), dan juga inflasi nasional (0,14% mtm).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Donny P. Joewono mengatakan meningkatnya inflasi pada bulan Oktober 2016 terutama dipicu oleh penyesuaian beberapa harga komoditas administered prices, seperti tarif listrik, bahan bakar rumah tangga dan tarif kereta api.

"Walau demikian, tekanan inflasi Jakarta hingga bulan ke-10 tahun 2016 relatif masih terkendali. Hal itu tidak terlepas dari pergerakan inflasi kelompok volatile food dan kelompok inti yang stabil, bahkan cenderung menurun," katanya, Rabu (2/11/2016).

Dia menambahkan kelompok volatile food (bahan pangan yang harganya kerap bergejolak) pada bulan Oktober kembali mencatat deflasi. Deflasi terutama bersumber dari turunnya harga daging dan hasil-hasilnya, serta bumbu-bumbuan.

Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 2,86% (mtm), diikuti dengan harga telur ayam ras yang juga mencatat deflasi sebesar 3,06% (mtm).

"Stok yang terjaga dan harga pakan ternak yang stabil menjadi sumber turunnya harga kedua komoditas tersebut," ujarnya.

Dari subkelompok bumbu-bumbuan, harga bawang merah mengalami deflasi sebesar 4,57% (mtm), seiring panen raya di daerah sentra produksi antara lain Brebes, di tengah kenaikan harga cabai merah akibat hujan yang berkepanjangan di daerah sentra produksi.

Adapun harga beras saat ini masih relatif stabil dengan kecenderungan turun (deflasi 0,15% mtm).

"Manajemen stok yang sudah lebih baik serta perbaikan rantai pasokan beras di DKI Jakarta melalui optimalisasi BUMD pangan DKI Jakarta, mampu menahan gejolak yang berlebih di Ibukota.

Inflasi kelompok inti yang cenderung bergerak stabil sejak awal tahun juga turut andil dalam menjaga gejolak inflasi Jakarta yang berlebihan hingga Oktober 2016. Emas perhiasan menjadi penyumbang terkendalinya inflasi inti.

Di tengah penurunan kelompok volatile food dan stabilnya inflasi inti, penyesuaian harga beberapa komoditas administered prices menyebabkan tertahannya laju penurunan inflasi pada bulan Oktober 2016.

"Faktor pemicu meningkatnya inflasi administered prices antara lain kenaikan bahan bakar rumah tangga sebesar 4,71% dan naiknya tarif listrik sebesar 2,20% (mtm), terkait dengan kebijakan kenaikan tarif 12 golongan listrik nonsubsidi," imbuhnya.

Selain itu, kenaikan cukai rokok secara bertahap sejak awal tahun, serta tarif KRL Commuter Line yang berdampak pada inflasi angkutan kereta sebesar 6,26% (mtm), juga turut menyumbang kenaikan kelompok inflasi administered prices.

"Kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, tarif listrik dan tarif KRL ini pula yang menjadi faktor penyebab lebih tingginya inflasi Jakarta dibandingkan dengan inflasi nasional," kata Donny.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Inflasi, bps dki jakarta

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top