Pendatang Baru di Jakarta: Djarot, Daya Beban Kota Ada Batasnya

Beban Ibu Kota terus bertambah seiring meningkatnya jumlah penduduk. Sebagai kota terbuka, Jakarta tak bisa melarang masyarakat untuk mengadu nasib.
Veronika Yasinta | 25 Juni 2017 11:28 WIB
Pekerja harian Lepas (PHL) membersihkan sampah di sepanjang jalan di kawasan Monas, Jakarta, Selasa (17/3). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Beban Ibu Kota terus bertambah seiring meningkatnya jumlah penduduk. Sebagai kota terbuka, Jakarta tak bisa melarang masyarakat untuk mengadu nasib.

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, kendati Jakarta masih terus dibangun, namun provinsi yang berusia 490 tahun ini memiliki batas daya beban kota. Dengan penduduk lebih dari 10 juta orang pada malam hari dan 14,5 juta orang pada siang hari, dia khawatir Jakarta tak dapat menampung para pendatang lagi.

"Tapi kalau tiap tahun terus datang yang baru-baru, makanya ini ke daya beban ke kota. Maaf ya, daya beban kota itu ada batasnya. Suatu ketika dia tidak akan mampu menerima lagi, ada batasnya," ujarnya, di Jakarta, Minggu (25/6/2017).

Dia menceritakan kisah Gubernur Jakarta terdahulu Ali Sadikin untuk mengatur serbuan para pendatang. Mereka diperbolehkan untuk mengadu nasib di Jakarta selama tiga bulan dengan uang jaminan.

Apabila tak memperoleh pekerjaan dalam waktu tiga bulan, mereka dipersilakan untuk pulang ke kampung halaman dengan membawa uang jaminan tersebut.

"Supaya kalau datang ke Jakarta ada keterampilan. Kalau enggak ada, ada uang jaminan dia balik. Itu zaman Pak Ali Sadikin dalam rangka mengatur uang ini," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dki jakarta

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top