Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menakar Sektor Pariwisata Jakarta

Di Jakarta itu palugada, apa yang lo mau, gua ada. Demikian kelakar pemerhati pariwisata Sapta Nirwandar
Miftahul Khoer
Miftahul Khoer - Bisnis.com 11 Juli 2017  |  19:00 WIB
Ondel-ondel - Ilustrasi
Ondel-ondel - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA --Di Jakarta itu palugada, apa yang lo mau, gua ada. Demikian kelakar pemerhati pariwisata Sapta Nirwandar saat 'menceramahi' satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Pemprov DKI Jakarta dan Tim Sinkronisasi Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di Balai Kota, Selasa (11/7).

Sapta menjadi salah satu narasumber yang diundang dalam focus group discussion tentang pariwisata, seni, budaya serta pemuda dan olahraga di Jakarta dalam rangka penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) DKI.

Mantan Wakil Menteri Pariwisata itu yakin betul potensi sektor pariwisata di Jakarta sangat besar seiring tingkat keluar-masuk wisatawan asing dan lokal yang terus meningkat setiap tahunnya.

Data Badan Pusat Statistik dalam dua bulan terakhir menyebutkan kunjungan wisatawan asing yang datang ke Jakarta sebagian besar berasal dari Asia antara lain Tiongkok, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Arab Saudi dan Jepang.

Pada 2016, kunjungan wisatawan asing ke Jakarta mencapai sekitar 2,4 juta orang dari jumlah wisatawan mancanegara secara nasional mencapai 11,52 juta orang. Adapun, devisa pariwisata di Provinsi DKI pada 2016 mencapai US$2,5 miliar dari total perolehan devisa pariwisata nasional US$12,5 miliar.

"Produk domestik regional bruto juga sebagian besar disumbang oleh sektor pariwisata. Jadi Pariwisata DKI harus mulai berbenah," ujarnya kepada Bisnis usai menggelar diskusi tersebut.

Namun, dia mencatat Pemprov DKI terutama pada kepemimpinan Anies-Sandi ke depan harus pandai berinovasi untuk mengembangkan sektor pariwisata di Jakarta baik pariwisata alam maupun heritage.

Kekayaan alam yang dimiliki DKI yakni Kepulauan Seribu diyakini bisa menjadi magnet wisatawan asing dan domestik yang bisa bersaing dengan negara lain. Begitu juga, kata dia, wisata heritage yang ada di kawasan Kota Tua.

"Pekerjaan rumah yang harus segera dilakukan oleh DKI adalah promosi, branding dan peningkat aksesibilitas pariwisata. Itu yang belum saya lihat selama ini," paparnya.

Baca Juga : BPK Lirik Dana Desa

Dia mengatakan untuk promosi pariwisata, DKI harus mulai mengikuti perkembangan teknologi dengan mulai melakukan secara jor-joran promosi sekaligus branding melalui online dan offline.

Promosi dan branding selama ini yakni Enjoy Jakarta! dinilai masih belum maksimal dan belum terlalu menyasar semua kalangan, sehingga wisatawan tidak memeroleh informasi apa-apa tentang wisata di Jakarta.

"Kalau Jakarta mampu mengelola pariwisatanya dengan baik maka tidak menutup kemungkinan wisata alamnya yang ada di Kepulauan Seribu bisa menjadi seperti Maldives," paparnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan DKI Tuty Kusumawati mengakui bahwa sektor pariwisata di Jakarta selama ini belum dikelola secara maksimal terutama dari sisi investasi.

Menurut dia, terdapat aturan yang sepenuhnya belum mendukung menuju perbaikan pengelolaan pariwisata terutama untuk wisata di Kepulauan Seribu yang membuat investor tidak tertarik berinvestasi.

Sebab, kata dia, dalam aturan yang ada sebelumnya yakni Perda No. 1/2014 mengharuskan nilai koefisien dasar bangunan yang diizinkan mencapai 10%-20% atau lebih rendah dibandingkan wisata Maldives yang mencapai 30%-40% yang berdampak wisatanya bisa lebih banyak.

Dengan demikian, saat ini pihaknya tengah mengajukan perbaikan aturan yang ramah investasi melalui Raperda Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) dan Raperda Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta yang bisa menggaet investor pariwisata Jakarta.

"Regulasi yang sebelumnya memang sudah eksisting, tetapi untuk menarik investor tidak bagus. Makanya pembenahan pariwisata juga tidak berjalan dengan baik, karena untuk membenahi Pulau Seribu butuh dukungan modal swasta," katanya.

Namun, dia meyakini dengan disahkannya dua raperda tersebut ke depannya sektor pariwisata di Jakarta terutama Kepulauan Seribu dan wisata Kota Tua bisa menjadi salah satu kontributor utama pemasukan DKI.

"Pariwisata DKI ke depan akan menjadi sektor andalan karena nanti tidak bisa lagi mengandalkan pajak konvensional jakarta. Jadi Jakarta sebagai kota jasa akan jadi peluang terbesar dari pariwisata," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Slamet Rahardjo, seniman dan budayawan meminta Pemprov DKI mampu berinovasi meningkatkan performa pariwisata yang bisa bersinergi dengan para seniman.

"Hotel-hotel dan lokasi tujuan wisata di Jakarta bisa diadakan pertunjukan kesenian dan kebudayaan untuk menggaet wisatawan," paparnya.

Asisten Bidang Perekonomian Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Franky Mangatas Panjaitan mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan SKPD di DKI terkait untuk meningkatkan performa pariwisata Jakarta.

Dia mengakui anggaran untuk promos dan branding pariwisata selama ini tidak maksimal. Oleh karena itu, ke depan pihaknya akan mulai berbenah dan mereformasi pengelolaan wisata di Jakarta.

"Untuk pariwisata, bukan kami tidak berikan promosi, tetapi tahun-tahun lalu memang kami lakukan reformasi di semua bidang sehingga anggarannya kurang maksimal untuk promosi," paparnya.

Sementara itu, Anggota Tim Sinkronisasi Rikrik Rizkiyana mengatakan Anies-Sandi akan serius mengembangkan sektor pariwisata seiring potensi industri tersebut sangat menjanjikan.

Pihaknya mengklaim telah menyusun roadmap pengembangan pariwisata Jakarta salah satunya memberlakukan program OK Otrip yang bisa menjangkau warga pelosok Jakarta untuk bisa menikmati wisata.

"Bukan hanya pariwisata, ekonomi kreatif juga kami akan fokuskan termasuk branding dan promosi pariwisata dan penataan kembalu Kepulauan Seribu," paparnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata jakarta
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top